Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
22. Ayah Prabu dan Mama Rena salah paham


__ADS_3

"Angga! Darimana kamu?" tegur Ayah Prabu yang melihat Angga yang baru saja memasuki rumah.


"A–yah." Angga langsung berhenti saat suara Ayahnya mengehentikan langkahnya.


"Kamu darimana?" ulang Ayah Prabu lagi.


"Da–dari tempat temen, Yah." Jawab Angga sedikit gugup, tidak seperti biasanya Angga merasa jika sekarang dirinya. Telah diintrogasi oleh orang tuanya. Seperti seorang pencuri yang terpergok oleh pemiliknya, dan itulah yang sekarang dirasakan oleh Angga.


"Angga, duduk." Mama Rena memerintahkan Angga untuk duduk, perasaan mulai tidak nyaman. Telah hinggap di hatinya, karena selama dirinya tinggal. Baru kali ini merasa jika sekarang tengah memasuki ruang sidang.


Angga menurut dan ia pun langsung menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Apa ada yang ingin kalian katakan pada Angga, sampai harus mirip orang yang sedang di sidang." Angga menatap satu persatu sosok yang berada di sisi kiri dan juga di depannya.


"Mama bilang, kalau kamu sedang memanggil nama Nara, dia siapa?" Ayah Prabu akhirnya bicara juga soal yang mana Angga sedang menyebut mana seseorang.


"Mama tidak salah dengar, dan Mama yakin jika kamu tengah menyebut nama 'Nara' benar begitu kan." Mama Rena ikut menimpali, namun belum sempat Angga menjawab. Lagi-lagi keduluan dengan pertanyaan Ayah Prabu lagi.


"Apa dia itu pacar kamu?"


Uhuk.


Uhuk


Seketika Angga tersedak oleh ludahnya sendiri. Bagaimana bisa orang tua Angga bisa berpikir jika Nara itu adalah kekasihnya. Sepertinya Ayah Prabu dan juga Mama Rena tengah salah paham, dengan nama itu.


"Angga! Apa itu benar?" kata Mama Rena menatap putranya dengan sangat dalam. Menanti jawaban yang ingin segera didengar, namun nyatanya Angga masih diam. Dengan apa yang baru saja menimpanya.


"Kenapa mereka bertanya soal Nara, dasar orang tua kepo." Angga mendengus dalam hati, karena pertanyaan mereka.


Hufff.


"Kita gak ada pacaran ataupun melebihi itu, Ma." Jawab Angga sedikit malas.


"Terus kenapa kamu semalam terus memanggil nama 'Nara' kalau gak ada apa-apa. Mana mungkin kamu sampai segitunya," ujar Mama Rena yang masih ngotot, jika mengira mereka berdua ada hubungan.


"Bukan berarti kita ada sesuatu, kan." Angga yang sudah ingin berdiri namun di cegah oleh Mama Rena.

__ADS_1


"Tunggu! Mama kan belum selesai bicara," cegah Mama Rena, dan akhirnya Angga kembali duduk.


"Kalau kamu menghindar itu tandanya iya, kenapa mesti malu buat ngakuin di depan kita." Mama Rena terus mendesak Angga untuk mengaku jika, antara Nara dan Angga telah menjalin hubungan.


"Ma, Angga udah jujur. Kalau memang kita tidak ada hubungan," kata Angga menyakinkan orang tuanya, kalau memang dirinya sedang tidak ada hubungan dengan nama, yang ia sebut kemarin malam.


"Tuh kan Ma, Mama sudah salah paham dengan Angga." Sekarang giliran Ayah Prabu yang angkat bicara, mengenai Angga dan memang betul jika istrinya sudah gagal paham dengan nama tersebut.


Akhirnya Mama Rena berhenti untuk mengintrogasi Angga, dan membiarkan sang anak pergi.


"Ya sudahlah, mungkin Mama yang terlalu bersemangat buat segera dapat calon mantu."


Uhuk.


Uhuk.


Hatchi.


Seketika Ayah Prabu dan Mama Rena menatap Angga.


"Ada apa?" Angga yang bingung memilih langsung bertanya.


"Memangnya ada apa dengan mukaku?" Angga membulatkan mata, dan langsung bertanya balik.


