
Keesokan paginya.
"Na, kamu gak sarapan dulu?" tanya Emak Rohayah.
"Gak Mak, nanti saja di sana beli makanan soalnya perutku masih belum merasakan tanda-tanda lapar." Jawab Nara dengan langkah sedikit tergesa-gesa karena ia pun akan berangkat ke toko.
"Mau bawa jengkol gak?" Mak Rohaya yang sekarang sedang menawari jengkol pada Nara. Langsung mendapati pelototan, apa Mak nya pikir jika dirinya sedang berada di rumah, dan dengan dengan enaknya menikmati jengkol cih, bisa-bisa Mak nya menawari jengkol yang orang anggap sebagai racun bau.
"Mak, aku kan mau ke toko. Kenapa pula harus bawa jengkol, kayak macam orang mau numpang makan di kebun tetangga saja!" sungut Nara dengan nada kesal.
Bukan perkara dirinya tidak mau, hanya saja menjaga harga dirinya dari para pembeli maupun dari karyawannya. Kalau hal itu sampai terjadi yang ada urusan bisa panjang hanya karena jengkol.
"Kaga Mak, ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu." Akhirnya Nara benar-benar pergi dari pandangan Mak Rohayah.
Nara pun melajukan kendaraannya seperti biasa.
Saat berada di mobil. Nara tidak sengaja melihat anak kecil sedang duduk di pinggiran jalan. Merasa kasihan akhirnya Nara pun turun dan tidak lupa membawa satu lembar uang berwarna merah.
"Kasihan anak itu, pasti dagangannya sepi." Nara pun turun dan bergumam saat melihat anak kecil tersebut.
"Dik, Adik jualan apa?" tanya Nara basa-basi.
__ADS_1
"Jualan roti Kak, Kakak mau beli." Jawab anak itu.
"Boleh," Nara pun melihat-lihat roti yang akan belinya.
"Berapa semua ini?" tanya Nara.
"60 ribu, apa Kakak mau beli semuanya?" ujar bocah lelaki kecil itu.
"Tentu, kenapa tidak." Nara menjawab dengan diiringi sebuah senyuman.
Akhirnya Nara pun memberikan selembar uang 100 ribu, pada bocah yang sekarang diborong dagangannya oleh Nara.
"Anggap saja itu bonus buat kamu," kata Nara tersenyum.
"Beneran Kak, ini buat aku."
"Iya, itu buat kamu."
"Makasih ya Kak." dengan senyuman yang mengembang bocah lelaki itu langsung tersenyum karena merasa beruntung bertemu dengan Nara.
Setelah memberikan uangnya dan Nara pun mengambil sekantong roti dari tangan mungil bocah lelaki, yang kini sudah berjalan lagi. Entah sepertinya ia sedang perjalanan pulang karena terlihat sangat buru-buru.
__ADS_1
"Nara yang sudah siap untuk menyebrang pun melihat keadaan kiri kanan. Merasa tidak ada kendaraan yang terlalu dekat, maka ia pun gegas berlari ke arah mobilnya.
Aaaaaaaaaaa.
Brakh.
Namun pada saat menyeberangi sebuah mobil yang tak dapat dihindari telah tiba-tiba seperti terkena hantaman yang sangat keras.
" Bangunlah dan segera buka matamu," suara bisikan membuat Nara langsung menurunkan tangannya dari kedua telinganya. Tidak lupa mata yang semula terpejam, kini dibukanya dengan perlahan.
"Nek, Nenek kamu di mana?" teriak Nara yang kebingungan mencari suara Nenek-nenek yang sudah membisikinya.
Nara yang tidak menemukan suara serta wujud dari suara barusan. Memilih menyudahinya karena netranya tertuju pada mobil yang dikerumuni oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
Terlihat mobil berwarna hitam menabrak pohon yang berada di pinggir jalan. Hingga membuat kerusakan mobil hampir 40% karena penyok.
Kenapa itu mobil, pikir Nara yang terus bertanya-tanya.
Tidak jauh dari Nara, supir mobil langsung di bawa ambulan karena lumayan di sekujur tubuhnya banyak luka seperti itu goresan.
Dalam hati Nara juga bertanya-tanya entah semua ini kejadian di sengaja atau memang hanya kebetulan. Nara pikir semuanya seperti di sengaja tapi bisikan tadi, bisikan tadi apa maksudnya.
__ADS_1