
Melihat Angga yang sudah tenang, membuat Mama Rena beranjak dari tempat tidur.
“Angga, Mama kembali ke kamar. Kamu gak apa-apa kan di tinggal,” ucap Mama Rena pada Angga yang saat ini sedang terdiam. Entah apa yang ia pikirkan sampai-sampai tidak merespon ucapan dari Mama Rena.
“Angga!” tegur Mama Rena lagi. Untuk sesaat Angga langsung terkesiap saat mendengar suara Mama Rena.
“I-iya Ma, Mama ngomong apa tadi?” saat itu juga Mama Rena menghela nafas berat karena memang, Angga tidak merespon.
“Mama mau tidur, kamu tidak apa-apa kan. Kalau di tinggal,” ucap Mama Rena mengulangi ucapannya lagi.
“Mama pergi tidur lagi saja, besok Mama akan kerja. Jadi, istirahat yang nyenyak untuk Mamaku.” Angga berusaha tersenyum walau itu sedikit dipaksakan olehnya.
Akhirnya Mama Rena keluar dari kamar Angga, dan itu membuatnya bisa bernafas lega, dengan begitu ia tidak akan melihat perempuan itu semakin curiga. Ia tahu bahwa Mama Rena sedang curiga, namun sebisanya ia akan berusaha untuk tidak memperlihatkan.
…………
Siang ini pukul delapan. Di rumah Mak Rohayah Nara yang semakin antusias untuk membuat kue. Yah kue itu sengaja akan ia jual untuk membantu Mak Rohaya karena Nara tahu, hanya skill itu yang ia kuasai.
“Na, apa kamu yakin mau jualan kue?” tanya Mak Rohayah dengan rasa yang semakin ingin tahu.
“Tentu Mak, dengan begitu. Kita akan punya uang,” ujar Nara dengan senyuman yang mengembang, sedangkan tangannya tengah menata wadah untuk dibuat maracik adonan, dan bahan-bahan lainnya untuk digunakannya.
Mak Rohayah tidak pernah berpikir jika Nara bisa membuat kue, dan itu pun baru saja ia ketahui dalam beberapa hari lalu.
“Tahu gitu kamu kan gak usah ke bengkel,” kata Mak Rohayah.
“Cari ilmu kan gak apa-apa Mak, siapa tahu entar Nara mau buat usaha bengkel kan.” Jawaban yang cerdas pikir Mak Rohayah sekarang.
Meski sekarang Nara sedikit lebay. Namun, itu sudah cukup membuat Mak Rohayah bangga dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini.
“Aku gak mungkin Mak. ngebiarin Mak bersusah payah menjadi buruh cuci, mungkin dengan begini keadaan kita akan berubah.” Nara hanya bisa berbicara dalam hati.
Andaikan Mak Rohayah tahu, siapa yang berada di dalam tubuhnya sekarang. Nara yakin jika Mak nya tidak akan percaya dengan hal-hal- yang berbau aneh tapi nyata.
__ADS_1
“Mak, aku bangga sama Emak. Emak begitu tabah di saat Tuhan sedang menguji hidup kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” batin Nara lagi.
Untuk saat ini, Nara merasa beruntung karena di saat seperti ini dirinya sedang diuji oleh Tuhan, menghargai sesama itu penting. Berbakti pada orang tua itu wajib, dan yang membuat Nara bangga. Tidak sekalipun terdengar Mak Rohayah mengeluh, akan jalan hidupnya yang seperti ini. Terlihat beliau sangat menikmati kesulitan ini dengan lapang dada. Maka itulah alasan Nara, untuk membuat kue dan bisa mengembangkannya.
Satu adonan telah jadi, dan bau harum menyeruak ke dalam rongga hidung Mak Rohayah, dan tamu yang berada di depan.
"Mak, bau kue?" ucap tamunya Mak Rohayah.
"Iya Bu, Nara buat kue dan mau dijual rencananya." Jawab Mak Rohayah.
"Wah … boleh Mak, kalau begitu nanti setelah selesai Mak bawa ke rumah Ya, dan jangan lupa lo." Yah, tamu itu adalah seseorang yang menggunakan jasa Mak Rohayah, dan hari ini adalah pelanggan pertama yang mendatangi Mak Rohayah juga.
