Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
10. Karena jiwa mereka berbeda


__ADS_3

Keesokan paginya.


Nara sudah merasa jika dirinya sudah membaik, perut yang semula sakit. Kini sudah tidak lagi, di tambah ia meminum jamu yang diberikan oleh Mak Rohayah dan itu membuatnya jauh lebih baik.


Sekarang, Nara sudah berada di dapur. Seperti sebelum-sebelumnya ia akan memasak menu pagi. Untuk sarapannya dan Emaknya.


Dari luar, Mak Rohayah mencium bau wangi dari masakan Nara, dan itu membuat beliau langsung berjalan ke dapur, karena aromanya membuat beliau langsung merasa lapar.


"Masakan kamu wangi banget Nara." Mak Rohayah begitu sangat lahap apabila jika Nara yang memasak, karena begitu pas di lidah menurutnya.


"Tentu dong. Siapa lagi masak, aku gitu lho." Nara dengan berbangga hati memuji masakannya sendiri, dengan senyuman yang terlukis di bibirnya.


"Kamu belajar masak darimana sebenernya. Bukannya kamu tadinya gak bisa masak ya," kata Mak Rohayah karena memang, itulah kenyataannya yang terdapat pada putrinya. Lalu, dengan hitungan waktu yang sangat singkat. Nara bisa memasak dengan sangat enak. Mengerjakan semua pekerjaan rumah, tidak ada lagi Nara yang bar-bar dan tidak ada lagi Nara yang jahil. Semua berubah dalam sekejap, perubahan yang sangat drastis bukan.


Setelah memasak Kini keduanya sudah berada di meja makan. Bersiap untuk sarapan, namun tiba-tiba suara dering gawai milik Nara bergetar, menandakan jika seseorang tengah menghubunginya.


"Siapa Na, dan segeralah angkat. Berisik," tegur Mak Rohayah pada Nara.


"Iya Mak, ini juga mau di angkat." Jawab Nara dengan suara lesu nya.


πŸ“²"Halo, ada apa?" setelah mengangkat Nara pun bertanya.


πŸ“²"Bisa elo datang ke bengkel," timpal seseorang yang tengah menyuruh Nara, untuk datang. Entah apa yang mereka ingin bahas. Bukankah orang-orang itu meminta Nara untuk libur, dan sekarang mereka juga yang menghubungi untuk datang.


πŸ“²"Bukannya aku udah tidak boleh datang ke sana lagi," kata Nara dengan wajah sedihnya.


πŸ“²"Jangan banyak tanya, pokoknya nanti elo datang saja ke bengkel." Jawab seseorang itu yang tak ingin mengatakan panjang lebar. Untuk apa Nara diperintahkan untuk datang.


πŸ“²"Kalau kamu gak ngasih tau aku, gimana kalau kalian sengaja mengerjaiku seperti tempo hari? Aku gak mau menimpaku lagi, ya." Ucapan Nara seketika membuat seseorang langsung menghela nafasnya.


πŸ“²"Gak akan terjadi dengan hal itu, percayalah. Di bengkel aku menunggumu," ucap seseorang penuh keyakinan agar Nara mau datang ke bengkelnya.


πŸ“²"Ta–."


Tut.


Tut.


Tut.


Tut.

__ADS_1


Belum sempat Nara berbicara lagi, ia diminta datang untuk apa! Namun sambungan telepon sudah diputuskan secara sepihak.


Nara meletakkan kembali ponselnya. Dengan hati yang bertanya-tanya, lantas ia pun kembali ke meja makan untuk sarapan.


"Siapa Na, yang telepon?" tanya Mak Rohayah setelah berada di dapur.


"Jali Mak, katanya aku disuruh ke bengkel. Gak tau mau ngapain," ujar Nara dengan tangan yang tengah menyendokkan nasi ke dalam piringnya.


"Terus?" Mak Rohayah meletakan sendoknya dan kembali menatap Nara, dengan rasa penasaran.


"Cuma bilang ada yang penting." Jawab Nara.


"Lagian kamu kenapa bisa diberhentikan sama mereka? Dan juga ini kan aneh, biasanya mereka tidak dapat pekerja kalau gak ada kamu. Lah ini malah kamu dipecat," ucap Mak Rohayah yang mulai berani membahas soal pekerjaannya Nara, jika terus begini yang ada bisa-bisa puasa. Sedangkan puasa ramadhan masih dua bulan lagi, tapi mereka akan segera puasa jika Nara tidak dapat pekerjaan.


