
Pada akhirnya mereka bertiga menikmati makanannya terlebih dulu.
Puas dengan acara makan siang. Dani, Jali dan juga Angga. Mereka bertiga sudah siap untuk kembali ke bengkel. Melanjutkan pekerjaannya dan siapa tahu setelah ini akan kedatangan pelanggan lagi.
Baru saja turun dari motor. Terlihat sosok wanita yang sangat cantik. Dress berwarna pink, dan juga rambut yang digerai. Membuat wanita itu tampil sempurna, namun siapa sangka jika wanita itu mempunyai rahasia besar.
"Itu kan Nara, tumben dia datang tanpa diminta?" Dani menyenggol Jali karena tidak seperti biasa.
"Mungkin dia kangen sama lo, secara tulang lunak itu kan terkintil-****** sama, lo." Dengan diiringi senyuman Jali berbicara, ah tepatnya senyuman yang mengandung ejekan.
"Gila lo, gue normal ya. Lo kira gue gak doyan donat yang tengahnya berlubang, iya kan Ngga." Dani menyenggol Angga dan beberapa detik kemudian.
"Lo ulangi lagi itu kata-kata," sungut Angga dengan wajah yang menakutkan.
"Eng–gak. Itu tadi Jali tanya. Kue apa yang bolong tengahnya, kan bener gue jawab donat." Seketika Angga berubah menjadi lemah lembut lagi dan tidak jadi memangsa Dani dengan kedua taringnya.
"Awas aja lo, kalau sampai itu mulut jalan-jalan ke mana-mana." Angga lalu memperingati Dani, dan lelaki itu hanya bisa tersenyum dengan tangan sedang menggaruk kepalanya, yang dirasa tidak gatal.
"Kalian darimana saja, aku udah ubanan nunggu kalian semua?" Saat ketiganya sudah berada di bengkel Nara pun langsung membuka suara.
"Kami dari makan siang, maaf kalau membuat rambut lo sampai keluar kembang jambunya." Jawab Nara dengan senyuman yang menyingrai pada sosok tersebut.
Bunga jambu itu adalah 'Uban' ya. Biasanya kosa kata tersebut kerap di ucapkan oleh orang jawa.
"Habis mimpi apa, sampai lo ke sini?" sahut Jali.
"Gak boleh ya, aku cuma mau main aja kok." Jawab Nara terlihat dengan wajah lesunya, karena merasa kedatangannya telah di tolak.
"Alah gitu saja ngambek, jadi cowok itu yang tegas kenapa! Jangan lembek kek pisang kukus." Dani juga ikut menimpali dan itu membuat Nara jika mereka, benar-benar tidak menginginkannya di bengkel milik Dani.
"Apa! Mau nangis. Lo jangan cemen jadi laki, gitu saja udah wafer." Ucapan Angga membuat Dani dan jali langsung menatapnya hingga tidak berkedip.
__ADS_1
"Lo kira wafer nissin apa! Itu mah baper Nara, baper. Bukan wafer yang ada di blek di yang pada akhirnya, di jilat, di puter, lalu–."
"Woe … kalian becanda mulu, heran dah gak bisa di ajak serius!" ucap Jali, harusnya ia ikut tertawa karena ucapan Angga yang selalu bisa membuat gagal fokus, tapi … melihat Nara murung akhirnya ia terpaksa menegur Dani.
"Anak orang udah mau mewek. Kalian becanda mulu," imbuh Jali lagi.
Ck … ck.
"Ada apaan sampai lo datang kemari, apa ada yang penting?" setelah mendapat gertakan dari Jali, kini mereka diam sejenak dan langsung bertanya pada Nara.
"Aku tadi ketemu sama Nenek-nenek. Anehnya setelah aku beri makanan, tiba-tiba Nenek itu hilang. Makanya aku kemari siapa tahu pernah ber—,"
"Apa Nenek itu memakai baju brokat kas jaman dahulu, dan rambutnya berwarna putih. Hidung mancung dan kulitnya terlihat masih sehat?"
"Apa kamu juga melihatnya?" tanya Nara pada Angga.
