
Dirasa sudah cukup untuk mencurahkan akan kebahagiaan mereka. Kini, keempat pemuda itu tengah berjalan beriringan dengan tawa yang sedang mereka lukis di bibir masing-masing.
Rasa bahagia tidak bisa mereka bendung, meski dalam keadaan di dalam mobil pun semuanya masih menikmati canda guraunya.
Dua jam telah berlalu dan sekarang Nara sudah berada di depan rumahnya sendiri, rumah yang sudah memasuki angka dua bulan. Hanya bisa dipandangi, dan sekarang, sekarang Nara benar-benar berada di rumah yang selalu ia rindukan setiap hari.
Untungnya sebelum Nara pergi sudah meminta ijin. Awalnya Mak Rohayah tidak setuju namun karena Nara yang kekeh dan penuh keyakinan. Akhirnya Mak Rohayah mengizinkannya untuk pergi bersama Jali dan juga Dani, untuk merayakan hari jadi bengkel yang seharusnya tidak terjadi.
"Na, baru pulang atau–."
"Baru saja Mak, Aku ke kamar mandi dulu ya Mak, soalnya gerah." Nara yang baru saja berpapasan di ruang tamu, langsung memilih untuk pergi ke kamar mandi. Rasa gerah membuatnya sangat tidak nyaman, jadinya ia akan mandi agar tubuhnya kembali segar dan tidak lesu.
"Aneh," gumam Rohayah dengan satu jari yang berada di dagu.
"Ah, ya sudahlah. Mungkin cuma perasaanku saja," ujarnya lagi, dengan suara lirih yang hampir tak terdengar oleh siapapun.
Nara yang sudah selesai dengan ritual mandi, entah mengapa tiba-tiba telinganya berdengung. Hingga membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali.
"Ini kuping kenapa sih, dari tadi berdengung terus!" dengus Nara dengan tangan yang terus mengusap-usap telinganya.
Tidak menghiraukan dengungan yang terus ia rasakan. Merasa lapar pada akhirnya Nara memilih untuk turun dan melihat menu yang berada di atas meja.
"Mak, masak apa?"
"Biasanya Nara suka dengan ati ayam, dan juga sambel jengkol, tapi sekarang hanya ada lauk ikan asin dan juga sambal." Mak Rohayah membatin, dengan mata yang menatap Nara dengan dalam.
Belum sempat mendengar Mak Rohayah berkata, tiba-tiba wajah yang semula senang. Kini kembali murung karena entah darimana keajaiban datang Nara bisa mendengar apa yang ada hati Emaknya.
"Kasian Mak, pasti Mak sama sekali gak pegang uang." Nara diam namun hatinya yang berbicara.
"Maaf, Mak lagi gak pegang duit." Suara yang terdengar lirih namun terasa berat, membuat Nara menyodorkan senyuman meski sedikit dipaksakan.
"Lupakan itu Mak, lebih baik sekarang kita makan." Lantas Nara langsung mengajak Mak Rohayah untuk sarapan bersama. Meski hanya ada lauk sederhana itu semua sudah lebih dari cukup, untuk mengisi perutnya.
"Beberapa hari ini gak ada yang nyuruh Mak nyuci, jadi Mak sama sekali gak pegang uang untuk dibuat belanja." Melihat itu, Nara langsung memegang lengan Emaknya, berusaha untuk menghibur sebisa mungkin.
__ADS_1
"Maaf Nara, Mak belum bisa menjadi Ibu yang baik buat kamu." Lagi-lagi Nara mendengarkan isi hati Mak Rohayah dan rasa bersalahnya, karena tidak bisa menjadi orang tua yang berguna.
Hufff.
"Apa yang terjadi sama gue, harusnya ini semua sudah selesai, kan?" dalam hati Nara bertanya-tanya dengan semua ini, sungguh kejadian yang diluar nalar pikirnya.
"Mak, Mak tenang saja. Nara akan berusaha untuk mencari pekerjaan. Dengan begitu kita tidak akan kekurangan lagi," ucap Nara dengan senyuman tipis.
"Lebih baik kita sarapan dulu, dan jangan memikirkan soal pekerjaan." Nara menambahkan lagi, dengan begitu setidaknya tidak akan membuat Mak Rohayah semakin bertambah bersalah.
……….
