
Kejadian tersebut menimbulkan korban jiwa yakni sopir Alfin, sedangkan Sasa dan Alfin koma selama berhari hari serta lupa ingatan tetapi mereka berdua juga mengalami pertukaran jiwaa, tukang ojek yang mengantar Sasa mengalami luka luka dan gagar otak. Sopir truk yang menabrak bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.
Ibu asih selaku ibu tiri Sasa banting tulang sendiri dia membujuk dokter agar Sasa bisa di bawa pulang dan di rawat di rumah. Sedangkan Pak Anjaya dan Ibu Nita selaku orang tua Alfin ingin anak satu satunya di rawat dengan perawatan yang terbaik.
"Dok gimana kondisi kakak saya?" Tanya Dea yang cemas dengan kondisi kakaknya Sasa (Alfin).
"Kakak kamu yang bernama Sasa belum sadar dan masih belum stabil keadaannya" Jelas dokter Fahri kepada Dea sedangkan ibu asih hanya diam dan tak peduli.
"Bisa di bawa pulang dok?"Tanya ibu asih yang ingin Sasa cepat pulang dan segera mencari uang lagi seperti dulu agar dia tak repot lagi gara gara Sasa.
"Buk kan saya sudah bilang keadaannya belum stabil bisa bahaya jika pulang" Jawab dokter Fahri.
"Saya pingin dia cepet pulang dok " saut ibu asih
"buk udah biar kak Sasa stabil dulu"bujuk dea kepada ibu asih.
"Diam ya dea!!"Bentak ibu asih.
Sedangkan orang tua Alfin ibu Nita dan Pak Anjaya meminta kepada dokter agar bertindak yang terbaik bagi anak tunggalnya. Di saat Pak Anjaya ingin bicara kepada dokter ternyata Ibu Asih punya niat buruk bagi keluarga Anjaya.
"Dok tolong beri pengobatan yang terbaik ya "Ucap Pak Anjaya kepada dokter yang masih berbicara dengan ibu Asih.
'Wahh apa ini orang kaya kalo aku bisa dapatin orang ini gak bakalan susah ' Batin ibu asih.
"Baik pak saya usaha sebaik mungkin bagi anak bapak karena itu tugas saya kalo begitu saya permisi dulu"Jawab Dokter Fahri.
"Baik dok terima kasih" ucap Pak Anjaya.
Dokter Fahri pun meninggalkan Pak Anjaya,Ibu Asih dan Dea. Saat Pak Anjaya ingin pergi Ibu Asih mengajak bicara dan membuat Pak Anjaya menoleh kepada Ibu Asih.
"Permisi pak" ucap Bu Asih sambil memegang pergelangan tangan Pak Anjaya yang membuat Pak Anjaya menoleh.
__ADS_1
"Iya kenapa buk?" Tanya Pak Anjaya datar.
"Anak bapak emang sakit apa pak??"Tanya Ibu Asih.
"Kecelakaan buk kenapa?"Ucap Pak Anjaya merasa aneh dengan tingkah Ibu Asih.
"Kecelakaan kemarin itu ya pak?"Tanya Ibu Asih memang dia sudah tau tapi memilih bertanya lagi.
"Iya buk, kalo begitu saya permisi" Jawab Pak Anjaya.
"Bapak namanya siapa kalo boleh tau?"Tanya Ibu Asih penasaran.
"Kenalin Nama saya Wahid Putra Anjaya" Pak Anjaya memperkenalkan diri.
'wah ini kan orang terkaya di kota ini kesempatan nih' Batin Ibu Asih.
"Kalo begitu saya permisi" ucapan Pak Anjaya yang membuat Ibu Asih sadar dari lamunannya.
"iya silahkan pak "jawab Ibu Asih.
'cih.. perempuan setiap liat yang kaya matanya langsung ijo dih untung aku bisa membedakan mana yang bener dan yang bikin puyeng hehe" Batin Pak Anjaya terkekeh dengan kata katanya sendiri.
Pak Anjaya sampai di samping istrinya yang masih menangis dia tau pasti istrinya terpukul karna putra satu satunya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, tentu bagi orang tua itu adalah hal yang sulit untuk melihat anak sendiri terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Mah udah anak kita kuat" ucap Pak Anjaya menenangkan istrinya.
