Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
31. Selamat dari maut


__ADS_3

Sejenak Nara tidak memikirkan asal bisikan itu, karena ia masih penasaran dengan kejadian barusan. Seperti ada yang menarik tubuhnya dan menghindari mobil tersebut. Hingga kejadian yang berada di depan matanya membuatnya tercengang.


"Sudah siang, dan sepertinya orang-orang itu sudah cukup untuk membantu seseorang yang berada di dalam mobil." Nara berbicara lirih sembari langkahnya berjalan untuk menuju ke arah mobilnya, dengan membawa roti-roti tersebut.


Sekitar setengah jam telah berlalu dan Nara sudah sampai di tokonya.


"Sin, ini buat kalian. Tadi gue gak sengaja lihat bocah jualan itu roti, makanya gue borong." Nara yang baru datang langsung memberikan kantong kresek pada Sinta, dan wanita itupun langsung menerimanya.


"Aku akan memberikannya pada anak-anak Mbak. Barusan juga ada pesanan dessert dan rencana akan diambil siang ini," ucap Sinta yang mengabari jika ada pesanan.


Nara yang mendengar itu bukannya langsung menjawab. Melainkan diam sejenak karena teringat dengan seseorang yang suka membuat Dessert.


"Kenapa gue tiba-tiba ingat sama Angga ya, dia kan suka buat Dessert." Nara yang sedari tadi terus memikirkan soal Angga. Sampai-sampai seseorang tengah memanggilnya pun tidak mendengar.


"Mbak Nara!"


"Ah iya, ada apa?" sedetik Sinta pun menghela nafas dalam-dalam karena ini yang ketiga kalinya ia memanggil baru di respon.


"Mbak ngelamun?" tanya Sinta.


"Si-siapa yang ngelamun. Kamu ngawur deh," jawab Nara yang menyela ucapan Sinta.


"Gak ngelamun tapi kok keringetan pas jawab," ujar Sinta dengan sedikit nada menggoda.


"Kamu apaan sih," sungut Nara yang tidak terima. Namun, kenyataannya memang seperti itu.


"Kamu kenapa? apa ada masalah di dapur. Sampai kamu ke sini?" kata Nara berbicara lagi.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya saja Mbak nara gak mau coba roti ini. Siapa tahu ada yang ingin Mbak sampaikan setelah makan ini roti," terang Sinta dengan menyodorkan satu bungkus roti Bluder dengan isian keju.


"Apa tidak enak rasanya?" tanya balik Nara dengan netra menatap lekat ke arah Sinta.


"Jangan beri komentar sebelum mencoba, nih." Nara yang sudah menerima roti tersebut. Perlahan membukanya dan mengambil sedikit untuk dimakan.


Gigitan pertama Nara merasa ada yang spesial dari roti yang ia makan.


Gigitan kedua pada saat mengigit kejunya yang lumer. Membuat Nara langsung menghabiskan roti tanpa sisa.


"Jadi, bagaimana?" Sinta yang tidak sabar buru-buru bertanya dan ingin segera mendengar kritikan yang diberikan oleh Nara.


"Gue sangat menikmatinya dan rasanya sungguh enak. Tidak sia-sia gue memborong ini roti," ujar Nara dengan tangan mengusap bibir bekas memakan roti.


"Apa ada ide lain selain pujian?" ucap Sinta dan itu membuatnya sedikit bingung karena tidak mengerti dengan omongan Sinta.


"Gini, apa Mbak Nara tidak berniat untuk memajang roti ini di toko."


Sejurus kemudian, Nara baru paham arah percakapannya dengan Sinta.


"Apa itu tidak masalah?" Nara menatap Sinta dengan penuh tanda tanya karena merasa jika itu sangat berlebihan.


Sinta diam, dan sepertinya ia masih berpikir dengan pernyataan Nara, yang baru saja didengarnya.


"Kalau sama-sama menghasilkan kenapa tidak," balas Sinta dengan kedua bahu yang terangkat, menandakan jika tidak akan bermasalah.


"Akan gue coba besok, dengan memborong dagangannya lagi dan kita akan memajangnya. Jika ada yang bertanya bilang saja jika ada seseorang yang menitip," ucap Nara.

__ADS_1


"Baik."


………………..


Sedangkan di tempat lain. Seseorang tengah mengamuk di dalam kamar, karena tidak berhasil untuk mencelakai seseorang yang dianggapnya musuh.


"Dasar bodoh! Kenapa bisa sampai gagal hanya membunuh nyamuk kecil, apa kau juga sudah bosan hidup, huh." Perempuan itu sangat murka pada orang suruhannya karena perintah yang seharusnya dijalankan kini gagal.


"Maaf Bos, saya benar-benar yakin jika sudah tepat sasaran. Hanya saja tidak bisa dipikir secara logika," terang pria itu dan membuat wanita yang berada di hadapannya tertawa kecut karena apa yang dialami orang suruhannya, sangat tidak masuk diakal.


"Terus kau juga bilang bahwa wanita sialan itu punya khodam seperti di film-film. Hahahaha … kau sangat lucu dan aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan," ucap perempuan itu dengan wajah yang diliputi oleh amarah.


"Tapi … saya memang melihat bayangan tengah menyelamatkan wanita itu," ujar pria itu penuh keyakinan.


" Aku tidak mau tahu, secepatnya lenyapkan wanita itu dan aku juga tidak mau kalau kau sampai gagal lagi, paham!"


Pyar.


Prang.


Pyaar.


Wanita itu melempar semua barang yang terbuat dari keramik. Pecahan dimana-mana dan berserakan karena tidak ada lagi tempat pelampiasan selain merusak barang.


"Apa nantinya aku akan selamat, karena sekarang pun nyawaku hampir menjadi korbannya?" batin pria itu.


"Aku yakin jika semua ini memang ada yang tidak beres," gumam lelaki itu lagi.

__ADS_1


"Aku harap kau tak tuli!" seru wanita itu pada orang suruhannya yang ingin seseorang enyah dari hidupnya. Dengan begitu tidak akan ada lagi benalu yang merusak kehidupannya karena merasa jiwa wanita itu, adalah sebuah ancaman baginya.


__ADS_2