
Sekarang kita mesti gimana?" tanya Nara pada Angga yang sudah bersiap untuk melakukan syarat terakhir, yang diberikan oleh Madam.
"Lo bodoh, atau memang pura-pura bodoh sih!" sungut Angga dengan nada jengkel, karena menurutnya menjadi seorang laki-laki terlalu lelet.
"Apa yang salah, aku kan bertanya bukannya bertanya-tanya." Jawab Nara dengan mengangkat dahinya.
Ck … ck … ck.
"Lo tinggal cari tempat buat tidur, apa lo juga gak bisa ngelakuin itu!" kata Angga dengan melirik ke arah pasir tersebut.
Ish.
Terdengar Nara tengah mendesis karena lagi-lagi Angga menjawab dengan ucapan yang kerap ia dengar, terlihat judes namun baik hati. Itulah kelebihan Angga, tepatnya Angga palsu.
Yah, mereka sudah berada di pantai dan bersiap untuk melaksanakan syarat terakhir.
Dengan harapan semoga berhasil, dan tidak akan sia-sia dengan segala yang sudah dilakukannya.
Mereka sekarang sudah bersiap untuk tidur dengan cara menatap sang bulan, tidak lupa sebuah permintaan dan doa ia ucapkan dalam hati.
Sekarang sudah pukul delapan malam. Langit terlihat terang, dan bulan pun terlihat bundar terlihat sangat cantik saat mata telanjang tengah memandanginya dari bawah sana.
Sesaat kemudian.
“Tuhan, jika engkau mengembalikan jiwaku pada tubuh aslinya. Aku berjanji akan menjadi seseorang yang patuh, dan aku akan berubah menjadi lebih baik.” Itulah permohonan yang diminta oleh Angga dalan hati, tepatnya sosok Nara yang bersemayam di tubuh Angga saat ini, dan ia juga berjanji menjadi yang Mak nya mau.
“Tuhan, jika kamu mengembalikan ragaku, dan kembali seperti semula. Maka aku, akan berusaha menjadi sosok lelaki sejati,” ucap Nara dalam hati. Doa yang ia harapkan bisa terkabul, pada saat esok hari diwaktu bangun. Tepatnya jiwa Angga yang menempati tubuh Nara.
Akankah jiwa mereka akan kembali seperti semula? Dan bisa menjalani hari-hari yang dulu. Saat keduanya masih dengan keadaan menjadi diri sendiri.
Keduanya tanpa berbicara sama sekali, dan tidak ada ada obrolan untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang. Bagaimana tidak, tidur di pantai dan hanya berdua tak ada satupun orang yang di sana, selain mereka saja.
Sedangkan Dani dan Jali sudah berada di penginapan setelah mengantar, Nara dan Angga untuk menuju ke pantai.
Masih berada di pantai, Angga tidak bisa tidur. Mungkin karena memang dirinya tidur bukan tempat yang seharusnya, tapi tidak juga bertegur sapa dengan Nara. Mereka berdua seperti seorang yang tidak kenal.
Malam semakin larut, dan angin yang berhembus semakin kencang. Hanya terdengar suara deburan ombak, yang membawa airnya air laut menari-nari.
__ADS_1
Sedetik. Angga melihat jam yang berada layar ponselnya, dan benar saja sekarang sudah pukul 11 malam, namun mereka tak kunjung tidur juga karena rasa tidak nyaman akibat tidur di tempat terbuka.
……………..
Keesokan paginya di pantai.
Ughhh.
Suara lenguhan kas orang bangun tidur. Membangunkan orang yang berada di sebelahnya, dan alhasil ikut terbangun juga.
Sstt.
“Bangun.” Nara langsung menoel lengan Angga, meski Angga sudah bangun, tapi tidak dengan nyawanya yang belum terkumpul sempurna.
Hoammm.
Suara Angga yang menguap. Tidak luput dari pendengaran Nara.
“Lo, Lo sudah jadi Angga beneran, dan gue juga berubah jadi Nara asli!” dengan raut wajah yang bahagia. Nara mengatakan akan hal ini pada Angga.
