Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
19. Cerita Angga


__ADS_3

"Maaf Ma, Angga tidak bermaksud membuat Mama khawatir." Angga pun menatap sang Mama yang terlihat sedang mencemaskannya.


Sekarang berdiri sosok wanita yang sekarang tengah dipanggilnya 'Mama' dan itu membuatnya seketika teringat dengan Mak nya, yang berada di rumah.


Rindu, itulah yang ada di hati Angga sekarang. Melihat Mama Rena, seperti melihat gambaran Mak Rohayah. Namun, lagi-lagi Angga harus menahan akan kerinduan tersebut, rindu yang belum tersampaikan hingga membuatnya harus sanggup menahan itu semua.


"Tidak sayang, maaf jika Mama terlalu over protektif. Itu karena Mama sangat menyayangi kamu, dan kamu tahu kan. Bahwa Mama tidak punya anak lagi selain kamu! Putra semata wayang kami." Ucapan Mama Rena, membuat Angga terenyuh karena merasa beruntung memiliki orang tua seperti beliau. Meski keduanya sibuk bekerja, itu pun sama sekali tidak pernah melupakan jika dirinya adalah seorang Ibu. Yang harus ada untuk anak-anaknya.


"Ya sudah, sekarang kita turun yuk. Pasti Ayah kamu menunggu kita," ucap Mama Rena pada Angga.


"Baik Ma, sebentar lagi Angga menyusul." Jawabnya dan menyuruh Mama Rena untuk turun terlebih dulu, karena ia ingin mencuci mukanya agar terlihat segar dan tidak lagi kusut seperti kain pel.


Dirasa sudah merasa agak segaran, lantas Angga langsung turun ke bawah. Untuk makan malam bersama Ayah Prabu dan juga Mama Rena.


"Ngga, kamu itu ngapain saja sih, sengaja mau buat Ayah pingsan!" ujar Ayah Prabu saat Angga sudah menempatkan bokongnya di kursi dekat sang Ayah.


"Nyatanya Ayah tidak sampai pingsan kan, dan masih terlihat bugar." Jawab Angga dan saat itu juga Ayah Prabu mendesis.


"Sejak kapan ini anak pinter ngomong?" dalam hati Ayah prabu bertanya-tanya perihal sikap Angga yang tidak biasa.


"Katanya lapar, kenapa masih bertengkar." Mama Rena ikut menyahut dan berusaha untuk menengahi. Agar tidak terjadi keributan seperti yang sudah-sudah.


Mendengar itu. Angga dan juga Ayahnya langsung diam, dan tangannya pun meraih centong nasi.


Makan malam telah usai dan Angga pun, kembali berpamitan untuk naik ke atas lagi.

__ADS_1


Setelah kepergian Angga, kini tinggal Mama Rena dan suaminya.


"Pa, akhir-akhir ini anak kita kok aneh ya, apa mungkin cuma perasaan Mama saja?" Mama Rena akhirnya mengatakan akan isi hatinya pada Ayah Prabu.


"Papa juga sama, Ma. Semakin hari semakin aneh," timpal Ayah Prabu.


"Mama melihat akhir-akhir ini memang Angga banyak perubahan. Dari mulai penampilan yang tidak lagi terlihat seperti wanita. Lalu jepit yang sering digunakan tidak lagi dipakai, dan tidak lagi dandan." Mama Rena menjelaskan apa saja yang selama ini sudah tidak lagi, dilakukan oleh Angga.


"Apa anak kita sudah sembuh, lantas siapa yang sudah merubahnya. Papa yakin jika dibalik ini semua! Pasti ada sosok yang membuatnya terlihat seperti laki-laki pada umumnya," tutur Ayah Prabu.


"Tapi … siapa, Pa? Selama ini kita juga gak pernah lihat Angga ada teman kan, lalu siapa yang Papa maksud." Mama Rena tidak sabar untuk melihat dengan nyata, jika memang itu benar maka beruntunglah anaknya. Telah memiliki teman yang mau memberikan support dan dukungan pada Angga.


