
Keesokan harinya.
Setelah kepergian Ayah Prabu dan Mama Rena untuk kerja. Benar saja, kalau Nara menepati janjinya untuk membuatkan berbagai kue pada orang tuanya.
"Satu bulan ini aku tidak tinggal di rumah ini. Aku merasa sangat merindukan Ayah dan juga Mama," suara lirih dari Nara. Angga bisa mendengar kalau Nar sekarang sedang bersedih karena untuk pertama kalinya dalam sebulan. Nara berkunjung di kediaman orang tuanya.
"Na, lo buat kue nya. Gue mau beli nasi di luar laper." Angga lantas berjalan keluar karena dirinya ingin sekali makan nasi pecel. Walaupun di dapur sudah tersedia lauk pauk namun Angga ingin makanan yang lebih.
Sedangkan Nara yang berada di dapur. Dengan tangan yang lues serta cekatan dengan bahan-bahan yang ada di depannya. Mulai mencampurkan satu persatu hingga berbentuk lah sebagai adonan.
"Semoga Ayah suka, dengan kue buatanku." Nara memandangi sejenak adonan tersebut, dan dengan bangganya ia sendiri memuji hasil dari kreasinya.
Lalu, beberapa kue telah selesai di buat. Angga datang dengan membawa bungkusan.
"Nih, makanlah dulu." Angga memberikan sebungkus nasi yang berada di tangannya pada Nara.
"Ini nasi apa?" tanya Nara penasaran, dan membolak-balikkan bungkusan tersebut.
"Itu nasi pecel, apa lo pernah makan. Pasti belum kan, gue yakin kalau lo belum tahu rasanya kek apa apa nasi itu." Angga berujar dengan menunjukkan senyuman manis pada Nara.
Nara menggeleng. Itu tandanya memang benar kalau ia belum pernah makan makanan yang dibeli oleh Angga barusan.
"Itu nasi kesukaan gue. Lo tadi belum sarapan kan, makanya sekalian gue bawain." Lantas Nara mengangguk dan mulai duduk untuk menikmati seporsi nasi pecel.
"Waaaa … rasanya enak," kata Nara setelah berhasil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
"Iya jelas, udah gitu murah pula." Angga tertawa melihat Nara memakan makanan yang ia bawa.
"Ternyata Ini laki, ekspresinya sangat lucu. Layaknya orang yang tidak pernah makan sampai lahap betul," gumam Angga dalam hati.
Melihat itu membuat Angga tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Ternyata enak ya, makanannya."
"Tentu, maklum lo kan orang kaya. Ya jelas lah kagak pernah makan makanan macam rakyat jelata kek gue!" tukas Angga karena sedikit banyaknya. Memang orang kaya hampir tidak pernah makan nasi pecel.
"Aiss … kamu mah," suara lesu Nara membuat Angga langsung melengos pergi untuk menggambil gawai. Ia ingat kalau dirinya harus menukar gawai miliknya dengan punya Nara.
"Ah … dapat," gumam Angga.
Tidak berapa lama kemudian.
__ADS_1
"Nih, ponsel milik lo." Angga pun langsung memberikan ponsel tersebut pada Nara.
"Apa ini?"
"Apa lo buta, sampai-sampai kagak bisa ngelihat." Angga mendengus kesal karena rupanya Nara, belum juga mengerti apa yang terjadi dengan sebuah ponsel yang diberikan oleh Angga.
"Dasar ogeb, ini ponsel lo. Lalu kemari kan ponsel gue!" kata Angga dengan nada kesal.
"Ouh."
Hanya itu yang keluar dari bibir Nara, dan ia pun langsung merogoh dress nya untuk mengambil ponsel, yang ada di sakunya.
"Jangan bilang kalau lo udah buka galeri gue!" kata Angga lagi dengan mata melirik ke arah Nara.
"Ti-dak." Jawab Nara gugup.
"Jangan bohong!" seru Angga.
