Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
14. mimpi yang aneh


__ADS_3

Setelah bertegur sapa dengan Mama Rena. Akhirnya Angga naik ke lantai dua, menuju ke kamarnya dan rasanya ingin segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk untuk beristirahat.


Selang beberapa menit kemudian. Angga pun terlelap dan tiba-tiba.


"Ini ada dimana? Kenapa semua isinya pohon?" Angga yang berada di tengah-tengah lahan yang luas namun terdapat pepohonan saja. Merasa aneh kenapa pula dirinya harus tersesat entah dimana dirinya sekarang. Yang ia tahu jika dirinya seperti berada di film-film horor. Rasanya tidak mungkin jika dirinya bermimpi sampai ke sana? Terasa konyol pikirnya.


Angga celingukan mencari seseorang siapa tahu ada di sekitarnya. Dengan begitu kan dirinya bisa bertanya mengenai keberadaanya ada dimana.


"Tuhan, di sini gue sendirian dan gak ada orang satupun yang gue lihat. Sebenernya ini ada dimana?" Angga terus berbicara sendiri seperti orang gila. Angga bingung harus berbuat apa? Di saat begini tidak ada satu pun orang yang akan dimintai bantuan.


"Tuhan, jika kamu mengembalikan aku pulang. Maka aku Naraya! Berjanji bahwa akan menjadi manusia yang lebih berguna," Terlihat Angga seperti mengatakan akan janjinya jika dirinya bisa kembali, dan berusaha menjadi sosok yang berguna. Hingga Angga merasa sesuatu yang sedang menerpanya. Benar saja terlihat sebuah angin yang begitu besar lalu.


Tiba-tiba angin besar datang.


Aaaaaaah.


Brukh.


Setelah tersapu oleh angin kencang, dan detik itu juga. Pada saat Angga membuka mata, netranya menyapu ke arah sekelilingnya. Sekarang, sekarang bukan lagi ada di lahan yang dipenuhi oleh pohon selayaknya hutan . Melainkan di bukit dengan keindahan sejuta pesona yang dilihatnya.


"Sungguh ciptaan Tuhan yang maha tinggi," ucapnya dengan mulut yang menganga karena akan rasa kagum pada tempat dirinya berada sekarang.


Klak.


Kriett.


Terdengar suara aneh. Angga langsung mencari ke arah sumber suara tersebut, tanpa punya rasa takut sedikitpun.


"Itu suara hewan atau…."


"Tolong … tolong aku," ucap seseorang tengah meminta tolong dan itu tandanya ada orang. Disekitar Angga.


"Iya, itu suara orang bukan hewan. Itu tandanya gue gak sendiri di sini," ujarnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Angga mendengar lagi suara orang meminta tolong dan berusaha untuk mencarinya.


Beberapa detik kemudian.


"Lo! Kok bisa ada di sini?" Angga begitu syok saat melihat siapa orang yang tidak berada jauh dari dirinya berada.


"Iya, aku juga gak tahu. Tiba-tiba udah ada di sini," Kata sosok seseorang itu. Yang tidak lain adalah Nara dan entah ini semua sengaja atau memang hanya kebetulan.


"Benar-benar alam sedang ngajak gue becanda nih. Dikira gue kaga ada kerjaan apa! Sampai-sampai Tuhan ngajak gue jalan-jalan sampai-sampai. Berada di tempat yang gak gue kenal," ucapnya berbicara sendiri. Sedangkan Nara menatap aneh ke arah wajah Angga.


"Lo, tersesat di sini, dan apa sebelumya lo lagi tidur tadi?" Angga yang baru saja ingat. Memutuskan untuk segera bertanya pada Nara, yang terlihat ngos-ngosan.


"Iya, aku tadi sempat istirahat dan baru saja beberapa detik. Tahunya udah ada di sini dan aku juga tidak tahu ini tempat apa," kata Nara menatap ke arah Angga dengan amat lekat.


"Berarti kita sama, Tuhan sedang ngajakin main petak umpet keknya." Angga yang tengah dilanda takut sama halnya dengan Nara. Mencoba menghibur diri sembari memikirkan jalan keluar, agar bisa pergi dari tempat yang indah namun sunyi. Tidak ada burung, atau hanya lebah yang hinggap di bunga tersebut.


