
Akhirnya Mama Rena, bisa bernafas lega karena ternyata suaminya tidak jadi bertanya. Perihal khayalannya yang sudah tidak sabar ingin menggendong cucu.
Syukur, gak jadi tanya.
Mama Rena menghela nafas, dan setelah itu mengikuti langkah suaminya, dan entahlah siapa yang bertamu sekarang itu pun masih belum dilihat.
"Lho, Angga!" tegur Pak Prabu yang sudah membukakan pintu dan ternyata Angga lah yang pulang.
"Habisnya, tumben pintu di kunci?" ujar Angga dengan wajah lesu.
"Tanya gih sama Mama kamu, oh ya. Kamu darimana?" tanya Pak. Prabu dengan memicingkan matanya lantas bertanya pada Angga.
"Dari—."
"Angga sudah dapat belum?" Angga yang belum selesai menjelaskan darimana dirinya tadi, namun suara sang Mama. Membuatnya menjeda ucapannya.
"Calon mantu apa sih, Ma!" Angga menyahut dengan muka penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Kamu dari cari pacar, Kan?" Mama Rena terus mendesak supaya Angga mau berbicara.
Ckckck.
Dasar si Mama, apa dipikir cari pacar itu muda?
Angga mendengus kesal karena perkataan Mama Rena yang tak masuk akal. Pulang bukannya bukannya disambut dengan makanan. Namun, justru mendapat sambutan dengan kata-kata 'Pacar' dan itu membuatnya kesal.
"Apa Mama Pikir cari pacar semudah mencari kecoa!" pekik Angga yang semakin kesal karena ulah sang Mama.
"Harusnya kan dapat. Orang kamu juga tampan dan juga sangat berwibawa," ujar Mama Rena yang memuji Angga supaya lebih PD, untuk secepatnya mencari pasangan hidup.
"Sudahlah Ma, kasihan kalau Angga terus kamu desak seperti itu." Pak Prabu langsung melengos meninggalkan Mama Rena, setelah kata pembelaan terucap dari bibirnya.
Mama Rena yang mendengar itu pun lantas menghela nafas dalam-dalam. Menurutnya kalau Angga sudah lebih dari cukup untuk bisa memberikan dirinya cucu.
Ibu dan anak itu. Sedari tadi terus berselisih paham karena pendapat mereka berdua berbeda.
__ADS_1
Hingga Mama Rena yang terus di yakinkan agar tetap percaya, kalau Angga bisa mendapatkan calon istri.
.............
Keesokan paginya di rumah Nara.
"Na, kapan kamu nikah sama Angga. Ingat, jangan lama-lama karena itu tidak baik." Mak Rohayah yang sedang makan pun. Tak lupa terus mengingatkan Nara, untuk secepatnya menikah. Menurut Mak Rohayah kalau Nara sudah pantas untuk berumah tangga.
"Mak, adakah yang lain dan gak harus bahas soal pernikahan." Nara yang menjawab dengan mulut yang penuh oleh Nasi. Menurutnya ini bukan saatnya untuk membahas soal pranikah.
Nikah dan nikah lagi, seperti tidak ada yang lebih penting lagi.
Di dalam pikiran Nara. Jika Mak Rohayah tidak mengerti dengan takdir yang sudah dilalui oleh Nara, menikah bukanlah hal yang mudah untuk di segerakan. Buruh mental yang kuat dan penuh keyakinan, kalau harus melangkah lebih jauh lagi.
Lagian Nara juga belum ada calon. Bagaimana bisa menikah dan entah kenapa Nara belum mendapatkan dengan sesuai hatinya. Bukan niat memilih namun Tuhan masih belum mempertemukan mereka saja.
"Jangan mengalihkan perhatian, Na. Apa kamu tidak malu mendengar gunjingan dari luar sana! Banyak orang-orang yang mengatakan jika kamu itu adalah perawan tua," jelas Mak Rohayah pada Nara, karena beliau juga tidak sanggup jika telinganya. Harus mendengat gunjingan akan putrinya yang tak kunjung menikah.
__ADS_1
"Sudahlah Mak, kita ini kan tidak numpang hidup di tetangga. Jadi, buat apa dipikirin." Jawab Nara dengan diiringi gelengan.