"Be-neran," ucap Nara yakin.
"Bagus."
Akhirnya tukar ponsel pun selesai dan sekarang sudah masuk di jam dua. Tanpa terasa Nara berada di rumahnya hampir seharian dan kue-kue yang dibuatnya juga sudah di selesaikan.
Hufff.
"Akhirnya selesai juga." Nara menghela nafas panjang. Lalu mengikuti Angga yang tengah beristirahat di ruang tamu.
"Duh, kangennya sama kamu mochi." Tiba-tiba saja Nara teringat akan boneka beruangnya yang diberi nama Mochi.
Tidak memperdulikan apapun untuk saat ini, karena tujuannya adalah untuk melihat keadaan Mochi yang ada di kamarnya. Dengan langkah yang sedikit cepat, Nara bergegas naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar.
"Mochi … aku kangen banget deh sama kamu," ucap Nara dengan wajah yang sumringah.
"Akhirnya bisa meluk juga, maaf ya Mochi kamu sendirian di sini tanpa adanya aku." Lagi-lagi Nara bersikap konyol dan itu tidak lepas dari pandangan Angga.
"Idih, gini amat itu laki ya. Apa dia nyaman punya kelebihan yang seperti ini?" dalam hati Angga berkata, meratapi nasib Nara yang sangat menyedihkan. Lelaki tapi gemulai, itulah sebutan yang pantas untuk Nara.
Ekhem.
Sengaja Angga berdehem agar Nara mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
"Eh kamu, udah lama kamu di situ?" tanya Nara dengan keadaan yang masih memeluk Mochi.
"Nggak lama kok, baru tahun kemarin gue berdiri sini pantengin orang aneh kek elu!" sungut Angga dengan tangan yang disilangkan di dada.
"Sekarang lebih baik lo pulang. Sebentar lagi Mama Rena dan juga Ayah Prabu pulang. Lo gak mau kan mereka bertambah curiga," kata Angga karena sekarang sudah jam tiga. Setengah jam lagi kedua orang tua Angga asli akan segera pulang. Maka dari itu ia pun menyuruh Nara untuk pulang.
"Baiklah, aku bawa kue dua ya. Buat dikasih ke Emak," ujar Nara.
"Iya bawalah. Kan elo juga yang buat," tukas Angga.
……….
Beberapa minggu kemudian.
"Lo, bantuin gue benerin ini motor ya?" kata Dani pada Angga yang sekarang tengah duduk di kursi tunggu.
"Asal ada bayarannya gue mau," ujar Angga.
"Dasar mata duitan, lo kan udah jadi orang kaya. Masa iya masih minta bayaran," ucap Dani dengan mulut yang terus mengomel.
"Sekarang, kalau nanti jiwa gue udah pulang ke rumahnya. Gue juga balik kismin kampret," jawab Angga dengan nada jengkel.
Hehehe.
Hanya terdengar suara gelak tawa dari bibir Dani, sedangkan Jali masih fokus membenarkan motor. Milik pelanggan lain.
"Karena gue baik hati dan lagian udah lama juga kaga memegang peralatan motor. Jadi, gue bantuin." Dengan senyuman yang merekah. Angga berbicara.
"Makasih tampan," goda Dani.
"Sialan lo," dengus Angga.
"Kalian ini ngeributin apa sih. Dari tadi rame kayak pasar," sahut Jali yang kini tengah memandangi Angga dan juga Dani.
"Kaga ada. Cuma mau muji kalau Angga tampan malah dianya sewot," timpal Dani.
"Gimana gak sewot, orang gue perempuan masa iya dibilang tampan." Angga ikut menimpali.
"Eh ogeb, orang tahunya laki, bukan cewek dan orang-orang juga manggil lo ganteng bukan cantik." Dani lantas menjawab dengan ucapan Angga yang terlihat masih kesal.
"Oh, iya ya, Gue lupa."
__ADS_1