Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Dihantui oleh mimpi


__ADS_3

Keesokan paginya, pukul 05:00.


Nara yang masih terlelap namun, merasa jika semua itu adalah nyata. Sosok wanita yang pernah ia datangi bersama kawan-kawannya beberapa tahun lalu.


Tiba-tiba hadir dan masuk lewat mimpi, terasa aneh namun Nara merasa jika sepertinya kejadian itu terus berulang hingga sampai detik ini.


Kalian akan dipersatukan oleh takdir, dan hidup bersama dengan orang yang dipilih Tuhan untukmu.


Seperti itulah ucapan wanita itu, namun beberapa detik kemudian. Nara terbangun dengan nafas yang memburu.


Hu ... hu ... hu.


"Kenapa mimpi lagi dan mimpi lagi, apa tidak ada mimpi selain sosok wanita itu!" gumam Nara dengan wajah frustasi ia mengusap pelipisnya, karena keringat telah membasahi wajah cantiknya. Meski keadaan bangun tidur sekalipun.


Huff.


Nara merasa jika setelah pertukaran jiwa yang pernah ia alami. Membuatnya hampir gila, sedikitpun tidak ada keinginan untuk mendengar isi hati orang. Lalu kembali hidup seperti yang dulu-dulu, tidak ingin terperangkap dalam mimpi yang membuatnya frustasi, seperti sekarang.

__ADS_1


Entah siapa yang dimaksud dalam mimpinya, sosok lelaki yang akan menjadi jodohnya. Takdir yang sudah di siapkan oleh Tuhan.


"Sudahlah, mungkin semua itu hanya bunga tidur dan ... sebuah mimpi yang kebetulan," ujar Nara yang akhirnya ia memilih bangun dan segera melihat Mak nya di dapur, karena hidungnya sedang mencium aroma wangi dari masakan.


Sesaat.


"Makkk!"


"Ya ampun, Nara! Ngagetin saja kamu mau Mak mu ini terkena setrup."


"Suka-suka Mak, mau setrup kek, mau setruk kek, mau setrika kek. Bodoh amat!" jawab Mak Rohayah sinis.


"Bukannya buruan cari suami, ini malah jam segini baru bangun." Mak Rohaya mendengus dan berucap dalam hati.


Sedangkan Nara mencabik kesal, kala mendengar ocehan Mak Rohaya yang mengumpat anaknya sendiri, meski di dalam hati.


"Bentar lagi calon mantu Mak, datang. Makanya masak yang enak," ujar Nara yang tak tahan dengan kelakuan Mak nya.

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi bahas mantu, Na?" Mak Rohaya merasa heran, karena dirinya sedang tidak membahas calon mantu. Meski dalam hati beliau berharap tapi bagaimana mungkin Nara bisa peka?


"Iya, Mak memang kaga bilang, tapi Mak ngumpat Nara! Tungguin ntar lagi nongol." Ucapan Nara, sukses membuat Mak Rohaya terperangah karena ucapan Nara, seakan menjawab apa yang baru saja dikatakan lewat batin.


"Na, tunggu! Kamu beneran udah ada calon?" dengan sedikit berlari, Mak Rohaya berusaha meminta penjelasan dan bukannya sedang berbohong.


"Beneran Mak, udah Mak lanjutin masak aku mau ke kamar mandi." Setelah menjawab Nara langsung masuk dalam kamar mandi, karena panggilan alam sudah tidak dapat ia tahan.


Sedangkan Mak Rohayah, dengan senyuman yang megembang. Serta wajahnya memancarkan kebahagiaan, buru-buru melanjutkan masak. Beliau sudah tidak sabar untuk menyambut con menantunya.


"Eh, tapi ngomong-ngomong. Siapa ya pacarnya Nara? Apa itu Angga! Lelaki tampan dan juga gemesin karena wajahnya mirip bapak-bapak yang ada di acara TV, yang selalu ia tonton karena wajahnya mirip Le men to." Mak Rohaya layaknya anak muda yang sedang di mabuk asmara, saat mengingat dan menjajarkan Angga dan Artis idolanya.


Nara yang ada di dalam kamar mandi, merasa ada bau yang menyengat, namun bukan ia keluarkan sekarang. Melainkan bau gosong, dan Nara yakin jika ada sesuatu yang tidak beres. Hingga ia pun terpaksa menyudahi acara bertapanya.


"Wah kacau Emak, sepertinya bau-bau tidak beres ini." Nara bergumam seraya membenarkan celana kulot nya. Lalu segera membuka pintu kamar mandi, dan benar saja. Kepulan asap di atas kompor membuat Nara langsung berlari.


Emak!!!

__ADS_1


__ADS_2