Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
12. Ke rumah peramal


__ADS_3

Lo gila ya!" teriak Angga dengan keras, saat Jali mengatakan perihal solusi yang ia ajukan.


"Lo yang gila, di kasih solusi bukannya makasih malah ngatain." Jali pun membalas ucapan Angga tak kalah ngegasnya. Jali pikir tidak ada yang salah, kenapa pula Angga semarah itu.


"Lo ya, sengaja mau ngejerumusin gue!" sergah Angga lagi yang tak terima jika Jali terus berbicara seperti itu.


"Diammmm!"


Dani yang tidak tahan akhirnya berteriak, karena selesai bertengkar dengan Nara. Sekarang giliran dengan Jali, dan itu membuat kepalanya sangat pening. Memikirkan mereka, entah siapa yang salah, sampai-sampai dirinya ikut masuk ke dalam masalah inu.


"Lagian temen lo udah gila kali ya, masa iya gue di suruh nikah sama ini banci rasa tulang lunak." Angga beralih menatap Dani namun telunjuknya mengarah pada Nara.


"Lo tahu kagak maksud Jali ngomong begitu?" balas Dani kepada Angga.


Angga menggeleng karena ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Dani baru saja.


"Karena kalian saling mengetahui isi dalam tubuh masing-masing. Makanya Jali menyarankan agar kalian menikah, dengan alasan jika lo dan dia mengetahui hal sensitif yang ada di tubuh lo sampai ke bagian dalam." Jawab Dani, dan dengan dirinya menjelaskan semuanya. Angga dan Nara mau bekerja sama.


"Gak harus menikah juga kan," tolak Angga, sedangkan Nara sedari tadi hanya diam karena dirinya tidak paham apa itu pernikahan.


"Siapa tahu dengan begini jiwa kalian kembali, ke tubuh masing-masing." Jali lantas menimpali dengan harapan jika cara yang ia ambil. Bisa mengembalikan jiwa keduanya, yang selama ini terjebak di tubuh orang lain.


"Enggak, gue sama sekali gak setuju." Angga lagi-lagi menolak secara keras.


"Memangnya ada cara lain?" timpal Jali.


"Gue yakin, pasti ada." Jawab Angga dengan penuh keyakinan.


"Coba, apa yang ingin lo lakukan sekarang. Dengan menolak menikahi itu banci," sahut Dani.


"Mana laptop lo?" tanya Angga pada Dani.


"Buat apa?" kata Dani yang bingung dengan permintaan Angga.

__ADS_1


"Jangan banyak tanya, sekarang mana!" seru Angga dengan rasa tidak sabar.


Akhirnya Dani pun mengambilkan laptop pada Angga, dan untuk saat ini. Bengkel sengaja di liburkan karena Dani dan Jali sudah sepakat, untuk mencari informasi terkait masalah Angga dan juga Nara. Jadi, itu sebabnya mereka mengajak berkumpul di bengkel. Yang kebetulan ada ruangan khusus untuk mereka mendiskusikan sesuatu.


Ketiga orang itu sedang menunggu Angga mengotak-atik laptop. Entah apa yang di cari oleh Angga, karena sebelumnya tidak memberitahu jika digunakan untuk apa.


Beberapa detik kemudian.


Ahaaa.


"Dapat." Seketika orang-orang yang berada di belakangnya terkejut. Kala Angga berteriak kegirangan, entah apa yang didapat hingga Angga merasa senang dan itu membuat Dani, langsung Mengajukan pertanyaan padanya.


"Lo dapat apa sih, sampai segitunya?" tanya Dani dengan kening yang mengkerut.


"Ini nih, coba baca." Angga pun memperlihatkan hasil temuannya yang berada di beranda layar laptop.


"Apa lo yakin," kata Dani nampak meragukan dengan apa yang diperlihatkan oleh Angga.


"Kita coba, siapa tahu berhasil." Jawaban Nara membuat Jali ikut penasaran.


"Peramal." Jawab mereka berdua bersamaan.


"Peramal, maksud kalian bagaimana?" ujar Jali yang masih tidak paham dengan ucapan mereka berdua.


"Apa kita akan bertanya soal nasib kita. Ke peramal yang kamu maksud itu," kata Nara ikut menimpali.


