Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Siapa pria itu.


__ADS_3

Sekeras apapun Nara berteriak, nyatanya Jali sudah lebih dulu berlari ke luar, karena ia tahu jika tidak segera pergi. Yang ada dirinya dijadikan rempeyek oleh Nara.


"Dasar sialan, berani-beraninya dia ngerjain gue!" gerutunya.


"Duh, Mampus gue." Tangan Nara yang masih memegang gagang sapu. Tidak luput dari pelototan Mak Rohayah, dan seketika sapu pun diturunkan oleh Nara.


"Eh Emak, Mak ngapain ada di sini?" sambil cengengesan Nara bertanya perihal Maknya yang sedikit aneh dari yang tadi siang.


"Emak kenapa, mirip orang gak dikasih jatah saja."


Ups.


Nara yang fokus untuk mencari tahu lewat kelebihannya. Tiba-tiba tertunduk dan matanya menelusuri ruangan yang ada di sekitarnya.


"Duh, mati gue." Nara yang sudah tahu akan kesalahannya kenapa Mak Rohayah, bisa berubah layaknya orang yang sedang dendam. Buru-buru mengambil ancang-ancang.


Nara yang diam-diam membatin, dan sudah bersiap untuk kabur dan.


"Satu, dua tiga … Kaburrr!"


"Woe … dasar anak durhakim kamu ya, bisa-bisanya semua barang ada di lantai! Naraaa."


Mak Rohaya langsung melemparkan wajah kemarahan pada Nara. Bagaimana tidak marah jika semua barang berserakan di lantai. Namun, Nara bukannya bertanggung jawab justru malah kabur.

__ADS_1


"Dasar, apa anak itu pikir membersihkan lantai itu tidak capek. Sudah berumur juga belum ngasih Mak nya cucu. Anak macam apa itu," oceh Mak Rohayah yang sedari tadi mengomel karena kelakuan Nara. Hingga Mak Rohayah harus membersihkan ruangan layaknya kapal pecah dan barang-barang berserakan.


Di sisi lain.


"Kamu mau ke mana?" tanya sosok perempuan paruh baya itu, yang sedang melihat anak lelakinya sedang bersiap-siap untuk pergi.


"Mau keluar Ma, nyamperin temen." Jawab pria itu.


"Apa Mama harus percaya dengan perkataanmu?" ujarnya dengan kedua tangan terangkat.


"Apa maksud, Mama!" sahut pria itu menatap lekat ke arah sang Mama.


"Bisa jadi itu alasan kamu saja kan, ingat jika itu benar. Jangan lupa untuk memperkenalkan kekasihmu pada kami," tantang perempuan itu lagi, dan seketika sang anak pun menghela nafas berat.


Huff.


"Ada-ada saja si Mama, apa segampang itu mencari seorang istri?" decak pria yang sekarang sudah di jalan raya. Untuk saat imi tujuannya adalah ke rumah seseorang yang dalam beberapa hari mengisi bunga tidurnya, entah apa maksud dari mimpi itu yang pasti di dalam mimpinya hanya melihat sosok yang dalam sebulan tengah menghantui pikirannya. Meski dirinya jauh di desa, sosok itu menjadi bayang-bayangnya hingga memutuskan untuk kembali ke desa.


Beberapa kemudian.


Tok! Tok! Tok!


Dengan tekat yang bulat. Lelaki tengah berdiri di depan pintu menanti seseorang tengah membukanya.

__ADS_1


Satu ketukan, dua ketukan dan tiga ketukan.


Belum ada sahutan dari dalam.


Hingga ia pun mencoba mengetuk untuk keempat kalinya, namun belum sempat tangannya menyentuh daun pintu. Suara menggelegar memekik di telinga pria tersebut.


"Woe … lo mau maling di rumah gue, ya?"


"Naraya!"


"Siapa lo, kok lo tau nama gue." Nara pun dibuat kebingungan pasalnya bagaimana pria tampan itu bisa tahu namanya. Sedang Nara sendiri tidak mengenal sosok tersebut.


Lelaki itu pikir jika Nara benar-benar melupakan dirinya, karena sama sekali tidak mengenali nama dan juga wajahnya.


"Jawab gak, lo!" hardik Nara lagi dan terlihat lelaki itu mengacak-acak rambutnya dan terlihat frustasi.


"Eh, kenapa gue gak bisa dengar suara hati ini orang?" dalam hati Nara pun bertanya-tanya kenapa dirinya tidak dapat mendengar akan isi hati orang yang ada di depannya.


"Lagian siapa sih lo, sok kenal banget deh sama gue." Nara terus mencerca lelaki tersebut agar mau mengatakan siapa dirinya dan tidak bertele-betele.


"Aku ... Aku ... Aku---,"


"Aku siapa? Jawab yang bener!"

__ADS_1


__ADS_2