
"Ma-maf aku yang ngompol," ucap Nara dengan suara gemetar dan pada akhirnya mengaku juga, siapa dalang dari keributan untuk sekarang.
"Keluar lo, jangan membuat peramal murka dan ngutuk lo jadi kodok." Jali pun berkata dan menyuruh Nara untuk keluar dari rumah tersebut.
Dengan rasa takut yang berlebihan. Nara keluar dan celana basah oleh air mengalir dari kran yang tidak terlihat dari dalam celananya.
"Ada-ada saja itu anak," gerutu Dani dengan satu helaan nafas.
Beberapa detik kemudian.
"Apa yang membuat kalian datang ke sini?" tanya seseorang yang berada di depan ketiga orang tersebut. Dengan setelan khas peramal tidak lupa kalung sebesar rantai sepeda motor Tiger, dan anting sebesar rodah sepeda pancal. Bibir yang berwarna hitam seperti yang diberi angus. Sorot mata yang tajam setajam mulut tetangga. Membuat Angga, Jali dan juga Dani, di buat takut oleh perempuan tersebut.
"Ka-kami mau jiwa teman saya kembali ke tubuh masing-masing," ujar Jali dengan suara gemetar.
"Panggil saya Madam. Duduklah sungguh kalian tidak sopan, jika berdiri di hadapan orang tua." Madam pun mempersilahkan ketiganya untuk duduk.
Akhirnya semuanya duduk, tapi sayang. Nara tidak ikut masuk karena ulahnya yang ngompol tidak tahu tempat. Maka ia pun di suruh untuk keluar dan tidak di ijinkan untuk masuk.
"Baik, saya sudah tahu. Mana tangan kamu," kata Madam dan meminta Angga untuk mengulurkan tangannya dan segera melihat, ada apa sebenarnya.
"Kamu seorang wanita. Setelah bangun tidur jiwamu berpindah di tubuh lelaki ini, bukan." Madam lantas menerawang Angga dan menjelaskan dirinya seperti apa.
"Lantas saya harus berbuat apa, Madam. Saya ingin secepatnya keluar karena sungguh tidak nyaman berada di tubuh seseorang," ucap Angga penuh dengan permohonan.
"Ada, kalau kamu mau melakukan tiga syarat…."
"Apa syaratnya," sahut Angga antusias, dan dalam pikirannya jika syarat terpenuhi itu tandanya Angga bisa keluar dan kembali ke tubuhnya lagi. Seperti semula dan tidak akan berperan sebagai lelaki lagi.
"Lantas satu orang lagi ke mana? Bukannya kalian datang berempat," kata Madam dengan netra yang menelisik satu persatu. Orang yang ada di depannya dan benar saja jika hanya tiga orang yang menghadapnya sekarang.
"Kan Madam sendiri yang menyuruh untuk keluar," timpal Jali pada Madam.
"Saya lupa, sekarang suruh masuk karena dia juga bersangkutan dengan masalah ini." Madam lantas menyuruh Jali untuk memanggil Nara untuk masuk, dan Jali pun segera berdiri.
__ADS_1
Sesaat kemudian.
Nara sudah masuk, namun semuanya merasa terancam dengan aroma yang di bawa oleh Nara, terlihat Madam sesekali mendesis mungkin saking baunya.
"Kamu itu ya, sudah besar masih saja seperti bayi." Madam mengolok Nara, karena baunya begitu sangat mengganggu hidungnya yang sekarang sedang kembang kempis.
"Ma-maaf Madam, aku khilaf." Jawab Nara sedikit gemetar karena takut melihat wajahnya yang begitu menakutkan.
"Sudahlah," kata Madam yang sekarang mulai berkonsentrasi untuk mencari jawaban, dari masalah yang dialami Nara dan juga Angga.
Madam memejamkan mata, dan entah apa yang ia ucapkan sehingga mulutnya terus berkomat-kamit membaca mantra.
"Lakukan kebaikan, selama satu bulan. Jadilah anak yang patuh dengan orang tua kalian," ujar Madam.
"Lalu, tepat pada saat bulan purnama nanti, kalian datanglah ke pantai usahakan tidak ada pikiran jelek dan rasa benci di hati kalian." Madam pun mencoba memberi penjelasan pada mereka berdua untuk mengikuti saran yang diberikan olehnya.