"Iya, gue lihat dan sempat meminta makanan tapi gue kasih duit biar si Nenek beli apa yang dia mau." Jawab Angga.
"Namun, ada satu yang membuat kita antara penasaran dan juga takut." Angga pun ingin mengatakan apa yang sempat dilihat oleh Dani sewaktu tadi, siapa tahu Nara juga melihatnya.
"Eum … apa Nenek itu tidak memakai alas kaki, dan terlihat kakinya tidak menapak di tanah?" seketika itu, Dani terkesiap dengan pernyataan Nara. Ternyata bukan dirinya saja yang melihat. Akan tetapi, Nara juga telah melihat.
"Apa Nenek-nenek itu ada bilang sesuatu?" tanya Angga.
"Iya, dia tahu kalau aku seorang lelaki. Lalu dia juga bilang bahwa jiwa yang sesungguhnya adalah seorang wanita yang baik," jelas Nara.
Semuanya bingung dengan apa yang dilihatnya barusan. Terlihat rumit akan masalah yang mereka tengah hadapi, entah sekarang Angga masuk di dunia apa! Sampai-sampai semua terlihat aneh. Bak novel-novel yang kerap ia baca melalui ponsel pintarnya itu.
"Apa kita datang ke peramal itu lagi. Untuk lebih jelasnya kita bisa bertanya tentang keanehan yang kalian alami," ucap Dani mengusulkan untuk mengajak ke tempat peramal tersebut.
"Apa itu harus?" timpal Angga.
__ADS_1
"Biar kita menemukan titik terang, dan tidak membuat kalian semakin terjebak di dunia yang aneh ini, namun sangat nyata."
"Besok hari jumat, kita ke sana." Dani yakin memang ada yang tidak beres dengan Nara dan juga Angga, jadi ia akan mengajak ke tempat Madam lagi.
"Baiklah, terserah kalian." Jawab Angga yang pasrah.
………
Malam harinya pukul tujuh malam. Angga yang sedari tadi hanya melamun, mengingat akan ucapan Nara. Sewaktu berada di bengkel sore tadi. Merasa jika Nenek itu sengaja menemui Nara, setelah bertemu dengannya.
Argh.
Angga merasa frustasi. Nyatanya sudah hampir dua bulan terjebak dan itu membuatnya sedikit gila.
Sedangkan di luar sana. Melihat sang anak tidak kunjung keluar. Membuat Mama Rena memanggil putranya itu, namun tidak ada sahutan dari sang anak. Mama Rena pikir Angga sedang berada di dalam kamar mandi. Jadilah Mama Rena menunggunya di depan pintu kamar.
Namun, sudah 15 menit, belum juga terdengar suara dari dalam. Dengan terpaksa Mama Rena membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.
"Ke mana anak itu?" Mama bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Angga sedang keluar, namun tidak ada kata pamit? Itulah yang ada di pikirannya sekarang.
Lalu tiba-tiba Mama Rena mengernyitkan dahinya. Saat netra nya tanpa sengaja melihat pemandangan dari arah balkon tersebut.
"Angga, tumben itu anak berdiri di situ?" ujar Mama Rena berbicara. Sembari langkahnya menghampiri putra satu-satunya itu.
"Ngga, kamu ngapain ada di sini?" tegur Mama Rena.
"Eh, Mama." Angga langsung menoleh ke arah wanita yang selama ini di bohonginya. Namun, bukan salahnya juga ia melakukan itu. Semuanya kan bukan atas kehendaknya juga, jika berbohong.
"Kasihan Mama Rena, tanpa disadarinya bahwa gue bukanlah Angga asli." Angga hanya sanggup berbicara dalam hati, karena tidak mungkin kalau harus berkata jujur. Ditambah lagi, jelas tidak akan percaya dengan ucapannya yang dirasa tidak masuk akal, bahkan orang lain pun akan seperti itu.
"Hye, Angga! Kamu kenapa? Jangan membuat Mama takut." Mama Rena terus melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Angga, karena melihat jika sang anak meresponnya.
__ADS_1