
"Ada masalah apa lo, sampai berani-beraninya nampar gue!" seru orang itu yang tak lain adalah Mirna. Merasa kaget karena Nara tiba-tiba datang dan langsung melayangkan sebuah tamparan.
"Karena lo pantes ngedapetinnya," balas Nara tak kalah sengitnya, karena rasa kesal yang sudah menjalar sampai di ubun-ubun.
"Wah … Wah … jangan-jangan kalian pasangan ya, makanya bisa yang satu disakitin dan yang satu gak terima?" kata Mirna dengan dengan senyuman licik.
"Itu bukan urusan lo, ya."
"Cih, miskin saja belagu." Mirna mengumpan dalam hati dan siapa sangka jika Nara tahu akan hal itu.
"Meskipun gue miskin ada masalah lo, sama gue." Jawab Nara dengan memicingkan satu matanya.
"Karena kalian cocok," kata Mirna dengan nada mengejek.
"Dia pacar Jali."
Uhuk.
Uhuk.
Pada saat Dani mendengar penuturan Nara, Ia pun langsung tersedak. Tidak menyangka kalau Mira adalah kekasih dari Jali.
"Dasar perempuan mata duitan, ingat! Gue akan menjauhkanmu dari sahabat gue, karena Jali terlalu baik dan lo terlalu sombong. Maka dari itu siap-siap saja," ucap Dani dengan nada peringatan.
"Coba saja kalau bisa, sebentar lagi gue sama temen lo itu akan menikah. Gue yakin Jali bodoh itu tidak akan membatalkan acara itu hanya karena kalian berdua!" seru Mirna dengan nada bangga dan yakin, kalau Jali tidak akan melakukan hal itu. Secara Jali juga sudah cinta mati kepadanya jadi mana mungkin hal itu terjadi pikir Mirna.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan berhasil." Nara tersenyum sinis pada Mirna.
"Dasar bedebah." Setelah berbicara Mirna langsung melenggang pergi meninggalkan Nara dan juga Dani.
"Dan, lo kenal sama itu cewek songong?" tanya Nara pada Dani.
"Bukan lagi kenal. Dia mantan gue setelah tau salah satu usaha gue bangkrut, itu cewek ninggalin gue sama laki-laki lain." Dani pun menjelaskan dengan kedua tangan yang terkepal. Mengingat setiap kejadian waktu bersaka wanita itu. Merasa jika dirinya terlalu bodoh karena mau saja dibuat mesin ATM, oleh Mirna yang tak pernah mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
Nara yang mendengar itu, merasa amat kasihan pada Dani. Merasa jika tidak pantas jika sahabat-sahabatnya mendapatkan yang tidak seharusnya ia dapatkan. Dani dan Jali adalah sosok lelaki yang baik serta bertanggung jawab.
"Gue doain lo dapat cewek baik, karena lo adalah sosok lelaki yang baik. Semoga dengan kejadian ini lo bisa lebih seleksi lagi dalam memilih," ujar Nara dengan wajah serius menatap lekat ke arah sahabatnya.
"Makasih ya Na, lo emang sahabat gue yang paling baik." Dani pun memeluk Nara dengan sangat erat.
……….
Sedangkan di tempat lain.
Seorang wanita dan lelaki tengah asik berduaan tegang mengobrol dengan sangat serius.
"Apa kamu yakin jika wanita itu sangat berbahaya?" tanya lelaki itu pada perempuan yang tidak jauh dari tempat duduknya.
"Gue yakin, kalau wanita itu akan jadi benalu akan hubungan gue sama Jali, maka dari itu yang sekarang gue pengen dari elo. Kasih pelajaran sama itu anak," kata sosok perempuan dengan kedua tangan yang terkepal. Menahan kekesalan yang amat luar biasa. Mereka sekarang tengah menyusun rencana untuk mencelakai seseorang yang dianggapnya benalu.
