
Setelah Angga mengutarakan akan isi hatinya. Beberapa detik kemudian, Nara datang dengan tangan membawa kotak.
"Lo bawa apa banci?" tanya Dani pada Nara saat ia baru saja masuk ke dalam bengkel.
"Kue, nih." Nara pun menyodorkan kue pada mereka.
"Beracun kaga?" Jali melirik ke arah Nara, hanya sebuah candaan tidak lebih dengan apa yang ia katakan.
"Iya, kalau kamu yang makan maka wajahmu berubah jadi kodok." Jawab Nara dengan mencabikkan bibirnya ke depan.
"Itu bibir kalau di monyongin bisa kepentok sama tembok, manyun aja lo!" Angga menimpali dengan sebuah ucapan sedikit menyakitkan, namun bagi Nara itu sudah hal biasa.
"Aku mau jualan kue, Ngga minta modal buat sewa toko dong." Nara tidak menimpali ucapan Angga sewaktu tadi, dan lebih untuk meminta uang pada sosok lelaki yang berada di sampingnya itu. Namun semua itu hanya orang-orang yang tidak tahu kebenarannya.
"Lo kira, gue Mak lo apa!" dengus Angga saat menjawab permintaan Nara.
"Tabungan ku ada banyak, mungkin sekarang ada 200 jutaan, makanya aku mau minta buat modal." Angga langsung diam, karena apa yang dikatakan Nara memang betul jika di ATM, terdapat uang yang jumlah nya lumayan banyak.
"Bagaimana kamu tahu?" Angga menatap tidak percaya dengan perhitungannya Nara, nyatanya apa yang baru saja ia dengar adalah benar.
"Ayah aku ngasih 25 juta, dan itu lain dari Mama. Makanya aku bisa tahu, dan uang itu biasanya aku gunain buat donasi ke panti." Jawab Nara dan itu membuat ketiga orang yang duduk, langsung melongo.
Meski Nara ada kekurangan namun tidak dengan hatinya. Mungkin itulah yang ada di pikiran masing-masing.
"Memangnya lo serius mau buat toko kue?" tanya Angga dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Iya, karena kue adalah separuh dari jiwaku." Jawaban yang simpel, terdengar konyol namun itulah kenyataannya.
"Ini, ambillah. Memang ini bukan hak gue, karena elo adalah pemilik yang sesungguhnya." Angga pun memberikan sebuah ATM, pada Nara dan menyerahkan hartanya pada pemiliknya.
"Gue tahu lo bisa menjadi sosok lelaki pada umumnya, asal di hati elo ada kemauan dan gue akan berusaha untuk membantu menjadi apa yang seharusnya terjadi. Ayah Prabu sangat menginginkan elo buat menjadi pria yang tegas, gentle man. Agar elo bisa memegang perusahaannya kelak, jadi gak ada lagi yang diharapkan selain elo." Entah keberanian darimana, sampai-sampai Angga berbicara seperti itu, dan sok bijak pikirnya.
__ADS_1
"Jadi, Ayah memang sayang sama aku dan tidak mau memperlihatkan karena sifatku yang seperti ini?" Nara menatap Angga dengan mata berkaca-kaca karena yang ia tahu. Ayah Prabu tidak terlalu suka karena prilakunya selama ini.
Angga diam sejenak untuk mengatur nafas. Sebelum berbicara lagi untuk menyakinkan Nara.
"Ayah Prabu tidak pernah membencimu hanya saja, beliau terlalu gengsi untuk memperlihatkan. Yang Ayah Prabu mau lo jadi diri sendiri bukan menjadi seseorang yang tidak ingin beliau lihat.
Sekarang lah Nara baru sadar jika semuanya tidak seperti apa yang dipikirkannya.
" Aku akan berusaha, dan kalian semoga mau bantu aku."
Semuanya tersenyum, dan mereka juga akan berjanji bahwa ingin melihat sosok bukan lagi sebagai seorang bergaya perempuan,tapi menjadi sosok yang semestinya.
"Duh, udah deh. Jangan melo-meloan kek gini karena ini masih cukup pagi." Jali pun ingin menyudahi acara termehek-mehek karena ada yang harus di selesaikan untuk sekarang.
