Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Bab 4


__ADS_3

"lo gak usah deket deket Sasa dan satu lagi lo jadi pacar gw " Ucap Sindi.


"Bhahahahaha..." Sasa tertawa lepas.


krik...krik..krik..


Al,Sindi dan Yesi hanya saling pandang dan bingung.


"Gila ya lo jadi cewe murah banget nembak cowo hahah" ucap Sasa yang masih tertawa.


"Malu dikit ,lu cewe sis ngapain nembak cowo mana mahkota lo" tambah Sasa.


"lo gak usah ikut campur ya" ucap Yesi tak terima .


"Udah ya ayo Sa pergi gak usah dengerin mereka" ucap Al sambil menarik tangan Sasa lalu meninggalkan Sindi dan Yesi yang masih kesal.


Tak lama bel sekolah berbunyi yang menandakan jam pembelajaran akan di mulai. Para siswa siswi pun masuk ke kelas masing masing untuk memulai pelajaran pagi ini.


Bagi Sasa ini adalah hal baru Sasa tak merasakan jika ini tempat sekolahnya Sasa sendiri merasa asing terhadap tempat tempat di sekitar sekolahnya. Sasa hanya mengikuti kelas dan pembelajaran hari ini dengan khusyuk walau Sasa merasa penglihatannya tidak normal.


Sasa hanya diam dan mendengarkan jika Sasa faham pasti menulis. Sasa terheran dengan teman temannya yang hanya tidur dan melihat tetapi tatapannya kosong.


"Sebenarnya ini sekolah apa kos kosan sih, mana pada tidur ama ngices gitu ih.. Al sendiri malah cuma naroh kepala di meja gitu idih" Batin Sasa selalu di hantui beribu ribu pertanyaan tetapi sesaat Sasa tak memperdulikan mereka.


Pembelajaran dilalui selama 3 jam dan saat yang di tunggu tunggu tiba yakni istirahat untuk mengisi perut mereka masing masing. Begitu juga Sasa, Sasa di ajak Al ke kantin tentu Sasa tak menolak sedikit pun.


Sesampainya di kantin banyak yang melihat mereka berdua karna mereka merasa aneh dengan tingkah Sasa yang sekarang. Sasa yang sekarang cenderung banyak bicara dan tentu tak menunduk seperti dulu karna Sasa yang sekarang menurut mereka lebih seperti lelaki. Di kantin Sasa dan Al langsung mengisi perut mereka dengan memesan soto ayam dan es teh manis.


"Ehh... lo tadi ngapain di kelas ?? kepala di kasih meja lagi" ucap Sasa yang masih menunggu pesanan mereka.


"aku emang kaya gitu kok masa gak tau kita satu kelas sis" jawab Al yang memandang Sasa dengan rasa keheranan.


"Wee gw lupa **** gw gak tau lo kaya gitu" ucap Sasa


"iya ya gw lupa hehe, ehh...maaf ngikut manggil lo gw kan malahan" jawab Al

__ADS_1


"Kagak papa malik pakek kata kaya gitu bae" ucap Sasa sambil melihat pesanan yang datang.


Sasa dan Al langsung memakan makanan yang tadi telah mereka pesan. Setelah makan mereka langsung ke kelas karna bel sekolah telah berbunyi yang menandakan jam istirahat telah habis.


Pukul 14.00 Sasa langsung pulang meninggalkan Al yang masih ngobrol dengan teman lelakinya. Sasa hanya teringat dengan pekerjaannya yang baru kemarin dia mulai. Sesampainya di rumah Sasa langsung mengganti pakian, makanan, dan istirahat sebentar sambil mendengar ocehan ibunya.


"Stres gw kaya gini terus terusan" Batin Sasa.


Setelah itu Sasa langsung bekerja seperti yang kemarin , tentu Sasa pulang jam 07.00 malam setiap hari.


***


Tiga hari berlalu bagi Sasa dan bagi Alfin 7 hari dia baru bangun dari tidurnya. Ibu Nita bersyukur atas semuanya terhadap Yang Kuasa. Alfin sebenarnya juga merasa aneh dengan Ibu Nita dan Pak Anjaya tentu juga dengan tubuhnya. Setelah benar benar sembuh , Alfin (Sasa) di diperbolehkan pulang oleh dokter.