“Apa itu benar?” tanya Angga yang masih tidak percaya dengan kedua tangan, yang berada di pipi.
Yeahh.
Nara berdiri, dan menari-nari di atas pasir yang berada di pantai. Rasa bahagia yang tak terhingga, sampai-sampai ia tidak dapat ingat dengan Angga. Yang berada di belakangnya, karena Nara masih asik dengan jogetannya.
“wahhh … iya, kita kembali menjadi diri kita sendiri.” Akhirnya Angga percaya setelah mencubit lengannya jika, jiwanya telah kembali.
Sekarang Angga ikut menari-nari dan berjoget bersama dengan Nara. Merayakan keberhasilan mereka yang telah mampu. Melewati rintang selama ini, dan banyak juga pelajaran yang mereka dapat. Pada saat jiwa keduanya masih tertukar.
Setelah puas menari-nari mereka duduk di bibir pantai. Menunggu akan terbitnya sang surya di atas sana, namun rupanya masih malu-malu jadi Nara dan Angga. Masih harus sabar untuk menunggunya, karena sekarang masih di jam lima pagi.
Jika Nara dan Angga sedang bercanda di pantai dengan sangat asik, berbeda dengan Dani dan Jali. Mereka sangat takut sekaligus khawatir terhadap nasib mereka berdua.
Bagaimana jiwa mereka tidak kembali.
Bagaimana kalau mereka gagal.
__ADS_1
Itu sungguh menyedihkan bukan, namun Jali dan Dani masih berusaha untuk tetap tenang. Berharap jika keduanya berhasil melewati masa terakhirnya.
“Li, apa kira-kira mereka akan berhasil?” Dani lantas menatap Jali yang sekarang sedang menikmati secangkir kopi.
“Semoga saja.” Hanya itu yang keluar dari mulut Jali, dan melanjutkan menyeruput kopi hitam tersebut.
Dani menghela nafas, sebelum pada akhirnya menyalakan satu batang rokok. Pikirannya hanya tertuju pada Nara, Dani berdoa supaya raganya kembali lagi dan menjadi Nara asli.
“Apa lo masih memikirkan keadaan mereka?” Dani hanya mengangguk saat Jali mengajukan pertanyaan.
“Kita ke sana sekarang.” Mendengar itu, Dani langsung berdiri mengikuti langkah kaki Jali.
Akhirnya mereka berdua langsung menuju ke lokasi, dan berharap setelah ini semuanya aka kembali normal.
Setengah jam kemudian.
Nara, Angga, apa kalian baik-baik saja?” setelah sampai. Dani gegas menghampiri mereka dan langsung bertanya juga, tentang keadaan mereka berdua selama tidur di pantai semalaman.
“Elo, Dan. Gue sama Angga baik-baik saja kok,” jawab Nara dengan diiringi sebuah senyuman kecil.
“Tunggu, lo Nara asli atau palsu. Gue cuma mau memastikannya lagi,” ujar Dani pada Nara.
“Memangnya harapan lo buat gue apa, penasaran boleh lah kalau di kasih tahu.” Nara menyenggol lengan Dani berharap doa yang dipanjatkan, sesuai dengan doa Nara juga.
“Lo kembali menjadi Nara asli,” kata Dani penuh harapan.
“Kalau lo, Dan?” Nara beralih menatap Jali dan harapannya tetap sama, jika doana sama dengan yang ia mau.
“Sama, gue juga pengen lo kembali, dan bisa bekerja bareng-bareng lagi.” Jawab Jali.
Seketika, senyuman Nara mengembang begitu sempurna, layaknya kembang goyang.
“Doa kalian terkabul dan sekarang gue Nara asli, gue seneng banget tau gak.”
Tanpa banyak tanya, Dani dan Jali langsung merangkul Nara dengan rasa penuh haru, karena selama ini tidak sia-sia dalam melakukan dalam segala hal.
“Apa kalian tidak ingin bertanya tentang aku.” Alhasil ketiganya langsung menoleh ke arah Angga.
__ADS_1
“Sini,” Dani melambaikan tangan dan menyuruh Angga untuk mendekat, dan.
Berpelukan layaknya film kartun yang berjudul Teletubbies.