
"Ba-baik Nyonya, saya akan melakukan perintah seperti yang anda mau." Jawab seseorang itu yang kini sedang diperintahkan untuk mencelakai targetnya.
"Sekarang pulanglah, karena aku ada urusan yang tak kalah pentingnya." Wanita itu lantas menyuruh pria dengan postur tubuh kekar untuk pergi, karena wanita itu juga sekarang tengah terburu-buru sepertinya.
Dengan kepala yang tertunduk sebagai kehormatan, pria itu melenggang pergi meninggalkan rumah bosnya.
"Aku harus terlihat rapi agar Jali tidak banyak tanya," ujarnya lirih dan terus merapikan rambut serta bajunya agar terlihat bagus.
"Beres."
Setelah itu memasuki mobilnya dan sudah siap untuk bertemu sang pujaan hati.
Setengah jam kemudian.
"Maaf lama, apa kamu tidak masalah?"
"Tentu saja tidak," dengan seulas senyuman yang terbit di sudut bibir Jali, ia berbicara dengan suara lembut.
"Sekarang duduklah karena kita akan makan dulu, sebelum berbincang-bincang." Ucapan Jali pun mendapat persetujuan sang kekasih.
Keduanya pun menikmati makanannya penuh dengan hikmat, dan setelah makan Jali mulai membuka obrolan.
__ADS_1
"Kamu tahu sayang, jika aku mempunyai dua sahabat selain Nara! Rencana nanti aku akan mengenalkanmu agar kelak, saat kita sudah menikah kamu pun tidak kaget dengan tingkah laku teman-temanku."
"Perempuan atau lelaki?" tanya Mirna yang sedikit penasaran karena memang belum tahu jika Jali memiliki satu teman lagi selain Nara.
"Laki-laki namanya Dani, dan kita pernah satu kerjaan." Jawab Jali.
"Apa jangan-jangan Dani yang–,"
"Ah sudahlah. Siapa tahu aku hanya asal menebak karena Dani itu nama pasaran," ucap Mirna dalam hati yang tak ambil pusing dengan semuanya.
"Sayang, apa kamu mendengarku?" Jali yang melihat wajah Mirna nampak orang yang sedang berpikir, langsung memanggilnya karena sedari tadi Mirna tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Jali.
"Kamu itu kenapa sih, dari tadi di ajak bicara gak ada nyambung-nyambungnya?" tanya Jali dengan mimik wajah frustasi.
"Maaf sayang, aku sedikit tidak enak badan. Makanya pas kamu ajak ngobrol kurang merhatiin," ucap Mirna beralasan.
"Baiklah, aku minta maaf karena sempat meninggikan suaraku." Jali memegang kedua tangan Mirna dan meminta maaf, atas sikapnya yang sedikit tidak peka.
"Tidak apa-apa kok, karena memang aku kurang enak badan dan tidak fokus jadi tidak salah kalau kamu marah." Jawab Mirna dengan ucapan mengandung pemanis buatan, hingga yang mendengar bisa-bisa terkena diabetes.
"Sekarang aku antar pulang ya, dan kamu langsung istirahat." Mirna yang tak ingin berpikir panjang. Langsung mengiyakan karena sesungguhnya ia pun merasa lelah karena telah menghabiskan tenaga, hanya untuk melampiaskan kekesalannya.
__ADS_1
Akhirnya Mirna diantar oleh Jali pulang, dan pertemuan pun berakhir karena merasa tidak tega dengan kekasihnya yang sedang tidak enak badan.
Sedangkan Mirna tertawa puas karena dengan begitu dirinya bisa mengelabui Jali, dengan alasan jika dirinya sedang tidak enak badan. Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu.
Setengah jam kemudian, mereka berdua sudah berada di rumah Mirna dan Jali pun berniat untuk membuatkan teh hangat untuk kekasihnya, namun siapa sangka jika kebaikannya di tolak oleg Mirna dengan alasan tidak suka teh.
"Jaga dirimu baik-baik aku akan segera pulang, tapi … apakah kamu yakin jika tidak mau dibuatkan teh," ujar Jali bertanya sekali lagi untuk memastikan, sebelum langkahnya pergi meninggalkan rumah Mirna.
"Beneran gak usah, dan lebih baik kamu pulang lalu setelah itu. Istirahat juga karena cuanya sedang tidak enak," ucap Mirna yang menyakinkan Jali, bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Baiklah, aku pamit." Dengan berbagai alasan hingga membuat Jali tidak masuk dan memutuskan untuk pulang."
Drrttt.
Drrttt.
Tepat saat Jali sudah menjalankan mobilnya. Suara getaran gawai, membuyarkan lamunan Mirna dan langsung buru-buru untuk mengangkatnya.
Dengan senyuman yang merekah, tombol berwarna hijau itu pun di geser untuk mengangkat panggilan tersebut.
📲"Tenanglah, dia sudah pergi. Jadi, kamu bebas untuk datang ke sini."
__ADS_1