
Tok.
Tok.
Tok.
Saat Nara baru saja bangun. Terdengar suara ketukan dari luar.
"Iya, sebentar." Jawab Nara dari dalam.
Ceklek.
"Mak, ada apa?" tanya Nara pada Mak Rohayah.
"Ada teman kamu, namanya Angga. Orangnya ganteng pisan oe. Jangan-jangan dia pacar kamu ya?" Mak Rohaya bertanya dengan sangat antusias. Berharap apa yang dikatakannya adalah fakta. Jadi, Mak Rohayah tidak perlu khawatir pada Nara, yang ternyata diam-diam telah memiliki kekasih.
Setelah itu. Nara menghampiri Angga di ruang tamu.
"Angga!" Nara terkejut hingga membekap mulutnya saking tidak percayanya, karena tidak ada hujan, tidak ada angin tapi Angga berkunjung ke rumahnya.
"Ya sudah kalau begitu Mak tinggal dulu, ya." Lalu Mak Rohayah benar-benar menghilang dari pandangan mereka berdua.
"Kita ke halaman belakang, karena gue ada perlu sama elo, penting." Angga menatap Nara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Memangnya ada apa, aku baru saja bangun dari mimpi buruk. Sekarang semakin buruk karena kedatangan kamu," ujar Nara.
Ck … ck … ck.
"Dasar lo manusia jadi-jadian. Yang ada elo yang bikin repot gue!" seru Angga dengan mata melirik sekilas ke arah Nara, lalu membuangnya ke arah samping karena merasa jengah pada sosok Nara yang sangat menyedihkan itu.
"Ada apa sih memangnya?" tanya Nara yang mulai penasaran.
"Ayah Prabu pengen dessert buatan lo. Gue kaga bisa bikin makanya gue ke sini," terang Angga dengan tangan yang disilangkan di dadanya.
Seketika itu. Mata Nara berkaca-kaca pada saat Angga menyebut Ayahnya Angga.
Mungkin saja sedang merindukan sosok orang tuanya, jadi Nara merasa sedih. Angga tidak bisa menghakimi karena ia pun sama-sama rindu dengan Emak nya. Rindu dengan masakan kesukaannya, jadi setiap orang tidak masalah jika harus mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Gue juga sedih, tapi gak gitu juga kali, mending sekarang lo bantuin gue. Supaya Ayah Prabu bisa makan kue buatan lo, lagian gue gak mau sampai mereka curiga denganku." Ucapan dari Angga menurut Nara ada benarnya, dan ia pun mengangguk dan akan membantu Angga membuat dessert.
"Oke, aku akan bantu kamu." Jawab Nara dengan senyuman tipis yang terlihat dari sudut bibirnya.
"Di rumah kaga ada bahan, mending lo sekarang ikut gue buat belanja." Angga pun berniat mengajak Nara, untuk membeli bahan kue. Apa saja yang nantinya akan ia beli dan juga dibutuhkannya.
"Tapi…."
"Mau lo gue gibeng," marah Angga pada Nara, yang ingin menolak ajakannya.
"I-ya, kalau begitu tunggu aku mau mandi terus mau bedakan."
"Udah deh, begini juga gak ada yang protes. Emangnya mau ngapain pakai mau mandi sama dandan," kata Angga karena jika itu sampai terjadi yang ada bakal sampai bangkotan nunggunya.
"Jangan protes, sekarang buruan kita keluar dan jangan banyak tanya." Angga pun menambahkan lagi.
Beberapa detik sudah berlalu. Sekarang keduanya sudah berada di depan minimarket. Namun, penglihatannya tiba-tiba tertuju pada sosok wanita dan bocah laki-laki yang tengah. Bersandar di tiang listrik.
"Na, lo sini deh." Angga pun memanggil Nara karena ia ingat kalau keduanya harus menjadi orang yang berguna.
"Tuh lihat, kita punya target. Sana bantuin ibu-ibu itu, sepertinya mereka sedang kesulitan." Angga lantas memberikan kode lewat pandangannya dan menyuruh Nara untuk membantu Ibu-ibu tersebut.
