Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Perdebatan masih berlanjut


__ADS_3

Dengan harti yang dongkol, namun Nara tetap berusaha untuk tetap baik-baik saja.


setelah itu. Pintu di dorong oleh Angga, dan seperti melihat sesuatu yang luar biasa.


Sinta dan para karyawan lain. Menatap bos nya itu penuh dengan rasa kagum, karena bukan hanya dalam TV, saja.


Adegan yang tak pernah dilihat oleh orang-orang. Sekarang pun terlihat, oleh mata telanjang mereka.


"Pagi, Bu Nara!"


Sontak Nara langsung turun, karena marasa malu dan anehnya. Nara baru menyadari akan hal itu.


Brukh.


Auh.


Nara yang sudah terkapar di lantai. Meringis menahan sakit pada kakinya, akibat ulah wanita gila sewaktu tadi.


"Nara, kenapa kamu turun. Apa kamu berniat ingin menyakiti badan kamu lagi?" tukas Angga.


Pletak.


Tanpa banyak bicara, Nara langsung memukul jidat Angga, pada saat lelaki itu berjongkok.


Malu, itulah yang dirasakan oleh Nara.


"Nara, Na. Tunggu!"


Nara yang sudah terlanjur kesal, dengan hati yang dongkol. Lantas ia pun langsung naik ke atas dimana ruangannya berada.

__ADS_1


Angga masih mengejar Nara di lantai dua. Sedangkan Sinta dan tiga empat karyawannya sekarang sedang bisik-bisik tetangga.


"Mbak Sinta apa itu kekasihnya Bu Nara! Kami baru lihat sekarang jika Bu Nara bukan lagi perawan tua," ujar salah satu karyawannya Nara.


"Hust ... kalau kedengaran orangnya bisa di pecat kamu," kata Sinta memperingati agar tidak bicara sembarangan.


"Eh, tunggu. Yang kamu bilang itu ada benarnya juga sih," imbuh Sinta lagi.


Yeaaah.


Semua anak bersorak karena ujungnya Sinta membenarkan apa yang dikatakan oleh temannya itu.


Mereka berlima sedang membicarakan Nara di bawah. Sedangkan Nara dan Angga masih saja berdebat meski semua itu, hanyalah masalah sepele.


"Na, kamu kenapa sih. Dari tadi aku kamu omeli terus," kata Angga protes karena sedari tadi merasa jika dirinya terus mendapat omelan bak sambel mercon.


"Memangnya kenapa kalau terlihat seperti orang pacaran—."


"Apa kamu bilang!"


Duh, mampus.


"Ternyata ini orang denger pula," batin Angga.


"Bilang apaan sih memangnya?" tanya Angga berpura-pura.


"Apa lo pikir gue tuli," kata Nara dengan bola mata yang membulat sempurna.


"Kalau kamu gak tuli, berarti aku gak akan ngasih tahu kamu dong. Soalnya kamu kan sudah denga—,"

__ADS_1


"Lo bener-bener minta di gantung ya, sini lo gue cekik tahu rasa lo!"


"Ampu Na, sakit ... ampun!"


Nara yang saking gregetnya, tanpa banyak kata. Langsung saja menjewer telinga Angga hingga sang pemilik meronta meminta dilepaskan.


.............


Sedangkan di tempat lain.


Mirna yang sedang duduk, sembari menikmati segelas jus. Tiba-tiba saja pikirannya tengah melayang, memikirkan sosok lelaki yang sempat, saat ia lihat bersama musuhnya.


Dengan senyuman penuh kelicikan. Mirna sudah menyiapkan rencana, karena apa yang ia mau harus bisa di dapatkan. Walau itu harus merampas sekalipun.


"Lihat saja, kamu pasti akan jatuh di pelukanku. Apa yang aku mau harus berada di genggamanku," ujar Mirna dengan tangan seakan-akan tengah meremas sebuah kertas.


.............


Temen-temen. Novel ini mendekati tamat. Terimakasih sudah mau memberi dukungan sama othor ya.


Oh ya, sekalian mau kenalin buku baru dan semoga ada yang mau dukung lagi.



Menceritakan tentang gadis yang bernama Khansa, acara sudah dimulai dan pengantin pria tidak kunjung datang. Lalu sang Ayah yang bernama Santoso akhirnya meminta salah satu undangan untuk menggantikan peran sebagai pengantin pria.


Akankah mereka akan bahagia dengan pernikahan paksa yang mereka jalani selama ini.


Yuk kepoin dengan judul Lihat aku Istriku.

__ADS_1


__ADS_2