Tepatnya kesunyian yang tertutup oleh keindahan, dan menyimpan sejuta misteri. Itulah sebutan yang cocok dari tempat ini.


"Siapapun penghuni yang ada di sini tolong … keluar dan tunjukan wujud kalian!!" teriak Angga yang tidak lagi mampu menahan diri, karena yang ia butuhkan hanya ingin pulang karena tidak mau tersesat walau sekedar di alam mimpi.


"Hye lo itu kalau bodoh ya bodoh saja. Jangan bawa-bawa gue! Mana ada yang berhasil tanpa usaha," sungut Angga pada Nara, lalu menatap tajam ke arahnya karena merasa muak dengan pria jadi-jadian yang berada di sampingnya kini.


Nara diam, Nara tidak menjawab ocehan Angga. Membiarkan melakukan apa yang ingi dilakukannya.


Namun, pada saat Angga menyerah untuk meminta bantuan. Sebuah cahaya dari ujung sana. Terlihat semakin dekat dan lebih dekat lagi, entah itu sebuah cahaya apa? Keduanya pun hanya saling pandang.


"Itu cahaya apa, ya?" tanya Nara berulang dan Angga tidak menanggapinya sama sekali, karena netra nya masih terfokus pada lingkaran cahaya yang semakin besar itu.


"Jadilah orang yang bermanfaat."


Slepp.


Hu … hu … hu.

__ADS_1


"Mimpi apa lagi ini?" Angga terbangun dengan keringat yang bercucuran.


"Apa maksud ucapan sosok dari balik cahaya itu? 'Jadilah sosok yang bermanfaat' sungguh gue masih bingung," gumam Angga karena dirinya tidak tahu apa maksud dari ucapan tersebut.


Angga yang merasa haus akhirnya memilih untuk bangun, dan segera turun.


Terlihat dari bawah, orang tuanya tengah duduk sembari bercanda ria. Tidak lupa stoples cemilan sebagai teman mereka. Melihat itu hati Angga perih karena selama ini dirinya tidak pernah merasakan sentuhan, kasih sayang oleh Ayahnya. Entah ke mana Ayahnya pergi dan yang pasti sosok itu masih hidup kata Emak nya.


Angga sedikit mengacukan akan pandangan tersebut. Namun, Ayah Prabu memanggilnya.


"Angga!" panggil sang Ayah.


"Iya, Yah." Lantas Angga berhenti setelah mendengar panggilan tersebut.


"Di kulkas tumben gak ada kue, biasanya juga kamu rajin buat?" kata Pak Prabu yang menanyakan kenapa di rumah ini tidak ada lagi kue, yang selalu Angga buat.


"Mampus gue," gumam Angga.


"Ngga, kamu kenapa?" tanya Ayahnya lagi.


"Ti-tidak ada apa-apa kok Yah, nanti deh Angga buatkan." Angga terpaksa berbohong dan entah bagaimana caranya agar di rumah ini ada kue.


"Tentu dong, Ayah kangen sama dessert buatan kamu." Ucapan Ayah Prabu membuat Angga semakin pusing. Belum terpecahkan soal mimpinya tadi, sekarang orang tuanya meminta kue buatannya.


"Jangankan buat kue, orang masak saja gak bisa." Angga merutuki kebodohannya yang tidak bisa memasak ataupun membuat kue.


Namun, disamping itu ada hal yang ingin ia kerjaan dan dirinya juga akan menemui Jali nanti.


"Ya sudah, Angga mau ke dapur dulu ambil minum." Angga lantas berpamitan dengan orang tuanya, dan langsung berjalan ke arah dapur karena tenggorokannya semakin kering.


………


Di tempat lain, Nara yang terbangun dengan keringat bercucuran.

__ADS_1


"Berasa nyata, ih ngeri amat ya. Untung aku masih nafas," ujar Nara dengan sesekali menghirup udara dan menghembuskannya perlahan.


__ADS_2