Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
27. Sesuatu yang bisa saja terjadi


__ADS_3

Kedua lelaki itu saling bertukar pandang karena Nara bisa tahu, dengan apa yang dikatakan dalam hati mereka masing-masing.


“Kalian kenapa?” tanya Nara dengan wajah sedikit bingung dengan tingkah sahabat-sahabatnya itu.


“Na, ini benar lo kan?” sengaja Jali bertanya seperti itu, untuk memastikan jika yang berada dengannya itu adalah Nara asli.


“Pertanyaan bodoh macam apa ini, apa lo sedang sakit makanya ngelantur.” Nara merasa aneh kenapa wajah keduanya terlihat ketakutan. Kalaupun sedang melihat setan, rasanya tidak mungkin. Masa iya siang-siang ada demit sepertinya tidak meski itu kesasar.


“Jawab saja, ini lo asli apa palsu. Gue gak mau kejadian yang baru saja selesai kini kembali terulang,” timpal Jali yang kebetulan sedikit trauma karena waktunya habis hanya karena masalah Nara, dimana jiwanya yang sempat tertukar.


“Ini gue Nara asli, kenapa sih kalian. Aneh banget deh,” ucap Nara menggelengkan kepala karena merasa jika teman-temannya sedang tidak sehat.


“Masalahnya tebakan lo benar, atau jangan-jangan lo abis ngabdi demit di pohon tomat, ya?”


“Enak saja itu mulut kalau ngomong.” Nara sedikit kesal dengan ucapan Dani barusan. Bisa-bisanya mengira jika dirinya sedang ketempelan makhluk astral, dan menyembah demit.


“Gue juga gak tahu kenapa bisa dengar apa yang kalian katakan di dalam hati,” ucap Nara mencoba menjelaskan dengan kelebihan yang baru saja ia dapatkan.


“Meski begitu gue gak bisa denger ucapan Angga lewat hatinya,” kata Nara menambahkan lagi.


Saat Nara mencoba memberi penjelasan. Keduanya dibuat ternganga dengan yang dikatakan oleh Nara, sungguh beruntung sekali mendapat. Keajaiban seperti itu menurut Dani dan juga Jali.


“Sepertinya lo sedang hoki Na, karena Tuhan sedang memilihmu.” Dani pun berucap dan menepuk pundak Nara, berharap jika Nara bisa menjalankan semua yang sudah Tuhan kehendaki.


“Makasih buat kalian, kalian memang teman-teman gue yang terbaik.” Nara pun memeluk Dani dan Jali bergiliran. Merasa beruntung karena memiliki teman seperti mereka.


…………


Tepat setahun sudah Angga menghilang dan sama sekali tidak ada kabar. Nara yang sempat kehilangan sosok kemayu itu. Perlahan bisa melupakannya meski terkadang dirinya sedikit teringat.


Toko roti peninggalan Angga yang sekarang dijalankan oleh Nara, sekarang sudah ada tiga cabang. Cukup berhasil dengan usaha tersebut, membuat Nara menjadi sosok yang berubah drastis. Tidak seperti satu tahun sebelumnya.


Saat Nara sedang asik di depan laptop. Suara getaran ponsel seketika membuyarkan lamunannya.


Drrrt.


Drrrt.

__ADS_1


"Siapa sih itu," gerutu Nara tanpa menatap ke arah ponsel tersebut..


Drrttt.


Drrttt.


Ponsel kembali berdering hingga membuat Nara harus segera melihatnya.


"Jali," gumam Nara.


Klik.


📲"Halo, ada apa?" Nara segera mengangkat telepon tersebut dan ternyata itu adalah nomor sahabatnya.


📲"Lo sibuk gak?" Jali balik bertanya pada Nara.


📲"Tidak terlalu, memangnya ada apa!" kata Nara di ujung telepon.


📲"Gue mau kenalin lo sama pacar gue, bisa kan lo datang ke cafe xxxx." Jali lantas memberitahu alasannya mengapa menghubunginya.


📲"Kenapa mesti bawa gue," ujar Nara dengan wajah bingung.


📲"Baiklah." Setelah itu ponsel pun dimatikan.


Klik.


"Ada-ada saja itu anak," gumam Nara, yang langsung berdiri dan bersiap-siap untuk menemui Jali di cafe xxxx.