"Harusnya memang begitu, agar Angga bisa menjadi lelaki sejati. Ingat Ma! Usia Angga bukan lagi remaja dan kita juga akan terus menua. Berharap jika Angga akan segera menikah dengan begitu kita akan tenang," ucap Ayah Prabu pada sang Istri.


"Iya, Pa." Jawab Mama Rena.


Beberapa tahun silam.


"Pa, Mama pengen punya anak perempuan memangnya ada yang salah dengan apa yang Mama lakuin pada Angga!" kata Mama Rena waktu itu.


"Ma, harusnya Mama bisa ikhlas dengan apa yang Tuhan berikan. Mama tahu, itu sama saja dengan menyalahi kodrat Ma! Dan Papa gak mau punya anak yang nantinya menjadi seorang yang berjiwa wanita." Papa Prabu berbicara dengan sangat emosi, kala melihat Angga saat itu yang berusia lima tahun di pakaian rok.


Namun, bukannya Mama Rena menuruti ucapan suaminya justru makin menjadi.


Hingga pada akhirnya sampai Angga dewasa, dan terus mengajarinya selayaknya seorang wanita.

__ADS_1


Yah, keinginannya untuk mempunyai anak lagi tidak akan terwujud sampai kapanpun, karena rahim Mama Rena terpaksa harus diangkat akibat mengalami kecelakaan kecil. Hingga Angga dilahirkan secara paksa karena rahim beliau sobek.


Itulah alasannya mengapa Angga dijadikan seperti apa yang ia inginkan, namun semakin Angga bertambahnya usia semakin. Membuat Mama Rena sadar kalau ulahnya adalah suatu kesalahan yang fatal.


Sekarang di usianya yang ke-25 tahun, jiwa yang seperti perempuan telah mendarah daging hingga saat ini. Mama Rena pun berharap jika suatu saat ada keajaiban yang akan mendatangi putranya, agar bisa merubah hidupnya seperti apa yang seharusnya dijalaninya.


……………


25 tahun, telah berlalu begitu cepat. Sosok Angga menjadi sosok pria yang sangat tampan, itu pun seharusnya. Berawal dari masa lalu orang tuanya, menjadikannya cantik, bukan lagi tampan. Untuk sekarang pun mereka tidak sadar bahwa yang ada di tubuh putranya bukan lah putranya. Melainkan orang lain yang menempatinya, jadi mereka mengira jika anak satu-satunya itu sudah berubah total.


Pukul satu dini hari, Angga bermimpi bertemu Mak nya. Hingga membuatnya mengigau dan membangunkan penghuni lain.


“Mak … Nara kangen Mak, Mak … Nara rindu,” teriak Angga pada sosok Emaknya, dan itu tidak luput dari pendengaran Mama Rena.


“Siapa Nara, sepertinya aku baru dengar nama itu?” gumam Mama Rena saat Angga mengigau memanggil nama orang.


“Mak, Nara pengen pulang … Nara sangat merindukan Emak,” rintihnya lagi dengan mata yang masih terpejam.


“Apa ada yang disembunyikan oleh Angga, lalu nama itu? siapa pemilik dari nama tersebut.” Mama Rena seakan memaksakan otaknya untuk lebih dalam lagi untuk berpikir, karena nama itu sangat asing di telinganya.


Mama Rena yang melihat Angga semakin menjadi. Merasa tidak tega hingga langsung mendekat dan membangunkannya.


“Angga bangun! Angga,” Mama Rena terus berusaha menepuk bahu Angga hingga.


"Mama!" Angga langsung terbangun memeluk Mama Rena.

__ADS_1


"Mak, semoga Mak baik-baik saja di sana." Angga hanya mampu membatin, dan berusaha untuk mengatur nafasnya yang tersengal akibat dari mimpi buruk tersebut. Yang tengah ia alami baru saja, dan itu membuatnya merasa ketakutan.


Mama Rena terus memeluk Angga yang sudah bercucuran keringat, namun ada satu yang membuatnya masih mengganjal di dalam hatinya. Entah rasanya ada yang aneh dengan apa yang ia dengar baru saja.


__ADS_2