"Setelah itu, jadilah apa yang sudah Tuhan berikan pada kalian dan memohon mukjizat pada sang pencipta. Bantulah mereka yang membutuhkan pertolongan kalian, itu saja dari Madam." Syarat yang terlihat konyol namun keduanya harus melaksanakan apa yang di sampaikan oleh Madam. Demi jiwa mereka kembali apapun akan dilakukannya.
"Mungkin inilah yang dinamakan kutukan, dan Doa Mak kamu pun terkabul." Saat Madam menerawang lebih jau detail lagi.
"Jadi, kemarin yang gue ucapin bener dong," batin Jali dan juga Dani, karena mereka pikir Mak Rohayah dan juga Ayah dari Angga. Sudah mengutuk anak-anaknya.
"Sekarang kalian pulanglah. Saya sudah tidak tahan dengan bau pesing dari teman kalian itu," ucap Madam dengan hidung yang diapit oleh dua jarinya.
"Baik Madam, kalau begitu saya permisi." Jawab mereka bersamaan.
Akhirnya jawaban dari jiwa mereka yang tertukar sudah ditemukan. Sekarang tinggal Nara maupun Angga yang harus mengikuti perintah dari Madam, untuk melakukan kebaikan selama satu bulan ini.
Menjadi anak yang baik, patuh pada orang tua. Serta harus merubah sifat masing-masing. Itu pun mereka harus bersusah payah dalam melakukannya, agar semua bisa berjalan dengan lancar.
Bulan purnama satu bulan lagi, Nara dan Angga harus bisa menyelesaikan syarat pertama dan kedua. Jika tidak, maka mereka gagal dan jiwa keduanya akan tetap pada tubuh yang bukan pada tempatnya.
"Li, apa gue bisa." Angga menatap Jali, dan setelah itu beralih menatap Dani.
__ADS_1
"Gue yakin, kalau elo bisa. Jadi, berusahalah dan kita akan membantu sebisa kami berdua." Mendengar jawaban dari Jali. Sedikit membuat kelegaan di hati Angga, karena teman-temannya begitu menyayanginya.
Sedangkan Nara yang terlihat murung. Membuat ketiganya bertanya-tanya kenapa, dan ada apa dengan makhluk jadi-jadian itu.
"Lo, kenapa?" Jali pun yang merasa kasihan akhirnya mendekat dan bertanya.
"Aku sedih karena enggak punya teman sebaik kalian," ujar Nara dengan nada lesu nya karena memang selama ini dirinya tidak memiliki teman.
"Lo kan laki, kenapa pula cemen. Harusnya elo buru-buru ngerubah sifat lo yang kemayu itu," ucap Jali mendengus kesal.
Nara diam. Tidak menjawab atau menyela ucapan Jali.
……….
Hari yang sudah sore dan sekarang sudah pukul empat. Angga yang buru-buru masuk rumah karena seharian sudah keluar, dan itu membuatnya sedikit lelah.
Ceklek.
Pada saat Angga membuka pintu.
"Darimana kamu, kelayapan mulu." Suara Mama Rena dari ruang tamu. Langsung menyambut kepulangan Angga.
"Jalan-jalan Ma, bosen di rumah." Jawab Angga.
Mama Rena melongo melihat perubahan Angga, dan baru kali ini wanita itu melihat anaknya. Berada di dunia luar. Yang semula macam ayam bertelur, sekarang Angga baru saja pulang entah darimana.
"Kamu habis kejedot ya, makanya akhir-akhir ini perilaku kamu mencurigakan." Mama Rena semakin merasa jika ada yang sedang ditutupi oleh Angga.
Dari mulai bicara, sikapnya pun berubah. Tidak seperti Angga yang dulu, dan ditambah akhir-akhir ini. Anaknya itu sering keluar tanpa memberi alasan yang jelas.
"Duh, kenapa Mama Rena mirip kek polisi saja sih." Dalam hati Angga mendengus kesal karena merasa sang Mama yang terlalu kepo dengan urusannya.
"Duh, Mama ini sudah mirip kek pak pol saja. Main interogasi aku kan udah gede masa ia ke mana-mana harus laporan," kata Angga dengan hati yang tidak karuan karena terlihat. Mama Rena semakin curiga kepadanya.
__ADS_1