"Baiklah, demi kamu aku akan melakukan apapun yang kau mau. Asal kamu senang dan puas tapi … semua itu tidak gratis," ucap lelaki itu dengan senyuman jahatnya.
Entah apa yang membuat wanita itu sangat ambisi untuk menghancurkan seseorang?
"Aku akan melakukannya jika waktunya sudah tepat," kata pria tersebut dengan kedua tangan memegang dengan halus jemari-jemari yang terdapat di hadapannya.
Wanita itu tersenyum puas karena ada seseorang yang rela melakukan apa saja, hanya demi cinta.
"Lebih cepat lebih baik, karena gue pengen secepatnya wanita brengsek itu enyah dari dunia ini." Jawaban perempuan itu membuat lelaki tampan yang terus membelai anggota tubuhnya itu tersenyum.
"Kamu tenang saja."
Sedangkan di rumah Nara, saat dirinya tengah asik makan. Tiba-tiba saja merasakan dengungan pada kedua telinganya, dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Nara! Kamu kenapa?" melihat gelagat aneh, Mak Rohayah bertanya karena sepertinya ada yang tidak beres dengan putrinya itu.
"Nara!" ulang Mak Rohayah lagi.
__ADS_1
"Eng–gak Mak, Mak tenang saja." Sedikit gelagapan namun Nara harus bisa mengontrol ucapannya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Mukamu saja merah seperti itu dan kamu pun terlihat sangat tidak nyaman. Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Mak Rohayah yakin jika Nara sedang mengalami sesuatu. Hanya saja dirinya tidak mau bicara dan itu membuat Mak Rohayah semakin khawatir.
Dengan hembusan sangar, akhirnya Nara mengatakan sesuatu yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini dengan telinganya. Tidak hanya satu atau dua kali, dan itu hampir sering terjadi kepadanya.
"Telingaku berdengung Mak, sangat tidak nyaman dan entah kenapa bisa seperti ini." Nara pun akhirnya berkata jujur pada Emak nya.
"Itu kan hal yang wajar," timpal Mak Rohayah.
"Iya aku tahu, tapi tidak sekeras ini rasanya. Mak tahu rasanya telingaku mau budek," kata Nara mengeluhkan yang terjadi dengan kedua telinganya.
"Mana? Biar Mak lihat." Akhirnya Nara membuka telinganya dengan kedua tangannya lalu.
"Astaga Nara! Kenapa telingamu seperti buah strawberry," ujar Mak Rohayah sedikit terkejut dengan warna telinga Nara karena berwarna kemerahan.
"Apa itu sakit?" tanya Mak Rohayah sok polos.
"Kaga Mak, cuma panas." Jawab Nara dengan kesal.
"Kan Mak cuma bertanya," ujar Mak Rohaya dengan senyuman dibuat-buat.
"Mak tanya atau bertanya-tanya, ngeselin banget dah." Nara memanyunkan bibirnya karena jawaban Mak Rohayah tidak membuat Nara merasa tertolong sama sekali menurutnya.
"Dua-duanya," kata Mak Rohayah.
Ck … ck.
Nara berdecak sebal karena pertanyaan sang Emak hanya membuat semakin terasa panas, entah apa yang sebenarnya terjadi. Semenjak jiwanya kembali hal yang tidak mungkin sekarang menjadi mungkin. Namun, semua itu tidak membuat Nara bahagia karena merasa jika kelebihan yang ia miliki adalah siksaan baginya.
"Udahlah Mak, aku mau ke kamar dulu." Nara lantas meninggalkan Mak Rohayah sendirian, karena terus-terus yang ada kepalanya juga bisa mengeluarkan asap.
"Lha ini anak macam mana, orang belum kelar makan main ditinggalin." Nara yang sudah beranjak tidak menghiraukan teriakan Mak Rohayah, dan langsung pergi menuju ke kamar rencana hendak beristirahat. Menenangkan pikirannya dari kekacauan dengan apa yang terjadi seharian ini.
__ADS_1