"Melihat wajah Mak Rohayah yang tidak enak dipandang. Membuat Nara sedikit merasa tidak enak, pasalnya ia tahu jika pemasukan hanya didapatkan kalau dirinya kerja.


Tapi sekarang, sekarang justru ia menjadi seorang pengangguran.


Tidak berapa lama kemudian, keduanya sudah selesai sarapan. Nara yang saat ini tengah duduk di bawah pohon halaman belakang, tampak sedang melamun.


" Aku tahu apa yang Mak pikirin. Pasti sedang mikir kalau begini terus bakal puasa nantinya," batin Nara dengan sesekali tangannya memainkan rumput.


"Ternyata hidup Nara miris ya," batinnya lagi.


Pukul empat sore. Di bengkel Jali dan Dani tengah mengobrol, sedang membahas sesuatu.


"Bagaimana tadi, waktu elo telepon?" tanya Dani pada Jali.


"Tadinya mau nolak, tapi gue ngeyakinin kalau kita kagak bakal usilin dia lagi."


"God Jali, ini untuk rencana kita dan semoga itu anak mau ikut membantu."


"Iya, gue harap dia mau diajak kerja sama. Dengan begitu temen kita bakal balik," keduanya tengah mengobrol hingga tanpa terasa kalau hari semakin sore.


"Elo udah bilang juga kan sama Angga, dan udah bicara sama dia?" Dani yang baru teringat langsung mengalihkan pembicaraan dan mulai membahas Angga.


"Udah, lo tenang saja. Semua aman terkendali kalau sama gue," jawab Jali dengan bangga. Tidak lupa dengan gayanya yang menaikan kra bajunya. Seakan-akan supaya terlihat cool.


"Oke kalau begitu. Sekarang kita balik ini udah hampir setengah enam." Dani pun mengajak Jali keluar dari bengkel dan akan menutupnya.


……..

__ADS_1


Esok harinya.


Sekarang tepat pukul sepuluh siang. Angga yang berada halaman belakang, seperti biasanya.


Tengah asik menikmati semilirnya angin yang terasa sepoi-sepoi.


Hingga suara dering membuatnya hampir terjatuh dari atas sana.


"Ini orang ganggu saja," gerutu Angga pada saat membuka pesan singkat dari aplikasi hijau.


Sesaat.


"Astoge … gue lupa,"


Dengan secepat kilat Angga langsung meloncat dari pohon mangga, dan langsung masuk ke dalam rumah namun.


"Huaaaaa … ada kuntilanak … ampun, ampun." Angga berteriak histeris karena matanya tanpa sengaja melihat penampakan yang teramat penyeramkan.


Bagaimana tidak, wajah yang putih seputih kapur. Rambut panjang yang tergerai dan tidak lupa daster yang kebesaran. Ia yakin jika dilihatnya adalah sosok kuntilanak yang sedang caper di siang bolong.


Angga yang sangat ketakutan langsung berjongkok dan menutup kedua matanya. Berharap jika membuka matanya nanti, kuntilanak caper itu sudah pergi.


"Siapa yang kamu bilang kuntilanak?" sosok itu pun terlihat marah kala mendengar kata-kata demit kepadanya.


"Ya kamu, masa gue! Lagian kenapa elo muncul di siang bolong kunti. Kelihatan kalau lo caper ya (cari perhatian) sama manusia," ucap Angga dengan posisi yang tetap menunduk.


Perempuan yang disebut kunti itu pun semakin geram dan mata yang membulat serta wajah sudah dikuasai oleh kemarahan, semakin maju dan semakin mendekati Angga.


"Dasar durhakim kau, ya!" geram seseorang yang sudah bersiap untuk menelan hidup-hidup Nara.


"Jangan menunduk dan lihat! Siapa yang kamu bilang kuntilanak barusan," imbuh wanita tersebut dengan hati yang dongkol agi.


Deg.


"Suaranya, ini mirip suara…."


Aaaahhh.


"Ampun, Ampun tolong lepasin telinga aku."


"Lagian siapa suruh kamu mengatakan jika wajahku ini mirip kuntilanak. Huh," wanita itu terus menarik telinga Nara, hingga Nara merintih kesakitan.

__ADS_1


"Iya, iya. Tadi khilaf," ucap Nara.


__ADS_2