Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Nara dan Angga.


__ADS_3

Akhirnya dengan terpaksa Angga pun berhenti di tepi jalan.


"Na, ada apa sih, kok kamu nyuruh berhenti?" kata Angga dengan nada kebingungan. Namun, Angga pun tetap menurut dengan berhenti.


"Gue mau beliin anak-anak cemilan. Lo dari tadi diajak ngomong kek patung tau gak," kata Nara dengan wajah kesal.


Rasanya jengkel banget dah gue.


Dengan sedikit memajukan bibirnya, dan tidak ingin berlama-lama dengan sebuah tanggapan tidak jelas. Lantas Nara pun masuk ke warung yang menyediakan beberapa pilihan gorengan. Lalu Nara pun mengambil jajanan pasar karena tidak hanya gorengan saja yang dijual oleh pemilik warung.


"Sudah Bu, jadi semuanya berapa?" tanya Nara yang sudah bersiap untuk membayar.


"30 ribu, Non." Jawab pemilik warung, dan Nara pun memberikan uang 50 ribu pada penjual.


"Bentar Mbak, kembaliannya!" kata penjual.


"Ambil saja, itu rejeki Ibu!" ucap Nara, lalu pergi meninggalkan warung tersebut.


Sedangkan Angga yang melihat pemandangan itu. Dirinya kembali diingatkan oleh beberapa tahun silam.


Sikap yang tidak pernah berubah.


Angga tersenyum, nyatanya meski kehidupannya sekarang jauh lebih baik, daripada tahun-tahun yang sudah berlalu. Namun, Nara rupanya tetaplah sosok Nara yang dulu, dan tidak pernah berubah sedikitpun.

__ADS_1


Pluk.


"Hayooo ... ngelamunin apa," pungkas Nara karena Angga tersenyum dan sesekali menggelengkan kepalanya.


"Kamu Na, kebiasaan deh ah. Udah nabok masih buat orang jantungan pula," dengus Angga karena sedang asik membayangkan, namun sekarang sirna sudah saat Nara datang. Mengganggu khayalannya lagi dan sekarang hanya bisa mendesah kecil.


"Lagian, siapa suruh senyum-senyum gak jelas. Awas kesurupan lo, kalau dari tadi mirip orang gak jelas!" Nara yang tak ada niatan menakut-nakuti Angga, namun siapa sangka jika lelaki yang pernah menjadi tulang lunak itu. Kini sudah bercucuran keringat karena ketakutan, akan ucapan Nara karena Angga tetaplah seorang penakut.


"Kenapa itu muka, pucat amat? Jangan-jangan lo takut, ya." Nara yang tidak bisa menahan tawa, hingga membuat perutnya sakit. Sedangkan Angga dengan wajah menahan malu, sama sekali tidak berkutik.


"Jiah, lo laki, tapi cemen."


"Kamu mah, bisanya menghina mulu." Angga mendengus kesal karena dari dulu sampai sekarang Nara tetap saja menghina Angga.


"Makanya jadi laki itu jangan cemen, gimana mau ngelindungi istrinya kalau suaminya saja penakut. Ups,"


Sedangkan Angga membulatkan matanya. Menatap dalam ke arah Nara, dan tertegun mendengar ucapan Nara yang tidak biasa.


"Ah, itu kan perumpamaan." Nara yang merasa keadaan menjadi hening.


"Menurutku kamu ada benarnya. Jika aku menjadi lelaki lemah, aku pun tidak bisa menjaga orang-orang tersayang ku, bukan." Mendengar jawaban Angga. Nara merasa lega karena ternyata Angga tidak sakit hati.


"Sudahlah. Lupakan ini sudah siang buruan antar ke toko," kata Nara yang memilih berhenti membahas hal-hal konyol.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian.


Nara sudah sampai di depan toko roti miliknya, namun tanpa adanya campur tangan Angga. Nara tidak akan menjadi seperti sekarang.


Saat Nara sudah bersiap turun, namun kejadian yang tak terduga menghampirinya.


Brukh.


Auh.


Rengek Nara saat dirinya terjungkal dengan keadaan tengkurap.


"Ups ... maaf aku tidak sengaja," seseorang wanita menutup mulutnya dengan gaya songongnya lalu, ia pun meninggalkan Nara.


"Na, kamu tidak apa-apa? Apa aku harus memberi pelajaran untuk orang itu." Angga mencoba membantu Nara, yang kesakitan, dan Nara merasa jika lututnya terasa perih.


"Tidak perlu, dia itu orang gila. Apa kamu mau menjadi gila hanya membelaku, lalu berurusan dengannya?" Nara sengaja berbohong karena tidak mau jika Angga ikut terseret dalam masalah, yang tengah mengejarnya.


"Tapi Na—."


Sssssttt.


Nara langsung menutup bibir Angga dengan satu jarinya, karena Nara tidak mau terus membahas seseorang yang dianggapnya tidak waras.

__ADS_1


"Baiklah, aku bantu ya. Kamu juga jangan protes kali ini," kata Angga.


"Awas saja jika lain kali gue ketemu lo, habis sudah riwayat lo karena sudah bermain-main sama gue." Nara hanya bisa mengumpat dalam hati karena ulah wanita gila itu, sekarang Nara berada di gendongan Angga.


__ADS_2