
Nara mendengus kesal karena merasa terganggu dengan suara cempreng lelaki, yang sedari tadi berteriak.
"Na, buruan buka pintunya!" suara triakan itu terulang lagi dan dengan rasa malas. Nara akhirnya berjalan ke arah pintu untuk membuka.
Ceklek.
"Na, lo tuli ya. Dari tadi dipanggil-panggil gak denger," cerocos Jali. Yah, suara cempreng itu milik Jali dan entah kenapa tiba-tiba ia bertamu. Nara pun sempat berpikir jika kedatangannya tidak biasa. Mungkin dari yang biasa menghubungi lewat ponsel, kini Jali justru langsung mendatangi rumah Nara.
"Lo itu berisik banget deh, lo tahu! Gue ini sedang tidur dan gara-gara suara lo yang mirip sama panci ke banting, alhasil gue kebangun." Jali yang mendengar Nara terus mengomel, hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal.
"Duh, kucing lagi mengaung." Jali membatin karena tidak mungkin ia mengatakan dengan suara yang keras.
"Apa lo bilang! Kalau gue kucing lo tikusnya. Puas lo, sekata-kata kalau ngomomg." Nara semakin marah saat mendengar akan isi hati Jali, yang mengatakan jika dirinya disamakan dengan seekor kucing.
"Duh, mati aku … kenapa lupa pula kalau Nara bisa tahu," batin Jali lagi yang tengah merutuki kebodohannya.
"Makanya jangan macam-macam sama gue!" seru Nara dengan tatapan penuh dengan aura membu*nuh.
__ADS_1
"Maaf, maaf. Gitu saja marah," kata Jali layaknya seseorang seperti tidak memiliki dosa pada Nara.
"Eh, gue ada berita hot buat lo." Jali ingat tujuan utama datang ke rumah Nara untuk apa, dan ia pun langsung mengatakan perihal tadi siang saat dirinya baru pulang dari cafe. Tidak sengaja menemukan sosok yang sama persis dengan Angga.
"Apa itu serius?" tanya Nara dengan tangan bersindakap dada. Mata yang terus menatap dan berusaha mencari keseriusan Jali.
"Aku tadi melihat seseorang yang mirip dengan Angga."
Deg.
"Apa lo gak salah orang, atau memang semua itu hanya kebetulan." Nara berujar sembari mengatur pernapasannya, karena tidak mau berharap sosok itu beneran Angga. Namun, ia juga tidak bisa membohongi hatinya jika dirinya merindukan sosok Angga.
"Gue yakin jika itu Angga, Na." Jali pun sempat menyakinkan Nara. Bahwa yang tadi dilihatnya adalah benar-benar Angga.
Nara hanya diam, dan tidak ingin meladeni ucapan Angga. Nara yakin jika Jali sudah salah orang dan bukannya kita di dunia ini memiliki kembaran tujuh wajah. Yang artinya bisa saja jika Jali melihat sosok yang mirip dengan Angga.
"Sudahlah, gue tahu kalau elo gak akan percaya dengan ucapan gue. Sekarang lebih baik pulang dan tidur," ujar Jali yang ingin berbalik namun keduluan oleh Nara karena sudah terlanjur bajunya ditarik.
__ADS_1
"Mau ke mana lo, enak saja main pergi setelah gangguin gue ngorok."
"Ampun Na, ampun. Jangan di hajar," Jali yang tidak ingin mencari masalah. Lebih baik memilih untuk mengalah, jika tidak. Maka bogeman mentah siap meluncur.
"Siapa yang mau kasih bogem lo! Sana keluar cari Kang bakso. Gue lapar dan pengen makan yang pedes-pedes," titah Nara dengan posisi tangannya masih memegang baju Jali.
"Na, lo ada cabe?"
Nara mengerutkan keningnya karena tidak mengerti dengan ucapan Jali.
"Sudah jangan banyak mikir. Lo punya apa kaga?" ulang Jali.
"Ada," jawab Nara dengan wajah bingung.
"Kalau lo mau yang pedes, makan itu sama saja … satu dua tiga kaburrr!"
"Woe … jangan lari lo, dasar brengs*k."
__ADS_1