Setelah makan, Nara ingin menemui Angga. Untuk saat ini dirinya sangat membutuhkan pekerjaan. Melupakan egonya untuk sementara karena mencari pekerjaan, adalah suatu yang lebih penting menurutnya.
Sekarang di jalan xxx Nara sedang menunggu kedatangan Angga. Cukup lumayan lama sampai ia lelah menunggu, hingga akhirnya ia memilih membeli air minum terlebih dulu.
Tidak lama kemudian.
Angga yang sudah sampai, kepalanya celingukan mencari keberadaan Nara, karena tadi sempat janjian dimana yang sudah ditentukan. Namun, Angga tidak melihatnya.
"Nara!" panggil Angga, seketika Nara menoleh.
"Lo udah gila ya, gue sampai bangkotan nungguin lo tau gak!" suara Nara kian memekik di telinga Angga. Ia akui kalau memang dirinya salah. Harusnya Angga datang tepat pukul tiga, dan sekarang sudah jam setengah empat. Itu tandanya Angga sudah melewatkan setengah jam yang lalu.
"Maaf, tadi aku nganter Mama dulu." Nara yang mendengar itu pun langsung diam dan tidak lagi berbicara.
"Sekarang katakan, ada perlu apa?" tanya Angga, namun Nara bukannya menjawab melainkan langsung mengambil, jepit yang berada di rambutnya Angga..
"Memalukan, lo bilangnya kan mau berubah, tapi lihat ini!" pekik Nara dengan nada emosi.
"Maaf," ucap Angga yang langsung tertunduk.
"Kalau lo gak membuang barang-barang aneh itu. Sampai kapanpun lo gak bakal bisa berubah bodoh," kata Nara dengan wajah geramnya serta suara yang sudah sering di dengar oleh Angga.
"Maaf, tidak akan terjadi kecerobohan seperti ini lagi." Jawab Angga tertunduk karena malu, nyatanya apa yang ia katakan tempo hari. Belum bisa dijalankan sesuai apa yang dikatakannya.
__ADS_1
"Sudahlah." Nara pasrah dan tidak ingin berdebat soal Angga sementara waktu. Itu karena ada yang lebih penting.
"Gue butuh bantuan apa?" sekarang Angga mendongakkan kepala. Menatap wajah Nara cantik natural tanpa polesan makeup.
"Apa!" Angga mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Nara meminta bantuan kepadanya.
"Gue butuh kerjaan," ucap Nara dengan hati-hati.
"Apa aku gak salah dengar," ujar Angga dengan wajah mengejek.
"Apa aku terlihat seperti sedang membuat lelucon." Nara menatap sengit ke arah Angga, karena dia mengira jika Nara sedang bercanda.
"Terlihat lucu saja, bisa-bisanya kamu meminta pekerjaan kepadaku." Angga berbicara dengan nada datar, karena merasa jika semua ini sungguh tidak lucu.
"Bukannya lo bantuin gue, justru lo makin membuat gue muak!" marah Nara karena Angga menganggap ucapannya adalah sebuah lelucon.
"Bukan begitu Na, kamu kan sudah ada pemasukan. Kenapa harus minta aku sih," terang Angga dengan suara khasnya, suara manja yang selalu membuat Nara jijik.
"Apa lo sedang waras, makanya otak lo sedikit sehat." Nara mendengus kesal, kalau memang dirinya mempunyai kemasukan, tidak akan mengemis pekerjaan seperti sekarang.
Ck … ck.
Angga berdecak kesal, karena Nara belum juga sadar dan mengerti. Dengan apa yang disampaikan barusan.
"Apa kamu memang tidak tahu, atau hanya memang pura-pura tidak tahu!" sungut Angga dengan nada kesal karena Nara tak kunjung paham.
"Ketimbang lo banyak omong, mending sekarang katakan. Apa yang lo maksud!" seru Nara dengan tatapan jengah.
"Cek rekening lo, biar tahu pemasukan darimana. Biar kamu gak ngemis kerjaan juga sama aku," ujar Angga yang menyuruh Nara untuk mengecek saldo di mobil bengkelnya, yang berada di ponsel.
"Kenapa masih menatap aku seperti itu," imbuh Angga lagi.
Nara dengan ragu-ragu membuka ponsel sesuai instruksi Angga, dan menekan tombol pin nya, lalu.
"APA INI MIMPI?"
__ADS_1