
"Aku Angga! Apa kamu lupa."
Sleppp.
"Apa Angga?" batin Nara yang tak bisa mempercayainya.
Bukankah sosok Angga itu sedikit kemayu, dan jepit kesayangannya akan selalu betenger di rambutnya? Tapi ini, ini sama sekali tidak sama dengan Angga yang dulu. Walau ada sedikit kemiripan dari wajahnya.
Nara yang tak bisa menyumbunyikan rasa penasarannya memilih mendekat untuk memastikan, dan ia pun baru ingat jika di tubuh pria yang mengaku sebagai 'Angga'. Ada tahi lalatnya, berarti itu benar adalah Angga.
"Eits … mau apa kamu!" seru pria itu.
"Hanya memastikan jika bener lo Angga, maka di lengan lo ada tahi lalatnya yang lumayan gede." Nara berujar sembari terus mendekat ke tubuh pria tersebut. Guna mencari bukti jika benar adanya.
"Tunggu sebentar, bagaimana kamu tahu!" tanya pria tersebut yang merasa heran kenapa tahu jika di lengannya ada tahi lalat.
Pletak.
"Auh … kau menyakitiku, Nara!" rintih orang itu.
"Jangan-jangan lo mau bohongin gue, ya. Lo lupa kalau gue dan Angga pernah berpindah jiwa," ujar Nara menjelaskan.
Hehehe.
__ADS_1
"Maaf, itukan tiga tahun lalu. Pantaslah kalau aku lupa," kata pria yang mengaku sebagai Angga.
"Sekarang buka, jika ada maka gue bisa percaya kalau lo itu Angga!" ucap Nara yang tak sabar untuk segera ingin tahu.
Beberapa saat kemudian.
"Ja-di, lo beneran Angga!" tukas Nara dengan suara gugup.
"Kan tadi sudah aku jelaskan," jawab orang itu, dan ternyata benar jika dia Angga. Tahi lalat yang ada di lengannya sama persis dengan apa yang pernah dilihat dulu.
"Karena wajah lo beda, jadi manusiawi dong." Mendengar tanggapan Nara, membuat Angga berdecak.
"Terus lo kok tiba-tiba jadi tampan," kata Nara dengan memainkan dua alisnya.
"Mana ada, lo gak ingat ya. Di rumah lo penuh dengan Cd, dan juga Bra. Terus jepit lo berjejer," terang Nara dengan memainkan ujung bibirnya.
"Kamu ya, main buka kartu orang saja." Angga mendengus kesal karena Nara terus saja mengungkit masa lalunya yang begitu suram.
"Lho kenapa lo kesel. Itu semua kan berdasarkan fakta," ucap Nara.
"Ah, serah kamu lha."
"Ngomong-ngomong kabar kamu bagaimana?" tanya Angga.
__ADS_1
Nara yang mendengar pertanyaan itu. Menghela nafas. Lalu berjalan ke arah kursi yang terdapat di luar.
Hmmmm.
"Kabar gue baik, seperti yang lo lihat." Nara mengangkat kedua tangannya tanda bahwa dirinya amat baik, dan jauh lebih baik.
Keadaan sedikit hening, keduanya hanya saling diam. Entah mengapa Nara merasa jika pertemuannya dengan Angga kali ini sedikit berbeda membuatnya sedikit gugup.
Sama halnya dengan Angga. Angga pun merasa kalau sekarang keadaan tidak seperti tadi.
Ekhem. Angga berdehem untuk mencairkan suasana yang sebelumnya sedikit beku.
"Na, apa kamu sibuk?" Angga bertanya dengan menatap wajah Nara berharap perempuan itu bersedia.
"Emhhh … boleh, hari ini tidak ada jadwal juga." Nara pun menjawab dengan kembali menatap lawan bicaranya.
Saat keduanya saling beradu pandang, detak jantung mereka berdua seperti pacuan kuda yang sedang lomba. Entah kenapa bisa terjadi yang jelas hanya mereka berdua yang tahu.
"Ini jantung gue, jantung gue kenapa jadi maraton ya dedaknya?" Nara hanya bisa bergumam dalam hati lalu, memegang dadanya yang semakin menit semakin menjadi.
"Jantungku kenapa bisa dag, dig, dug ya. Lalu wajahnya, wajah seperti ada di dalam mimpiku?" dalam hati Angga bertanya-tanta karena wajah Nara seperti sosok perempuan yang datang lewat mimpi.
Saat mata mereka masih saling pandang dan saling berucap lewat hati, tiba-tiba.
__ADS_1
"Hey … apa yang kalian lakukan!"