
"Apa!"
"Elo kan yang kemarin sempet gue lihat," kata Jali.
"Orang yang kemarin lo lihat ternyata itu Angga." Nara pun ikut menimpali.
"Jadi, lo beneran Angga!" sahut Dani.
"Ada yang beda, lo dulu kan bencong. Sekarang kok jadi macho gini?" tanya Jali dibuat terheran-heran dengan perubahan Angga yang dulu VS, sekarang.
"Orang suparman bisa berubah lha, kenapa aku gak." Jawab santai Angga.
"Enak lagi supermi. Dimakan sama telur," kata Nara.
"Woe ... kenapa kalian malah buat lelucon sih," dengus Dani karena tidak ada keseriusan diantara mereka berlima.
"Hye bro, gimana kabar lo?" Dani pun mendekati Angga dan langsung menyambutnya dengan pelukan sebagai teman.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat. Bahwa aku sekarang seperti ini," ujar Angga menimpali ucapan Dani.
"Sekarang lebih baik kita masuk, dan berbincang di dalam lebih enak." Lantas Jali pun ikut berbicara dan mengajak para temannya untuk masuk ke dalam bengkel.
Mereka pun mengangguk dan mengikuti langkah Dani, dan mereka juga saling melempar candaan sengaja menggoda Angga, karena penampilannya yang keren. Membuat Dani, Jali, dan juga Nara merasa puas akan perubahan itu.
Sedangkan di tempat lain.
"Pa, tadi Angga pamit keluar sebentar. Kenapa sampai sore menjelang belum ada pulang?" saat suami istri berbincang-bincang dengan asik. Mereka lupa jika Angga belum pulang hingga matahari hampir pamit untuk tidur.
"Paling juga dia masih bernostalgia sama teman-temannya," ujar suami Mama Rena.
"Sudahlah Ma, biarkan saja. Kalau anak itu terus-terusan Mama kurung, yang ada nantinya susah dapat mantu," ucap Pak Prabu yang sama sekali tidak membenarkan tindakan sang Istri.
"Iya sih Pa, pengen banget punya mantu dan cucu." Jawab Mama Rena yang terus berpikir jika apa yang dikatakan sang suami ada betulnya.
"Ingat Ma! Angga itu sudah 28 tahun, jadi sudah pantas buat punya pasangan dan memberikan keturunan untuk kita!" kata Pak Prabu dengan wajah serius karena menurutnya ia sudah tua dan butuh penerus perusahaan.
__ADS_1
Gak sabar buat nimang cucu jadinya.
Dengan pikiran yang melayang membayangkan jika Mama Rena sedang menggendong cucu. Ia merasa jika kebahagiannya sudah lengkap karena di tengah-tengah mereka ada malaikat kecil yang sangat imut.
"Ma, Mama kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Pak Prabu, dan sepertinya ucapan beliau tidak di dengar oleh istrinya.
"Ma!" tegur Pak Prabu lagi sedikit keras, karena jika tidak begitu maka Mama Rena tetap dengan khayalannya.
"Papa ini apaan sih," pekik Mama Rena sedikit marah karena hampir saja membuatnya terkena serangan jantung.
"Lagian Mama, kenapa pula harus mirip sama orang gak waras. Pakai senyum-senyum segala, udah gitu kek orang nimang bayi saja." Pak Prabu pun geleng dengan kelakuan istrinya.
"Apa iya, sampai segitunya aku. Saking pengennya punya cucu harus menjadi orang yang sedikit tidak waras," ucap Mama Rena di dalam hatinya karena sebuah ucapan dari Pak Prabu. Hingga membuatnya terus berpikir dengan kelakuannya.
"Terus Mama tadi lagi bayangin apa, kok sampai seperti itu?" tanya ulang Pak Prabu yang ingin mendengar jawaban dari istrinya.
"Anu Pa, tadi Mama ... Mama lagi bayangin—,"
__ADS_1
"Sebentar Ma, sepertinya ada orang yang mengetuk pintu."