Angga pun memberikan dua lembar uang berwarna merah pada Nara, dan menyuruh untuk diberikan seorang pemulung. Sebab terlihat dari barang bawaannya jika benar mereka adalah pemulung.
"Mak, Adul lapar. Perut Adul sakit, haus Mak." Itulah suara rengekan dari bocah laki-laki tersebut yang sempat di dengar oleh Nara.
Saat itu juga, Nara merasa miris dan terenyuh saat melihat bocah itu tengah menahan lapar. Namun, terlihat juga bahwa karung yang mereka bawa. Tidak ada isinya sama sekali, mungkin itulah alasannya mereka menahan lapar karena tidak mendapatkan barang bekas.
"Tapi ini udah dua hari Mak, Adul tidak makan. Sakit perut Adul," rengek bocah itu lagi dan itu membuat Nara semakin sedih.
"Ibu, Adik. Kenapa kalian?" Nara berpura-pura dan sekedar berbasa-basi pada mereka.
"Dari kemarin saya belum dapat barang untuk di jual, dan akhirnya … kita—,"
"Ibu, sekarang kalian berdirilah dan ajak anak Ibu untuk ke warung." Nara langsung menyela ucapan dari Ibu tersebut karena, Nara tidak butuh penjelasan nyatanya semuanya sudah di dengar olehnya.
"Ini, ada rejeki untuk kalian." Nara langsung menyodorkan uang yang diberikan oleh Angga tadi, untuk kembali diberikan pada yang berhak.
__ADS_1
"Ini terlalu banyak, Nak. Saya tidak bisa menerima sebanyak itu," kata Ibu tersebut. Sebuah kejujuran yang sulit untuk ditemui, dan Nara benar-benar beruntung bisa bertemu dengan wanita tua tersebut.
"Anggap ini rejeki dari Tuhan lewat saya, ini terima ya, Bu."
Dengan air mata yang sudah berjatuhan. Ibu pemulung itu sangat berterimakasih pada Nara.
"Terimakasih Nak, semoga Tuhan membalas kebaikan kamu." Itulah Doa yang diminta oleh Ibu itu dengan sang pemilik hidup.
"Terimakasih Doanya Bu, ya sudah kalau begitu saya pergi dulu. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan," tukas Nara berpamitan untuk ia kembali ke minimarket.
Beberapa menit kemudian
"Aku udah memberikan amanah dari kamu," kata Nara pada Angga yang baru saja keluar dari minimarket.
"Pinter, sekarang kita pulang. Hari semakin sore. Besok orang tua lo pergi kerja dan gue minta elo datang ke rumah untuk membuat kue," kata Angga menjelaskan karena ia tidak mau seperti orang yang terlilit hutang. Selalu saja ditagih dan menjadikannya risih.
"Baiklah, demi Ayah aku akan membuatkannya kue kesukaannya." Jawab Nara. Ia pun setuju untuk datang ke rumahnya. Yang hampir sebulan tidak ia lihat, dan besok dirinya akan memasuki rumah itu lagi.
"Bagus, harusnya kan begitu."
Pukul lima sore. Nara dan Angga sudah berada di rumah Mak Rohayah.
"Ya udah, gue cabut." Belum sempat Angga menyalakan motor. Sebuah teriakan membuatnya terasa ngilu pada telinganya.
"Mak, ada apa kok teriak-teriak segala!" Nara menyahut.
"Diamlah sebentar," tutur Mak Rohayah.
"Iya, Mak, ada apa kok manggil." Jawab Angga dan seketika mematikan mesin motornya.
"Makanlah dulu. Mak tadi masak jengkol," kata Mak Rohayah dengan senyum yang merekah.
"Hmmm … itu kan masakan favorit gue. Sambel jengkol, pasti enak." Angga tersenyum di dalam hatinya karena merasa bahagia pada saat mendengar kata 'Jengkol' karena itu adalah menu yang tak pernah ia bosan.
"Nara, ajak teman kamu untuk makan!" kata Mak Rohayah pada Nara.
Mendengar itu. Angga merasa senang karena pada akhirnya ia bisa makan jengkol juga.
__ADS_1