
Untuk sesaat, akhirnya Nara bisa bernafas lega. Itu karena, telinganya sudah terlepas dari tangan wanita seseorang dengan usia yang sudah tak muda lagi. Namun, tenaganya sangatlah kuat.
"Lagian kenapa pula Mak, makai itu putih-putih. Kan jadinya mirip sama…,"
"Coba bicara lagi!" Mak Rohayah menyambar ucapan Nara dengan cepat, dan Nara pun diam.
"Gak jadi Mak. Aku gak jadi ngomong," kata Nara dengan wajah ketakutan, bukan takut karena apa! Ia hanya takut kalau telinga atau jidatnya menjadi korban lagi.
"Dasar durhakim kamu ya, ini itu masker beras. Kata temen Mak bisa buat ngencengin muka, dan memperhalus kulit wajah juga. Makanya Mak coba pakai," tutur Mak Rohayah yang pada akhirnya mengaku. Dengan apa yang dikenakannya sekarang.
Seusai berantem dengan Mak Rohayah. Nara pun bersiap untuk pergi menemui seseorang yang sudah ia sanggupi kemarin.
"Kamu jadi pergi?" tanya Mak Rohayah yang baru saja selesai keluar dari kamar mandi, dan langsung bertanya pada Nara. Pada saat anaknya tengah minum.
"Jadi Mak, karena kita udah janjian kan kemarin. Gak enak juga kalau gak dateng dan lagian siapa tahu ada yang penting nantinya," jawab Nara yang tengah berdiri di samping meja.
Satu jam telah berlalu dan sekarang Nara sudah berada di bengkel. Dani dan juga Jali sudah berada di sana juga dan tinggal mendiskusikan apa yang ingin mereka bahas.
"Ini aku udah datang, kalian mau aku untuk apa?" tanya Nara dengan nada manjanya.
"Ada, nanti juga lo tahu." Jawab Dani pada Nara.
"Kalian gak ada niat mau ngerjain aku kan," ucap Nara sedikit was-was.
"Kaga, lagian ada hal yang lebih penting dari ngerjain lo juga. Jadi, tunggulah sebentar." Jali ikut menimpali, tujuannya agar Nara tidak banyak bertanya.
"Li, elo udah hubungi itu anak lagi kan?" Dani pun menyenggol lengan Jali dan membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Udah, lo tenang saja." Dani menimpali dengan seulas senyuman, ia tahu kalau Jali sedang khawatir pada seseorang, karena takut jika tidak datang. Maka rencana mereka berdua otomatis gagal.
Tidak berselang lama.
"Lho, ini kan … ini aku!" ucap Nara dengan wajah kebingungan karena ia melihat jika tubuhnya ditempati seseorang juga.
"Ternyata yang nempati tubuh gue, bener banci ternyata." Dengan nada kesal Angga berbicara.
"Iya kan aku gak tau, kalau pemilik tubuh ini itu kamu cewek bar-bar." Jawab Nara dengan wajah jengkelnya juga.
Keduanya sama-sama dibuat bingung dengan kenyataan yang mereka alami sekarang. Di luar nalar namun itulah kenyataannya.
"Cepet lo keluar dari tubuh gue. Lama-lama bisa gila gue liat barang-barang yang ada di rumah elo!" dengus Angga, yang merasa dipermainkan oleh takdir, karena tanpa bermimpi atau kecelakaan tiba-tiba jiwa mereka sudah berpindah tempat.
"Emang siapa yang mau terus-terusan berada di tubuh kamu! Kamu itu cewek jorok tau gak sih," ucap Nara dengan lantang. Sehingga membuat Angga langsung mendelikkan matanya lebar-lebar.
Mendengar gertakan, keduanya pun akhirnya diam. Tidak ada yang berbicara lagi, untuk sesaat Angga menghela nafas dalam-dalam. Nara pun sama, ia tidak tahu jika Nara asli adalah teman-teman dari Jali dan juga Dani.
