
Suara ketukan terus saja menggangu pendengarannya. Hingga dengan keadaan uring-uringan pun. Nara tetap membukanya.
Ceklek.
"Elo!" sedikit terkejut dan seakan kedatangan Angga menjawab kegundahan yang sekarang sedang dialaminya.
"Kenapa?" tanya Angga dengan mengerutkan keningnya.
"Bukan apa-apa, lo kok tumben pagi-pagi udah jadi kunti di rumah gue?" ujar Nara karena memang dirinya tidak meminta Angga untuk datang, tapi tanpa ia duga ternyata Angga justru datang sebagai penyelamatnya, dari omelan Mak Rohayah.
"Gak tau kenapa, seperti ada bisikan yang nyuruh aku buat datang ke sini." Jawab Angga.
"Jangan bohong, mana seperti itu. Lo ngarang mulu dah," sahut Nara karena ia juga sedikit meragukan apa yang dikatakan Angga kepadanya.
"Buat apa sih bohong, lagipula semalam gue juga dapat mimpi aneh!" kata Angga dengan dengan wajah serius. Lalu Nara pun langsung merubah posisinya agar lebih nyaman saat mendengarkan cerita Angga, karena sebetulnya ia juga penasaran. Berharap jika mimpinya tidak sama dengan yang ia impikan menjelang pagi tadi.
"Emang lo ada mimpi apaan?" Nara sedikit tertarik maka dari itu ia memilih bertanya pada Angga.
"Semalam mimpi seseorang wanita dengan jubah berwarna hitam, lalu dia berkata bahwa Tuhan sudah menakdirkan aku dengan seseorang ...." Angga menjeda ucapannya karena sedikit membuatnya tidak enak untuk mengatakannya, tentang siapa yang dimaksud oleh wanita. Yang ada di dalam mimpinya dan takut jika Nara mengira kalau dirinya sedang berbohong.
"Memang siapa wanita yang orang itu maksud?" Nara semakin penasaran saat Angga mencoba memberi penjelasan kepadanya.
"Kamu Na, orang itu adalah kamu. Walau pun mimpi itu tidak ada, maka aku akan tetap mencintai kamu." Angga hanya bisa berucap dalam hati, dirinya masih takut untuk berterus terang karena Nara, Nara pasti akan menolaknya mentah-mentah. Biar bagaimana pun dirinya sangat berbeda dengan wanita yang ia cintai.
Nara, berani, Nara kuat dan jago bela diri. Semua yang tidak ada pada dirinya di dalam diri Nara ada! Maka dari itu Angga masih ragu untuk menyatakan jika dirinya menyukainya.
Kenapa muka Angga.
pikiran Nara terus tertuju pada wajah Angga karena kentara jika Angga sedang dilema.
"Ngga, lo waras kan?"
"Memangnya kamu kira aku gila apa!" Angga mendengus kesal karena Nara terus saja mengejeknya.
"Salah ya, harusnya 'Angga kamu sehat kan' gitu, ya."
"Tau ah, kamu mah suka banget bikin orang gedek." Mendengar dari jawaban Angga, Nara pun terkikik geli saat melihat wajah manyunnya merasa sangat gemas.
"Oh ya, lo ke sini ada keperluan apa?" tanya ulang Nara, karena dirinya masih belum mendapat jawaban yang sesuai.
"Tadi kan sudah aku bilang kalau pagi tadi denger bisikan kalau harus ke sini, selain itu buat jemput kamu karena sudah terlanjur di rumah kamu juga." Angga tidak pandai berbohong jadi ia pun mengatakan apa yang dialaminya tadi pagi, hanya soal perasaan yang belum dikatakan karena terlalu takut untuk mengungkapkannya.
Terlalu naif bukan.
Oh.
__ADS_1
Nara menanggapinya dengan ber—oh ria, karena tidak mau bicara untuk sejenak. Bukan karena apa namun suara langkah dari arah belakang. Ia yakin jika Mak nya sedang menyusulnya karena tidak juga kembali ke dapur. Selain itu menghindari ke-kepoan Mak Rohayah akan urusan anak muda.