"iya pah mama cuma takut" ucap Ibu Nita.
Pak Anjaya langsung memeluk istrinya untuk menenangkan istrinya "mah nanti kalo Alfin sudah sembuh kita pindah ya ma?" Tanya Pak Anjaya kepada istrinya.
"kenapa emang pa??" Tanya Ibu Nita penasaran.
__ADS_1
"Papa pingin pindah aja mah ini juga kebaikan keluarga kita "Ucap Pak Anjaya.
"iya pa kalo demi kebaikan keluarga"Ibu Nita faham apa yang di maksud suaminya karna dia faham sikap suaminya yang akan menjauhi wanita lain demi keluarganya karna menurut Pak Anjaya keluarga adalah segalanya Pak Anjaya betul betul mengerti wanita yang sering mendekatinya hanya demi harta semata.
'Papa pingin keluarga kita tak terbelah mah, karna menurut Papa semua yang menyangkut keluarga adalah nomor 1 bagi papa" Batin Pak Anjaya.
Sudah hampir lima hari Alfin(Sasa) belum sadarkan diri sedangkan Sasa (Alfin) sudah sadar dan di bawa pulang walau pun kondisinya belum benar benar pulih. Sasa (Alfin) hanya menurut karna dia juga tak tau siapa keluarganya menurutnya mungkin yang membawanya adalah keluarganya. Sasa (Alfin) pulang sekiranya jam 09.15 pagi menuju siang dia sendiri heran dengan sikap Ibunya karna dia merasa Ibu Asih bukan Ibunya karna kasar dengan dirinya.
"Cih... apa seperti ini ibuku mana ada ibu anak lagi sakit bukannya buat anak sembuh malah kayak disel di tempat dangdut berisik wahh puyeng gw mikirin kaya gini" Batin Sasa heran.
Mereka langsung pulang dengan menggunakan angkutan umum yang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Dea memberi tau kamar Sasa kemudian Sasa melihat lihat dan setelah itu Sasa mandi karna Sasa pulang dari rumah sakit belum mandi.
Setelah mandi dia masih bingung apa dia benar benar perempuan atau bukan, dari segi fisik perempuan dari segi jati diri yang paling dalam dia merasa lakik. Dia mau memakai baju tapi sekilas dia melihat badanya dan menatap wajahnya serta luka yang ada di tubunya.
"Hey.. Sasa kenapa tubuh mu ini bekas kaya cambukan kaya gini ih mana mungkin gw di cambuk siapa yang nyambuk gw coba luka di badan gw saat kecelakaan dikit gak banyak banyak amat, ini kaya martabak gini" Gumam Sasa yang menatap bekas luka di badannya.
"Dih... apa ini beneran gw Sasa?? Tapi menurut gw sih bukan gw nih, wajah gw ya lumayan gak buriq buriq amat , apa gw punya cowo nih??? Idih kagk minat gw ama cowo, cewe aja kagak, tapi kenapa gw suka wajah gw sendiri" Ucap Sasa lagi.
Setelah melihat bekas luka Sasa langsung mengambil baju yang ada di lemari di dalam lemari tak ada rok hanya ada celana panjang dan baju lengan panjang yang tak ketat tapi membuat nyaman.
"Widihh salut sama diri gw yang dulu" Gumam Sasa
Sasa langsung mengambil baju dan celana yang akan Sasa pakai hari ini saat Sasa membuka handuk Sasa begumam sendiri lagi.
"Idih punya gw tepos,gw gak mau macem macem ah ngeri sendiri gw sama badan gw" Gumam Sasa lagii dan lagi.
Setelah selesai memakai pakaian , ada yang memanggilnya siapa lagi jika bukan Ibu Asih.
"Sasa bukak ngapain lama lama di kamar hah" Teriak Ibu Asih dari balik pintu.
"Waahh mak lampir gw tu kagak ngerasa punya Mak kaya gini" Gumam Sasa sambil berjalan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Apa ???" Jawab Sasa datar.
***BERSAMBUNG***......