"Tidak, tidak jadi. Naiklah nanti kalau Mama kamu sudah selesai masak, segera turun untuk makan." Ayah Prabu sengaja tidak menjawab dan langsung menyuruh sang anak untuk naik ke lantai dua.


"Ya sudah, kalau begitu Angga ke kamat dulu." Setelah berpamitan, Angga langkahnya meninggalkan Mama dan Ayahnya.


Sepeninggalan Angga. Sekarang giliran Mama Rena dan Ayah Prabu saling pandang, dan tidak lupa kedua bahu yang terangkat.


"Apa kita terlalu ikut campur dalam urusan percintaan anak kita? Sampai-sampai dia gak mau jujur," kata Ayah Prabu menatap Mama Rena dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Mama Rena diam, masih bingung dengan jawaban yang akan diberikannya.


"Sepertinya begitu, tapi apa salahnya kita bertanya? Kita sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik kan untuk anaknya." Mendengar itu, Ayah Prabu diam dan terdengar hembusan nafas, yang di dengar oleh Mama Rena.


…….

__ADS_1


Di sisi lain, Madam yang sedang duduk sembari menghisap rokok, entah mengapa tiba-tiba kepikiran Nara dan Angga.


"Kenapa aku memikirkan mereka ya, semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka." Madam bergumam dengan posisi yang masih sama.


"Mereka anak-anak pilihan, aku yakin jika mereka mampu." Madam berkata lirih, dan itu terdengar oleh sang adik.


"Kakak, sedang berbicara sendiri?" Madam langsung menoleh ke arah sang adik.


Karena Adiknya Madam, sedari tadi melihat gelagat aneh, dari sang Kakak. Hingga memutuskan intuk bertanya ada apa, dan kenapa


Di ruang tamu ini, ada sepasang Adik dan Kakak. Yang sedang menikmati kebersamaan di dinginnya malam.


"Kenapa Kakak bisa seyakin itu?"


"Takdir yang telah memilihnya, dan sebentar lagi nasib akan merubahnya." Jawaban yang terdengar oleh sang Adik, membuatnya langsung terdiam.


"Terserah Kakak, mau meramalkan nasib mereka seperti apa! Yang kutahu sekarang kenapa Kakak nyaman menjadi seorang peramal." Madam menghela nafas karena memang tidak suka melihat sang Kakak menjadi peramal, meski apa yang dikatakannya adalah benar.


"Ingat Kak, kita berdampingan dengan banyak orang. Aku hanya tidak mau orang yang aku sayangi mengalami nasib seperti…,"


"Sudahlah. Yang lalu biarkan berlalu dan tidak perlu kita bahas lagi," sela Madam. Lalu meninggalkan sang Adik yang masih terdiam memandangi sosok yang dengan langkah menuju kamar.


……


Hari ini tepat mereka bertukar jiwa selama sebulan, hari yang mereka nantikan akan segera tiba.


Hari ini mereka berempat bertemu di cafe, untuk membicarakan esok hari. Yah, satu hari lagi mereka akan melangsungkan syarat yang sudah diberikan oleh Madam.


Pantai yang lumayan jauh, dan untuk dapat ke sana. Membutuhkan sekitar dua jam, dan itu sebabnya harus ada yang mengantar kedua orang tersebut, untuk berangkat ke sana.


"Gue bakal nganter kalian ke sana, dan tenang saja. Gue dan Dani sementara akan mencari penginapan. Sampai kalian selesai dalam menyelesaikan misi," ucap Dani panjang lebar.


"Apa gue nggak merepotkan kalian?" Angga menelisik satu persatu dan menatap dengan seksama.


"Kita temenan udah lama. Jangan bicara seperi itu karena bagi kami lo adalah saudara kita," ucap Dani tersenyum.


"Iya kan, Jal." Dani menyenggol lengan Jali.

__ADS_1


"Tentu, dan itu sudah menjadi hal yang mutlak. Tidak bisa diganggu gugat," kata Jali menambahkan.


Sedangkan Nara menatap bangga pada orang-orang yang ada bersamanya sekarang. Begitu beruntung memiliki teman seperti Jali dan juga Dani.


__ADS_2