Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Salah paham.


__ADS_3

📲"Kamu ada di mana? Dari tadi gue cari di toko katanya sudah pulang. Lalu gue cari di rumah katanya lo lagi sama calon suami lo, apa itu benar."


"Ini pasti kelakuan Mak, dasar Mak sengaja sepertinya. Orang pacaran kagak, kok bilangnya sama calon suami." Di dalam hati Nara terus mengoceh, kenapa pula Mak nya harus bicara seperti itu pada Jali.


Ada apa dengan Nara? Pikir Angga.


📲"Na, lo masih hidup, kan?" tanya Jali di sebrang telepon.


"Na, kamu kenapa?"


"Ah, iya tidak—."


📲"Na, jadi lo bener sama calon suami lo."


Sekarang Nara merasa jika dirinya berada di antara dua apitan. Tidak bisa bergerak karena yang satu bertanya , dan yang satunya bertanya juga untuk mendengar pembenaran tentang ucapan Mak Rohayah.


"Duh, kenapa gue jadi puyeng gini sih!" gerutu Nara karena benar-benar bingung.


📲"Lo sekarang ada di mana?" tanya Nara, karena jalan satu-satunya adalah bertemu dan mengklarifikasi agar tidak ada yang salah paham.


📲"Gue ada di bengkel—,"


📲"Gue ke sana."


Tut tut tut.


Tidak ingin membuang waktu. Nara langsung mematikan ponselnya, dan akan segera pergi menuju ke bengkel.

__ADS_1


"Sorry ya, itu tadi Jali dan sempet salah paham sama gue." Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku. Lantas Nara berbicara pada Angga perihal telepon tadi.


"Tidak apa-apa kok." Jawab Angga.


Perubahan yang hampir sempurna, dan Nara merasa jika itu bukanlah sosok Angga karena berbeda jauh dari tiga tahun lalu. Dimana Angga yang dulu centil, sok imut dan sok cantik, ditambah teramat cerewet. Mengalahkan Mak-mak yang tidak mendapatkan uang bulanan, namun sekarang. Sekarang Angga menjadi sosok pendiam dan penuh dengan wibawa, wajahnya yang cool penuh dengan karismatik. Membuat semua kaum hawa akan jatuh hati.


"Angga, antar gue ke bengkel, ya!" pinta Nara pada Angga yang kebetulan memang sekarang sekarang sedang membawa motor Angga.


"Baiklah, yuk." Angga pun mengiyakan dan mengajak Nara untuk segera berangkat.


"Makasih sebelumnya," ucap Nara karena merasa sedikit bersalah pada Angga.


"Sudahlah, ayo."


Sekitar 40 menit, mereka baru saja sampai di bengkel milik Dani.


Melihat sebuah motor gede dan terlihat Nara yang tidak memakai helm. Jadi, Dani dan Jali langsung menghampiri ke depan.


"Kalau gue tahu. Gue gak akan nyamperin itu anak!" dengus Jali sedikit kesal dengan pertanyaan Dani.


"Ya siapa tahu lo mengenal. Gue kan cuma bertanya bukannya bertanya-tanya," ucap Dani lalu melirik untuk sesaat dan kembali berjalan agar sampai di luar.


Ckckck!


Jali yang berdecak memilih berjalan terlebih dulu karena, jika terus beriringan dengan Dani. Yang ada otaknya ikut sinting.


Di luar.

__ADS_1


"Kalian tumben nyambut gue, dan biasanya juga gue yang masuk duluan!" kata Nara sedikit mengeluhkan perbedaan dari yang biasanya dan sekarang.


"Kenapa jadi elo yang protes. Harusnya kan gue, karena dari tadi muter-muter ternyata lo sama cowok lai, lagi asik jalan." Seketika Nara menghembuskan nafasnya dalam-dalam agar tidak menjadikannya emosi hanya karena ucapan Jali, yang seperti ayam kecil di tinggal induknya.


"Terus itu laki siapa? Mentang-mentang punya gebetan kita berdua dilupain," cercah mereka dua pada Nara.


"Iya, sepertinya Nara—."


"Kalian bisa diam tidak! Dari tadi ngoceh mulu. Gak capek itu mulut," geram Nara yang langsung menghentikan cibiran Dani dan juga Jali.


"Asal kalian tahu ya. Gue itu kaga sama tunangan atau pacar gue, dan lagian kenapa juga harus percaya dengan yang dibilang Mak sih," sungut Nara yang sudah tidak tahan dengan ocehan temannya-temannya.


Harusnya Jali dan Dani tahu jika Nara sibuk, tapi kenapa juga harus beranggapan jika Nara melupakannya. Semua itu hal yang terkonyol yang pernah ia dengar.


"Bukti sudah ada di depan mata," kata Dani.


"Iya, dan sekarang pun lo sama calon suami lo juga. Tega bener sama kita berdua karena mentang-mentang laku kita tersisih," sahut Jali yang merasa jika kedudukannya sudah tersisih.


Gini amat ya, punya teman tapi gob*loknya minta ampun? pikir Nara dengan mengusap keningnya.


"Makanya tanya dulu siapa yang gue bawa, itu mulut jangan nyerocos kek petasan." Nara yang menimpali sedikit merasa kesal dengan tingkah teman-temannya.


"Memangnya dia siapa?" tanya Jali.


"Iya, gue juga kan baru tahu itu cowok. Siapa tahu dia lelaki yang gak baik buat lo," ujar Dani.


"Dari aku sudah diam ya. Kalian itu memang teman tidak ada akhlak!" seru Angga karena dari tadi dia cukup diam. Namun, sepertinya kesalahpahaman belum juga teratasi."

__ADS_1


Perlahan Angga mulai turun dari motor, dan langsung membuka helmnya dan.


"Elo!"


__ADS_2