"Pinter, iya gue mau melihat masa depan gue kek apa? Lagian gue sama lo gak mau kan gini terus." Angga menoleh pada Nara, dan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini. Apalagi untuk menikah baginya itu nomor sekian lagipula Angga tidak mau menikah dengan Nara, karena sosok kemayu membuat sedikit risih.


"Barusan gue nemu ini di internet Jal, gue mau orang itu membantu kita buat ngeluarin gue dari tubuh ini." Ketika Angga mengatakan akan hal ini. Sejenak Jali terdiam memikirkan akan ucapan Angga, yang dirasa ada benarnya juga.


"Kapan kita menemui peramal itu?" tanya Jali karena ia merespon ucapan Angga dengan baik, dan itu membuat Angga merasa lega karena tidak harus berdebat lagi.


"Keknya lebih cepat lebih baik deh," sahut Dani.

__ADS_1


"Sekarang." timpal Jali.


"Boleh." Angga menyahuti Jali dengan penuh semangat.


Sekarang, mereka berempat sudah bersiap untuk pergi dan mencari sosok wanita yang seorang peramal. Berharap bisa membantu dan Angga pun sangat antusias karena keluar dari tubuh Angga itu sebagian besar harapannya.


Sebulan sudah jiwa mereka tertukar dengan tubuh berbeda kelamin, meski menempati seorang yang kaya. Itu membuat Nara asli bahagia karena menurutnya, hidup sederhana asal dengan sosok orang yang ia sayangi itu sudah membuatnya sangat bahagia.


Tiga pria dan satu wanita itu. Kini sudah berada di sebuah rumah yang sedikit mengerikan. Terlihat dari depannya saja mereka sudah merinding dibuatnya, karena banyak hiasan yang membuat mata sakit.


"Lo, bener ini alamatnya?" tanya Jali merasa tidak yakin, karena dari luar lebih mirip rumah dukun.


"Iya, gue yakin karena sesuai alamatnya." Jawab Angga.


"Ya sudah kita masuk," ajak Angga pada semuanya.


Namun, belum sempat mereka melangkah maju. Pintu tiba-tiba terbuka secara perlahan dan mulai terlihat kalau ruangan, yang ada di dalam sana sangatlah gelap.


"Aku takut, apa di dalam ada jin nya?" Nara yang mulai ketakutan langsung merangkul tangan Dani, hingga membuat pemilik tangan tersebut risih.


"Iya, di dalam sudah ada jin nya. Udah gitu perawakannya tinggi besar dan seluruh badannya item dan cuma makai se*pak dan mau ambil lo sebagai tumbal," geram Dani pada Nara.


"Aku gak mau, di jadiin tumbal aku pengen hidup dan makan jengkol buatan Emak." jawab Nara, hingga semua orang mendelikkan matanya lebar-lebar. Bukannya nyebut dan diam bisa-bisanya Nara justru hanya ingat dengan makanan, batin semuanya.


"Lama-lama ku kasih sama jin juga lo. Biar gue kaya," kata Angga mencebikkan bibirnya dengan suara kesal.


"Udah ah, jangan mulai berantem lagi." Jali pun mencoba menengahi. Agar tidak terjadi keributan seperti yang sudah-sudah.


Akhirnya keempat orang yang berada di luar. Dengan perlahan melangkah untuk dapat menggapai pintu tersebut.


"Masuklah kalian." Tiba-tiba suara dari dalam mengejutkan mereka. Pasalnya belum sempat mengucapkan kata permisi, sosok penghuni rumah langsung menyambutnya.


Apa sosok itu atau dukun yang mengganti nama dengan peramal? Kenapa bisa menebak jika ada tamu yang berkunjung? Dan menjadikan peramal sebagai kedok dengan nama Dukun, entahlah mereka yang mulai takut, dan tiba-tiba bau pesing penyeruak ke dalam hidung mereka masing-masing.

__ADS_1


"Yang ngompol di larang masuk, dan silahkan keluar." Suara sosok penunggu dari rumah kayu tersebut, lantas memekik keheningan dan pikir mereka kenapa bisa tahu, jika di antara mereka ada yang sedang ngompol.


"Lagian siapa sih yang ngompol?"


__ADS_2