Dengan hati yang gembira. Mak Rohayah menyanggupi, dan setelah ini beliau akan membawanya.
"Tentu Bu, tentu. Setelah ini saya akan membawanya," kata Mak Rohayah dan setelah itu. Tamu itu pun pamit untuk pulang.
Setelah tamu pergi. Mak Rohayah langsung menuju dapur untuk melihat Nara yang sedang membuat kue.
"Na!" sapa Mak rohayah.
"Ada pelanggan pertama yang ingin membeli kue kamu," ucap Mak Rohayah.
Seketika mata Nara berbinar-binar karena ternyata. Belum juga dijajakan, namun ada satu pelanggan pertama yang ingin membeli hasil kreasinya.
Dengan cepat Nara pun mempersiapkan kue yang sudah ada tuannya, dan diletakkan di kardus kue. Tidak berapa lama Mak Rohayah telah membawanya juga.
Drrrt.
Drttt.
Drttt
Pada saat Nara ingin melanjutkan, terdengar suara getaran ponsel yang terdapat di sakunya. Buru-buru ia melihat dan Dani lah yang sedang menghubunginya.
__ADS_1
"Mau apa dia?" tanya Nara pada diri sendiri.
📲"Halo, ada apa?" jawab Nara.
📲"Apa lo lupa kalau kita akan pergi ke tempat Madam lagi, sekarang buruan ke sini!" ucap suara dari ujung telepon.
📲"tapi aku masih buat kue," kata Nara karena memang sekarang dirinya sedang melanjutkan, untuk membuat kue.
📲"Itu sambung nanti. Ingat! Satu minggu lagi bulan purnama, kita akan pergi ke sana untuk memastikannya lagi." Suara tersebut terlihat tidak mahu tahu dengan apa yang dilakuin dengan Nara, dan terus memintanya untuk segera datang ke bengkel.
📲"Baiklah, apa ada Angga di situ?" tanya Nara.
📲"Dia udah ada datang. Tinggal lo. Awas kalau lelet dan berujung jitakan di kepala lo!" sungut orang tersebut, karena ia pun yakin kalau Nara akan berdandan secantik mungkin, dan itu akan membuang-buang waktu saja.
📲"Iya bawel, aku secepatnya datang, tapi nunggu satu adonan mateng, karena udah aku oven." Jawab Nara, dan setelah itu dirinya memencet tombol warna merah, dan meletakkannya kembali ponselnya.
Setelah itu. Nara pun bersiap-siap untuk pergi, harusnya ia tampil cantik namun karena sudah mendapat teguran dari Dani. Membuat Nara mengurungkan niatnya.
………….
Di bengkel sudah ada Angga Dani, dan juga Jali. Tinggal menunggu Nara dengan begitu mereka secepatnya akan berangkat ke tempat Madam.
"Li, Dan. Gue mau cerita," ucap Angga tiba-tiba.
"Apa ada masalah?" tanya mereka berdua bersamaan.
"Apa gue terlihat seperti seseorang pembohong, karena sudah membohongi keluarga Angga asli? Apa gue berdosa karena sudah menyembunyikan semua ini dari mereka, dan tidak berkata jujur." Bukannya me jawab, Dani dan Jali justru saling pandang.
Mereka tidak mampu menjawab ucapan dari Angga, namun teman-temannya percaya jika semua itu bukanlah kehendaknya.
"Jangan memikirkan itu dulu, fokus saja sama masalah lo dulu." Hanya itu jawaban yang diberikan pada Jali.
"Tapi gue menikmati yang bukan hak gue!" kata Angga dengan perasaan penuh bersalah.
__ADS_1
"Itu bukan kemauan lo kan, jadi apa yang akan lo lakukan! Apa mau membocorkannya pada orang tua Angga asli. Lantas apa mereka juga percaya dengan apa yang lo jelaskan? Ku rasa tidak," ucap Dani penuh ketegasan.
Memang rasanya tidak mungkin untuk berkata jujur. Tidak akan percaya dengan apa yang sebenarnya, karena mereka hidup di dunia nyata bukan di dunia sihir dan dongeng