Tidak berselang lama, sampailah Nara di cafe.


Netranya terus mencari keberadaan Jali, hingga pandangannya berhenti tepat di meja dengan urutan nomor lima.


Perlahan langkah kakinya menghampiri Jali, dan nampak sudah ada satu wanita, yang tengah bersama dengan Jali.


"Li," tegur Nara dan keduanya otomatis menoleh.


"Eh Na, kenalin ini Mira, pacarku." Jali pun langsung mengenalkan Nara pada sosok perempuan yang diakui sebagai kekasihnya.

__ADS_1


"Mira."


"Nara." Keduanya langsung berkenalan dan Nara pun duduk tepat di samping kekasihnya Jali.


"Kenapa ada dia di sini sih, ganggu amat." Dalam hati Mirna tengah mengumpat Nara, akan keberadaannya yang di anggap mengganggu, dan itu pun Nara bisa mendengarkannya.


"Sorry ya, kalau gue ganggu kalian." Nara langsung berkata lantang hingga membuat Mirna mengerutkan keningnya.


"Gue kan yang minta lo datang buat ke sini. Jadi, gak ada yang mengganggu." Jali pun langsung menimpali ucapan Nara, karena memang Jali lah yang menyuruh.


"Apaan sih, lebay banget." Mirna lagi-lagi mengumpat Nara, yang merasa jika Jali lebih perhatian daripada dengannya.


"Gue gak nyaman saja, karena gue. Lo gak jadi romantis-romantisan kan," kata Nara dengan sesekali melirik ke arah Mirna.


"Iya, lo gak ganggu kok." Mirna sedari tadi yang diam, sekarang mulai angkat bicara, dan itu membuat Nara berdecak kesal dalam hati, karena merasa jika perempuan itu baik di luar busuk di dalam.


"Tuh kan, Mirna saja kaga keberatan kok, Na." Jali pun setuju dengan ucapan Mirna, padahal ia tahu jika dirinya sedang melupakan sesuatu. Hingga tidak sadar sekarang tengah berhadapan dengan siapa.


"Gue ke kamar mandi dulu ya, kalian ngobrol lah supaya lebih deket." Jali yang hendak pergi ke kamar mandi, berharap jika keduanya bisa saling akrab. Seperti apa yang di mau Jali.


"Eh lo, ngapain sih ganggu gue sama Jali." Setelah kepergian Jali, Mirna mengungkapkan akan kekesalannya pada Nara.


"Cowok lo kan yang maksa, bukan gue. Apa lo masih nyalahin gue," tukas Nara menimpali dengan nada santai.


"Lo kan bisa nolak, gak seharusnya orang kek lo ada di antara kita." Mendengar itu, Nara justru tertawa dan sepertinya perempuan yang ada di sampingnya itu merasa tidak cocok, dengan sahabatnya yang terlalu baik.


"Gue juga kaga mau kalau gak di paksa. Emangnya gue kesenengan dijadikan obat nyamuk sama kalian! Harusnya sekarang gue masih ngurusin kerjaan ya, bukan malah ngurusin lo yang gak penting." Ucapan Nara, seketika membuat Mirna langsung mengepalkan kedua tangannya, karena dianggap sudah berani menghinanya.


"Dasar songong," batin Mirna.


"Sekali lagi lo bilang kalau gue songong, gue gampar lo!" pekik Nara yang merasa jika Mirna sudah sangat keterlaluan.


Harusnya tadi Nara menolak, agar tidak terjadi pertengkaran seperti ini. Namun, nyatanya Jali mengancam tidak mengakui sebagai teman jika Nara berani menolak.


"Siapa yang ngatain lo songong, jangan berani-beraninya berbicara seperti itu, ya."


"Nyatanya lo ngatain gue songong, emang gue gak tahu kebusukan lo sama gue? Lo salah milih lawan sepertinya," kata-kata yang dilontarkan Nara, langsung membuat Mirna kelabakan karena merasa ada yang tidak beres menurutnya.

__ADS_1


Saat keduanya sedang adu argumen, tiba-tiba kedatangan Jali membuat Nara dan Mirna terkejut.


"Kalian bahas apa sih, sampai-sampai muka kalian tegang?"


__ADS_2