Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Di jemput Angga


__ADS_3

"Tetap saja kamu itu harus berusaha, kalau kamu pun gak berusaha lantas kapan dapatnya." Mak Rohayah berujar sembari tangannya membereskan piring kotor. Sisa-sisa mereka makan.


"Iya, aku tahu Mak. Akan tetapi, semua butuh proses dan memangnya Mak mau kalau dapatnya yang sesuai." Jawab Nara dengan nada serius.


Setelah obrolan mengenai calon suami, entah kenapa Mak Rohayah tiba-tiba menyebut nama Angga.


"Angga itu lho baik, kenapa gak nikah saja sama dia!"


Dasar Emak. Kenapa pula harus bahas laki lagi sih! Nara terus berpikir jika Emak nya terlalu berobsesi jika Nara harus segera menikah.


"Gak tau apa kalau Emak mu ini pengen cucu," batin Mak Rohayah dan ungkapan lewat hati itu di dengar oleh Nara.


"Asatoge, jadi itu alasan Mak cepet -cepet pengen gue nikah!" batin Nara saat mendengar Mak nya yang sedang berbicara dalam hati.


"Nanti kita bahas lagi ya Mak. Aku mau ke toko dulu," pamit Nara yang tak mau terus meladeni Mak nya.


Nara yang sudah siap untuk berangkat ke toko, namun terdengar suara sepeda motor di depan halaman rumahnya. Lalu ia pun buru-buru untuk melihat siapa orang itu.


Motor siapa itu?

__ADS_1


Nara terus berpikir keras karena tidak pernah mendengar suara motor gede di depan rumahnya.


"Lho itu kan Angga! Ngapain dia pagi-pagi udah nongol di rumah gue?" batin Nara bertanya-tanya karena ternyata Angga lah pemilik motor tersebut.


Setelah Nara sampai di depan rumah. Ia pun langsung menghampiri Angga yang masih duduk di atas motor.


"Angga!" tegur Nara.


"Ah kamu Na, ngagetin saja." Angga sedikit terkejut saat Nara memanggilnya.


"Lagian kenapa melamun?" tanya Nara lalu, meletakkan satu jarinya di dagu.


"Dalam rangka apa nih?" ujar Nara yang heran terhadap Angga, karena tiba-tiba saja datang ke rumahnya dan menjemputnya.


"Memangnya gak boleh," balas Angga dengan muka lesu karena tadi sempat tersenyum namun sekarang pudar karena ucapan Nara.


"Gue kan cuma tanya, jangan sampai lo gue gantung di pohon sawo ya." Dengan nada kesal Nara menjawab ucapan Angga.


"Jangan dong, masa kamu tega mau gantung aku." Dengan wajah dibuat memelas Angga berkata.

__ADS_1


"Gue kaga peduli. Uda sana! Gue mau ke toko," ujar Nara.


"Aku antar ya, sekalian lihat perkembangan toko." Angga pun menawarkan dirinya untuk mengantar Nara ke toko.


Sejenak Nara berpikir sebelum mengiyakan tawaran yang diberikan oleh Angga.


"Eumm ... boleh deh. Yuk cabut," ajak Nara yang langsung naik ke atas motor Angga.


"Gitu kek dari tadi," kata Angga bernafas lega karena Nara ternyata mau di ajak berangkat bersama.


"Na, boleh gak sih aku jatuh cinta sama kamu?" di dalam hati Angga terus menerus mengatakan kalimat tersebut.


Sekarang Angga pria normal, jadi wajar jika punya perasaan seperti itu. Apalagi dirinya tahu semua tentang nara, mulai dari luar hingga ke dalamnya sekaligus.


"Woe ... Lo gak tuli kan, dari tadi gue panggil kaga ada tanggapan!" saking geramnya Nara, Angga yang sedari tadi melamun seketika terhenyak, karena mendapat tepukan di bahu, lumayan keras tapi itu bisa membuat Angga tersadar.


"Ah, eh. Iya ada apa?" Nara seketika menghembuskan nafas kasar karena Angga sama sekali. Tidak menanggapi apa yang sudah Nara bicarakan.


"Menepi, buruan menepi gue bilang!" sedikit berteriak membuat Angga langsung menepikan motornya.

__ADS_1


__ADS_2