"Ya sudah kita berangkat ke Madam," ajak Dani pada teman-temannya.
………..
"Masuklah," setibanya di depan pintu dan hendak akan mengetuk, terdengar suara Madam menggema. Meminta keempat orang tersebut untuk gegas masuk.
Setibanya di depan Madam.
"Jika kalian bisa menyelesaikan syarat-syarat itu. Maka hukuman kalian akan selesai pada saat malam yang akan kalian tunggu," terang Madam dengan mereka berempat.
"Bagaimana dengan sebulan ini, apa kalian bisa melakukannya?" Madam bertanya lagi sembari menghisap putung rokok yang terdapat di sela-sela jemarinya.
"Kami sudah berusaha untuk melakukan itu Madam, setidaknya kami berdua juga sudah berusaha." Angga langsung menjawab dengan wajah dibuat sedatar mungkin, untuk menghilangkan kegugupan pada dirinya saat ini.
"Kerja bagus. Tuhan telah memilih kalian, untuk menjadi manusia yang lebih berguna lagi. Kalau kalian merasa ada yang aneh itu adalah hal yang wajar, karena semuanya masih butuh proses untuk beradaptasi." Mereka yang mendengar dibuat bingung dengan pernyataan yang dibuat oleh Madam, dan sama sekali tidak mengerti maksud dari semua ini.
"Apa maksud, Madam?" kini yang berbicaralah adalah Nara.
__ADS_1
"Tidak, Madam tidak bisa mengatakannya. Biarkan semua mengalir dengan sendirinya. Dengan begitu kamu akan tahu apa yang saya maksud," timpal Madam dengan mulut yang dipenuhi oleh asap rokok.
"Kalau Madam tidak mengatakannya, mana kita ngerti." Sekarang giliran Angga yang bertanya.
"Kamu nanti juga akan mengerti, karena dirimu bukanlah orang yang bodoh." Jawab Madam pada Angga, dan semua itu semakin membuat mereka penasaran.
Kata-kata Madam, terus terngiang-ngiang di pikiran Nara dan juga Angga. Apa maksud dengan semuanya, mereka tidak mengerti dan semuanya seakan menjadi misteri.
"Sebentar lagi akan menuju dimana kalian akan melakukan penukaran jiwa lagi. Datanglah ke pantai pada pukul delapan malam. Cari tempat yang nyaman untuk kalian tiduri, dan buat harapan dengan begitu semoga Tuhan akan menurunkan mukjizat pada kalian." Madam lantas menjelaskan dengan sangat detail.
"Memangnya mereka akan tidur bareng begitu, Madam?"
"Pertanyaan bodoh macam apa ini!" seru Madam saat mendengar keluhan dari Dani.
"Kan Madam sendiri yang mengatakan kalau mereka harus mencari tempat ternyaman untuk mereka tidur," ujar Dani lagi.
"Bukan begitu juga konsepnya bodoh, mereka akan tidur dengan satu tempat, tapi tidak bareng. Mereka juga harus memberikan jarak, kau paham bocah tengil." Hampir saja Madam marah, namun berusaha ia tahan, kekesalan yang dirasakan. Mencoba dihilangkan karena Madam pikir jika otak lelaki tersebut masih belum konek dengan perkataannya.
"Apa kalian paham?" kata Madam pada keduanya, yaitu Nara dan Angga.
"Mengerti, Madam." Jawab mereka bersamaan.
"Sekarang kalian boleh pulang dan semoga semua berjalan dengan lancar," ucap Madam dengan wajah dinginnya, dan tidak terlihat hangat sama sekali.
Sepulang dari rumah Madam. Mereka berempat memutuskan untuk pulang masing-masing. Hari ini adalah hari jumat, maka kebiasaan Dani akan menutup bengkelnya, dengan begitu ia bisa langsung beristirahat.
Sedangkan di rumah megah milik Mama Rena. Sekarang kedua pasangan suami istri itu tengah duduk di ruang tamu, tengah menunggu kepulangan Angga.
"Apa Mama yakin dengan apa yang dikatakan Angga waktu itu?" kata Ayah Prabu.
"Mama Yakin Pah, karena kata-kata itu tidak sekali dua kali yang Mama dengar."
__ADS_1