"Na, siapa tamunya?" suara Mak Rohayah membuat Angga langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, ada Le Min To." Jawab Mak Rohayah sendiri karena belum sempat ada yang menjawab, Mak Rohayah langsung berbicara.
"Huh, Le Min To! Siapa itu Mak?" tanya Nara kebingungan, dan itu juga yang dirasakan oleh Angga.
"Itu yang ada di depan kamu, mirip kan sama artis korea yang namanya Le Min To." Mak Rohayah berujar dengan sesekali tertawa kecil.
Angga tertawa dan Nara langsung menepuk jidatnya, karena Mak Rohayah salah menyebutkan nama.
"Bagaimana ceritanya, Lee Min-ho berubah jadi Le Min To!" batin Nara yang tak habis pikir.
"Na, Emak tetap saja lucu dari dulu pengen buru-buru jadi menantunya deh."
Uhuk.
Uhuk.
Nara langsung tersedak saliva nya, karena bisikan dari Angga yang mengatakan jika sudah tidak sabar, ingin menjadi menantu Mak Rohayah.
"Dasar edan."
Aaaaa.
Saking jengkelnya Nara sengaja menginjak kaki Angga, karena perkataannya membuatnya jadi baper.
"Kalian ini berantem mulu, Mak Nikahin loh ya—."
"Mak, sekarang juga gak papa-papa." Angga sengaja memotong perkataan Mak Rohayah kala, sebuah candaan dilontarkannya.
"Apaan sih, dasar gila!" seru Nara, meski sejujurnya kini dirinya merasa bahagia, hingga kedua pipinya bak udang rebus.
"Kamu beneran, mau nikahin anak saya! Le min to?" tanya Mak Rohayah antusias.
"Nama tidak penting, yang terpenting udah dapat lampu ijo dari Mak mertua. Ahaiii," batin Angga merasa di awang-awang karena sudah mendapat restu dari Emak nya Nara.
"Iya Mak, kalau Nara nya mau. Besok pun kita nikah," jawab Angga dengan wajah sumringah.
"Dasar lo ya, gue kan belum bilang mau. Kenapa lo mau buru-buru nikahin gue," ujar Nara.
"Oke deh, Mak setuju. Nara juga kebetulan kaga mungkin nolak," kata Mak Rohaya yang memutuskan pernikahan mereka secara sepihak.
"Na, ikut aku." Nara pun langsung digandeng oleh Angga dan entah mau dibawa ke mana.
__ADS_1
"Angga, tunggu!" teriak Nara karena sekarang dirinya sedang memakai piyama. Maka dari itu Nara malu dan memintanya untuk mengembalikan ke rumah.
"Jangan hiraukan pakaian kamu," ujar Angga yang masa bodoh dengan pakaian yang Nara kenakan.
Tidak berapa lama kemudian.
"Naraya! Aku suka sama kamu."
Huh,
Apa benar yang dikatakan Angga barusan?.
Nara, masih tidak percaya dengan ucapan Angga, dan Nara pun masih menatap wajah lelaki yang baru saja menyatakan cinta padanya.
"Na, apa kamu dengar apa yang aku katakan?" ujar Angga pada Nara.
"Coba ulangi lo tadi bilang apa!"
Angga menghela nafas dalam-dalam, sepertinya Nara sedang mempermainkan dirinya.
"Baiklah, semoga kamu mendengar apa yang aku katakan dan ini yang terakhir, tidak ada pengulangan."
"Nara!"
"Will you, Marry me?"
"Iya, aku mau."
I Love YOU NARA!!
Angga berteriak sekeras mungkin, hingga semua pasang mata tertuju padanya.
Angga tidak perduli akan hal itu, karena yang ia rasakan saat ini adalah kebahagiaan.
Rasa yang semula di pendam, kini akhirnya bisa ia ungkapkan dan keduanya pun berubah status, dan tidak lagi menjadi jomblo akut.
..................
bersambung.
Buat temen-temen makasih sudah mendukung Nara dan Angga, karena dukungan kalian sangat berharga bagi penulis remahan seperti saya.
Oh ya, ada cerita baru mungkin bisa mampir di cerita saya yang lain. Dengan judul Lihat aku Istriku.
__ADS_1
Ceritanya masih sepi bagi yang mau meramaikan monggo mampir kakak-kakak.