Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
25. dibalik kesusahan pasti ada berkah


__ADS_3

"Apa ini terasa mimpi," kata Angga yang sengaja mencubit lengan Nara.


"Ish … sakit tahu," decak Nara.


"Lantas ini apa, bisa lo jelasin karena semua ini terasa mimpi indah di kala sore telah menjelang." Jawab Nara dengan wajah kebingungan.


"Apa kamu buta dan tidak bisa baca!" sentak Angga, dan itu membuat Nara langsung menghembuskan nafas kasar.


Bukan tidak bisa membaca nominalnya, yang di ingin oleh Nara. Itu uang apa dan darimana? Rasanya aneh tiba-tiba ada uang masuk dengan deretan telur utuh, yang tertera di deretan angka.


"Gue cuma tanya, lo jangan mancing emosi gue deh." Nara yang mulai terpancing dengan ucapan Angga. Semakin tidak sabar untuk segera menyelesaikan apa yang belum diketahuinya.


Sejumlah uang yang berada di tabungannya cukup banyak, hingga membuatnya bertanya-tanya dan dalam pikirannya. Itu semua harus dipertanyakan dan lagipula itukan hal yang wajar. Namun, Angga belum juga berterus terang dengan apa yang terjadi sekarang pada Nara.


"Apa kamu lupa?" kata Angga dengan kedua alis yang terangkat.


"Ingat apa! Gue rasa kalau ini otak masih berfungsi dengan baik," ujar Nara yang tidak terima dibilang lupa ingatan.


"Aku kan pernah ngomong sama kamu tempo hari. Segitu gak pedulinya sampai-sampai lupa dengan apa yang terjadi kemarin," Angga yang berkata panjang lebar. Hanya membuat Nara tak mampu berkata lagi.


"Memangnya kemarin kita sedang bahas apa, ya?" mendengar itu. Angga langsung mendesis bak ular saking kesalnya.


Hufff.


"Kamu inget gak kemarin aku sempat minta uang sama kamu," kata Angga yang menyuruh Nara untuk mengingat-ingat hal yang pernah diminta oleh Angga.


"Astogeee … iya gue sekarang ingat!" Nara pun langsung teringat dan suaranya yang keras hingga membuat Angga langsung memegang kedua telinganya.

__ADS_1


"Iya, aku udah buatin kamu toko. Jadi, kamu gak perlu repot-repot kerja dan cukup awasi karyawan kamu." Jawaban yang didengar oleh Nara. Membuatnya langsung melongo, dan bibir yang menganga karena saking tidak percayanya.


"Bukannya itu masih hitungan hari, kenapa bisa langsung seramai itu? Lalu kamu juga sudah memiliki karyawan." Nara berujar dengan pandangan yang tak teralihkan, dengan sosok Angga yang berada di depannya kini.


"Toko ada di tempat keramaian, tempatnya cukup strategis. Itu memudahkan orang buat mengetahui toko kue yang udah aku bangun," ucap Angga dengan nada biasa, karena menurutnya dirinya perlu mengembangkan lagi usahanya agar semakin dikenal oleh banyak orang.


"Toko itu lo yang bangun bukan gue. Lantas kenapa pendapatannya lo masukin ke kantong gue?" pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari mulut Nara.


"Karena toko itu adalah milik kamu, waktu kemarin saat jiwa aku ada di tubuh kamu. Emang sengaja buat dijadiin ladang pencarian. Aku gak tega kalau lihat Mak harus capek-capek jadi tukang cuci," kata Angga dengan lantang.


"Tidak, gue gak bisa nerima ini karena semuanya bukan milik gue." Nara pun menolak dengan alasan tidak pantas, dibalik itu usaha yang dibangun oleh Angga juga. Bukan biaya darinya dan semua itu dari Angga.


"Nara, aku udah janji, dan itulah salah satu doa ku, yang aku panjatkan. Ini semua demi Emak dan—,"


"Tapi gue gak bisa," potong Nara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu harus bisa, anggap saja semua itu adalah rezeki yang tuhan berikan lewat aku. Ingat! Aku orang kaya," ujar Angga dan seketika membuat Nara membelalakkan netranya.


"Oh ya, sesekali tengoklah toko kamu." Sebelum Angga meninggalkan Nara, ia sempat memperingatkannya untuk menengok tokonya.


"Terimakasih," jawab Nara dengan suara lirih namun dapat didengar oleh Angga.


Setelah pertemuannya dengan Angga. Nara kembali ke rumah. Tidak lupa mengambil uang terlebih dulu untuk diberikan untuk Mak Rohayah.


"Aneh, tadi di rumah gue bisa denger apa yang Mak bicarakan dalam hati, tapi tidak dengan Angga?" sepanjang jalan Nara terus memikirkan tentang kejanggalan yang ada. Kalaupun dirinya bisa mendengar akan isi hati seseorang. Jelas ia juga bisa tahu tentang Angga.


Arghh.

__ADS_1


"Lama-lama bisa gila gue kalau kek gini terus," umpatnya sembari terus melangkah hingga sampailah dirinya berada di mesin ATM, untuk mengambil beberapa lembar uang.


………..


Sedangkan di rumah Angga.


"Angga, kamu yakin ingin ke rumah nenek untuk sementara waktu?" tanya Mama Rena pada Angga.


Yah, setelah kejadian di luar nalar. Angga memutuskan untuk ke kota, karena Angga memutuskan untuk ke rumah neneknya dalam beberapa minggu ke depan.


Alasannya ingin merubah semuanya dari nol, dan mencari jati diri yang sesungguhnya.


"Apa kamu tega membiarkan kita kesepian tanpa kamu," ujar Mama Rena seakan tak ingin anak satu-satunya meninggalkan rumah.


"Ma, Angga ingin mencari jati diri Angga yang sesungguhnya. Mama inginkan kalau aku bisa menjadi seperti yang Ayah mau," ucap Angga dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Baiklah jika itu semua sudah menjadi keputusanmu," kata Mama Rena dengan berat hati, harus membiarkan Angga untuk keluar dari rumah tersebut.


"Mama percaya sama kamu. Semoga apa yang kamu inginkan segera terwujud. Dengan begitu kita akan berkumpul kembali seperti biasanya," tukas Mama Rena.


Meski sedikit alot. Akhirnya Angga juga diberikan ijin dan kedua orang tuanya pun, tidak bisa mencegah keputusan yang sudah Angga buat.


"Semoga, aku bisa apa yang diinginkan orang-orang. Jaga dirimu Nara, karena hari ini adalah hari terakhir kita ketemu." Sembari memasukkan tiap lipatan baju ke dalam tas, Angga mengingat satu persatu sosok yang sudah membantunya, untuk merubah yang seharusnya terjadi.


"Nara, Jali, dan Dani. Kalian teman yang terbaik untuk aku berkeluh kesah, karena selama ini aku tidak punya teman, dan hanya kalian yang mau menerimaku tanpa melihat kekuranganku." Angga bergumam seraya menatap dirinya di pantulan kanca.


Membenarkan rambutnya yang sengaja di poni layaknya perempuan. Menghapus makeup dengan pembersih. Tidak lupa melepaskan jepit rambut yang ia kenakan sekarang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


"Maaf, aku telah membuang kalian. Aku tahu kalian semua tidak ada yang salah, hanya aku yang salah menempatkan diri. Sampai lupa diriku ini siapa," ucap Angga dengan mata yang berkaca-kaca dan siap membuang semuanya yang ia pakai dan simpan.


__ADS_2