Pak Anjaya langsung membawa istrinya dan anak semata wayanya ke rumah mereka yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya yang dulu. Pak Anjaya juga merasa tak nyaman dengan ke hadiran Ibu Asih yang selalu ke rumah sakit saat istrinya pulang.


"Nak, ini rumah kita semoga betah ya?" Ucap Ibu Nita yang sambil membuka pintu mobil.


Alfin hanya mengangguk faham.


"Ya sudah ayo masuk " ucap Pak Anjaya mengajak keduanya masuk ke rumah.


Sesampainya di kamar tentu Alfin tercengang dan merasa seperti yang pernah rasakan Sasa.


"ini kamar kak Alfin, kalo butuh apa apa panggil ibu ya" ucap Ibu Tia menjelaskan.


"iya terima kasih" ucap Alfin


"Iya kalo begitu ibu permisi dulu " ucap Ibu Tia lalu meninggalkan Alfin setelah di balas anggukan dan tatapan tanpa arti sedikit pun.


Alfin masuk ke kamarnya lagi lagi dia masih berfikir sebenarnya siapa dirinya.


"Siapa sebenarnya aku??? dari foto masa kecil ku aku Alfin laki laki keluarga Anjaya sekaligus anak tunggal , tetapi kenapa hatiku merasa aku perempuan." Batin Alfin


Alfin membaringkan tubuhnya ke ranjang miliknya. Alfin tertidur sampai pukul 15.45 sore karna dia sendiri juga masih bingung walau pun dia tak pernah ambil pusing. Bangun tidur Alfin langsung mandi dan berganti pakaian tapi sebelum memakai kaos Alfin melihat dirinya sendiri di depan cermin.

__ADS_1


"Gak jelek juga aku, tubuhku juga seperti lelaki yang sering berolahraga, hmmm sudahlah jika aku laki laki biar aku melakukan apa sebagai laki laki sebaiknya aku sekarang sholat asar" Batin Alfin, kemudian Alfin memakai kaosnya.


Setelah menunaikan sholat Asar Alfin langsung keluar kamar dan kebawah, Alfin melihat Ibu Nita yang seperti bingung dengan apa yang ia masak. Karna Ibu Tia sedang keluar rumah untuk membeli sesuatu.


"Buk?" panggil Alfin


"ehm.. Alfin tumben panggil ibu? sudah lupakan udah bangun ya?" Tanya Ibu Nita


"emang Alfin sering manggil ibu apa? iya udah" Jawab Alfin


"Memanggilnya mama gitu udah lupakan ayok makan kamu tadi siang belum makan kan"ucap Ibu Asih


Setelah di balas dengan anggukan Alfin makan sendiri , sedangkan Ibu Nita masih menatap Alfin dengan penuh tanda tanya. Setelah makan Alfin langsung membantu ibu nya walau ibu Nita menolak tetapi Alfin memaksa Ibu Nita hingga membuat Ibu Nita mengiyakan kemauan Alfin.


"buk Alfin boleh sekolah lagi?" Ucap Alfin


"Emang udah sembuh kamu?" Tanya Ibu Nita meyakinkan.


"Iya sudah besok sekolah kalo kamu benar benar yakin " Ucap Ibu Nita


"apa bapak setuju?" Tanya Alfin lagi


"Kenapa sekarang Alfin manggil Mas Anjaya dengan sebutan bapak biasanya Papa" Batin Alfin bingung dengan tingkah laku anaknya.


"Nanti biar Mama bilang ke papa ya" ucap Ibu Nita.


Setelah itu malam pun tiba setelah melakukan sholat dan makan malam, Alfin langsung menyiapkan buku yang akan dia bawa besok. Alfin tidur lebih awal dari biasanya karna Alfin sendiri ingin menghemat energinya. Sementara Ibu Nita menunggu suaminya bersama ibu Tia yang sedang ada di dapur. Tak lama Pak Anjaya datang.


"Assalamualaikum," ucap Pak Anjaya sambil menekan bel rumah.


"Waalaikumsalam pah" jawab ibu Nita sambil mencium tangan suaminya.


"Alfin mana mah?" Tanya Pak Anjaya yang celingukan mencari sosok Alfin.


"Alfin di kamar pah, owh.. ya pah nanti mama mau bicara sama papa" ucap ibu Nita yang membuat Pak Anjaya merasa aneh dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


"Apa ma?" Tanya Pak Anjaya penasaran


...BERSAMBUNG ………...


__ADS_2