Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Tragedi ikan gosong


__ADS_3

Mendengar teriakan Nara. Mak Rohayah langsung tersadar dari lamunannya.


"Mak!" ulang Nara lagi.


"Ada apa sih, Na!" rupanya Mak Rohayah belum sadar dengan apa yang terjadi sekarang.


"Mak, wajan Mak gosong!" seru Nara.


Seketika Mak Rohayah terperanjat dari tempat duduknya, karena sangat terkejut. Bodohnya lagi, Mak Rohayah sama sekali tidak menyadari akan adanya bau gosong itu.


"Duh, kenapa jadi berubah warna gini sih ikannya." Mak Rohayah mendengus kesal lantaran ikan nila yang ia goreng. Menjadi warna yang tidak biasa.


"Kenapa Mak, ikannya berubah jadi satria baja hitam ya?" ujar Nara terkikik geli melihat reaksi Mak nya, yang menatap sendu ke arah wajan tersebut.


"Iya Na, jadi satria baja hitam. Sayangnya gak bisa gelut, atau terbang." Jawab Mak Rohayah dengan wajah tertekuk layaknya kanebo kering.


Bagaimana tidak dijuluki satria baja hita. Ikan nila yang di goreng matangnya sungguh berlebihan hingga berubah warna menjadi hita. Hingga tidak dapat dikenali identitasnya.


"Lagian ngelamun kan, jadinya gosong. Kasih kucing pun pasti dia ogah," ucap Nara yang sangat menyayangkan karena Mak Rohaya tidak fokus masak.


"Ya elah, udah ikan jadi angus. masih saja kena omel," batin Mak Rohayah.

__ADS_1


"Mak, aku kaga ngomel ya. Lagian bisa-bisanya pikiran Mak bertamasya," ujar Nara seakan semua itu adalah jawaban dari umpatan Mak Rohayah di hatinya.


"Ini semua gara-gara Le Min To, makanya gak fokus masak." Lagi-lagi Mak Rohayah hanya mampu berucap dalam hati.


Sedangkan Nara sejenak berpikir, siapa itu Le Min To. Ia baru tahu nama itu dan rasanya tidak mungkin Nara bertanya, yang ada Mak nya bakal mikir yang tidak-tidak karena kelebihan Nara, yang bisa mendengar akan isi hati orang.


"Sudahlah Mak, jangan di sesali. Semua itu sudah terjadi dan relakan ikannya," ujar Nara dengan kata-kata bijak.


"Apa kamu kira aku gila, menangisi ikan hangus. Layaknya seseorang yang sedang patah hati!" dengus Mak Rohayah menatap sinis ke arah Nara.


"Lha itu buktinya, ingus Mak mau jatuh." Jawaban Nara justru membuat Mak Rohayah semakin kesal.


"Ampunn ... Mak, kaburr!"


Tidak mau membuat masalah dengan Mak Rohayah. Nara memilih melarikan diri dan langsung masuk ke kamarnya.


...........


Beberapa menit kemudian.


Nara sudah rapi dan juga sudah siap untuk berangkat ke toko. Sekarang, Nara dan juga Mak Rohaya berada di meja makan dengan ikan seadanya. Ikan yang sempat tadi pagi dibeli berubah warna hingga dibuang ke tong sampah.

__ADS_1


"Na, katanya pacar kamu mau ke sini, kapan?"


"Dasar Emak, masih ingat saja kalau gue udah menjanjikan kalau bakal ada yang mau ke sini." Nara tidak menjawab ia hanya bisa berucap dalam hati, karena dirinya tidak membuat janji pada siapapun. Lantas mana mungkin tiba-tiba ada orang datang.


Pagi yang apes.


Nara terus berpikir bagaimana caranya mengelabuhi Emaknya supaya melupakan, apa yang dikatakannya pagi tadi.


"Na, kamu tidak bohong kan!" Mak Rohayah lantas mengulang panggilan lagi pada Nara, dan mempertanyakan lagi. Tentang sosok yang dikatakan oleh sang anak.


Sayangnya, belum sempat Nara menjawab. Sebuah ketukan sedikit bisa menyelamatkan hidup Nara, dari amukan Mak Rohayah.


Tok.


Tok.


Tok.


"Na, siapa itu?"


"Biar aku lihat, Mak."

__ADS_1


__ADS_2