Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Ada apa dengan Angga dan juga Nara.


__ADS_3

Keduanya pun langsung gelagapan saat mendengar suara bak sambaran petir dari arah belang mereka, dan keduanya pun seperti seorang selingkuhan yang tertangkap basah. Kaget, pasti.


"Hye, kalian belum jawab."


"Em-ak." Nara pun langsung berjalan untuk menghampiri Mak Rohayah dengan tujuan. Mengenalkan Angga padanya, dengan begitu Mak Rohayah akan segera pergi dan tidak lagu mengganggu mereka.


"Nara, jawab! Siapa pria tampan dan sangat menggoda iman."


Nara tidak menjawab. Melainkan tepuk jidat, dan tidak menyangka jika Mak Rohayah bisa se–ganjen itu.


"Mak, ingat umur dong." Nara yang merasa malu sengaja menegur Mak nya, agar bisa sedikit lembut dan tidak bar-bar.


"Lha emang itu laki ganteng kok, sayang itu cowok kaga doyan sama Mak." Dengan bangganya Mak Rohayah berbicara dan memainkan matanya, layaknya seseorang tengah menggoda mangsanya.


Cukup bar-bar? Pikir Angga.


Angga berpikir jika sifat bar-bar yang selama ini melekat di tubuh Nara, adalah turunan dari Mak Rohayah.


"Mak, ganjen banget sih. Itu kan pacar anak Emak! Masa iya mau di embat juga."


"Ups, keceplosan." Nara langsung membungkam mulutnya karena tanda sadar tiba-tiba saja. Ia mengatakan hal yang tak terduga hingga membuat Angga dan Mak Rohayah tercengang.

__ADS_1


"Na, kamu tadi bilang apa?" Angga dengan tampang bodohnya langsung menyodorkan kepastian jika dirinya tidak salah pendengaran.


"Apaan sih lo, Angga. Gak jelas banget!" seru Nara yang kadung malu dengan ucapannya sendiri. Hingga untuk menghilangkan itu, Nara berbicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Jadi kalian pacaran?" todong Mak Rohayah pada Nara, dan menatap keduanya dengan cara bergantian.


"Duh, kenapa gue bodoh banget sih." Di dalam hati Nara terus mengoceh karena tindakannya, membuat orang bertanya-tanya untuk mencari kebenarannya, jika dirinya dan Angga sedang menjalin kasih, entah kenapa mulutnya ceroboh itu.


"Aih … akhirnya dapat mantu juga," ucap Mak Rohaya dalam hati. Sedangkan Nara langsung membulatkan matanya lebar-lebar saat dirinya mendengar, akan isi hati Mak Rohayah yang mengatakan jika beliau sangat gembira. Lantaran sebentar lagi akan mempunyai menantu.


"Na, Nara!" seketika Nara tersentak saat Angga memanggilnya dengan sangat keras.


"A-ada apa? Angga." Jawab Nara terbata.


"Apaan sih lo," sungut Nara karena entah mengapa pikirannya tiba-tiba kacau.


"Mak, aku sama Angga mau pergi … awas jangan ganjen sama pria siapapun," tukas Nara memperingatkan Mak Rohayah.


"Na, tunggu! Mak kan belum sempat kenalan." Mak Rohaya sempat mengejar pun tak bisa, karena Nara dan Angga keburu naik motor.


"Cepetan dong, keburu Mak ngejar."

__ADS_1


"Iya, ya. Sabar dong. Memangnya aku ini aladin bisa langsung terbang dan gak perlu nyalain motor," ucap Angga dengan cepat langsung menyalakan kunci motor.


"Jiah, kenapa lo malah buat dagelan." Nara menggerutu karena Angga sama sekali tidak bisa di ajak serius.


……..


Beberapa menit kemudian. Angga berhenti di sebuah danau, tempat yang selama ini belum pernah didatangi oleh Nara.


"Ngga, kita kok ke sini?" Nara tampak heran karena selama jika dirinya bertemu dengan teman-temannya selalu di cafe, dan baru kali ini dirinya melihat pemandangan yang berbeda.


"Apa kamu tidak menyukainya?" Angga balik bertanya karena merasa aneh dengan penuturan Nara.


"Tidak kok, gue suka. Maaf jika ucapanku membuatmu tidak nyaman," ujar Nara yang sekarang memutar tubuhnya ke samping. Lalu menatap laki-laki yang jauh tinggi dari tubuhnya.


Angga tersenyum manis, membalas tatapan yang diberikan Nata padanya.


"Ah, kenapa cantik sekali wajahnya." Sesaat kemudian Angga baru sadar jika Nara begitu sangat cantik. Lalu ke mana saja tahun-tahun sebelumnya. Kalau baru tersadar baru sekarang.


Dasar Angga bodoh!


Entah berapa menit sudah keduanya saling tatap. Hingga getaran di saku Nara, membuatnya langsung tersadar dari alam khayalannya.

__ADS_1


📲"Halo! Ada apa?"


__ADS_2