"Kalian sengaja gue kumpulin buat gue interogasi. Bukan gue pengen lihat kalian berantem, jadi sekarang seriusan sedikit atau tidak. Masalah kalian tidak akan kelar," kata Dani dengan wajah garangnya.
"Sekarang dimulai lu, banci. Kapan waktu elo tiba-tiba pindah tempat?" tanya Dani pada Nara.
"Kenapa pula kamu itu panggil aku banci sih, aku tuh punya—."
"Diam! Terserah gue ya, mau manggil kunti kek, pocong kek, kuyang kek. Ribet amat lo jadi manusia," kata Dani dengan tatapan jengahnya.
"Jangan merengut, karena tampang lo tambah jelek dan gue gak suka sama orang jelek." Dani pun berkata lagi dengan sebuah ejekan, dan itu membuat Nara mendengus kesal.
__ADS_1
"Dasar lelaki gak punya hati…."
"Gue denger." Dani mendengarkan dumalan Nara, hingga dirinya dengan cepat menyambar umpatan tersebut, dan seakan-akan lelaki itu sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk Nara.
Aku sadarnya pas bangun tidur, tiba-tiba ganti rumah. Lelah karena habis berantem sama Ayah," terang Nara pada Dani. Saat diinterogasi.
"Memangnya lo berantem karena apa?" tanya ulang Dani karena masih belum puas dengan jawaban Nara.
"Katanya aku tuh laki tulen, kenapa bisa jadi tulang lunak." Seketika semua yang berada di tempat. Tertawa sampai terpingkal-pingkal kala mendengar penuturan dari Angga. Merasa sangat lucu dan menurut mereka ucapan dari Ayahnya Angga itu benar adanya.
"Lagian lo, udah tahu laki. Masih saja pakai CD, dan pakai Bra." Angga lantas ikut menyahuti karena selama dirinya tinggal di rumah mewah tersebut. Ada banyak barang keramat dari dalam lemari, dan itu membuatnya tak habis pikir.
"Kamu! Kenapa bisa tahu barang keramatku, jangan-jangan isi lemari kamu bongkar semuanya, ya." Nara pun mendengus kesal karena bisa-bisanya Angga membongkar rahasia terbesarnya, dan didengar oleh orang.
"Enak aja lo ngatain gue bongkar, halo … memangnya gue ada yang salah sama ucapan gue. Seharusnya lo kan pakai CD, yang ada tempat sarangnya, ya pasti gue bongkar lah buat nyari yang sesuai sama pisang kukus lo yang lembek itu, ups keceplosan." Pada saat Angga berbicara, ketiga orang tersebut menatap ke arahnya semua karena barang yang disebut Angga mereka memiliki, dan itu tanda nya kalau?
"Jangan menatapku seperti itu ya, lagian kalau gue dah tahu kenapa? Gue gak munafik kok. Tuh banci juga dah tau kan apa yang ada di tubuh gue juga," tambah Angga lagi pada ketiga orang tersebut.
Glek.
Seketika Nara berusaha menelan ludahnya dengan susah payah. Semua yang dibilang oleh Angga tidak ada yang salah alias benar.
"Wah, parah lu orang. Sampai tahu sedetailnya begitu, emang punya itu banci kek pisang kukus ya. Lembek, serius tanya beneran." Masih dengan keadaan antara terkejut dan penasaran. Dani pun bertanya pada Angga.
"Kaga ada dua kali ucapan, cukup satu kali dan gue gak mau ulang lagi." Ucapan Angga mampu membuat mereka langsung tertunduk.
"Ck … ck … dasar gadis edan," ucap Jali dalam hati karena ia sedikit merasa malu, tapi tidak dengan Angga yang dengan lantangnya membicarakan hal sensitif.
__ADS_1
"Tunggu! Sepertinya kalian harus menikah."