
"Bodoh kok di pelihara,” sungut Jali.
Seketika Angga mencabikkan bibirnya, karena kesal akan ucapan Jali dan juga Dani, namun disamping itu dirinya membenarkan perkataan mereka.
Lepas dari perdebatan kecil, Dani dan Jali bertanya soal ucapan dari Madam tempo hari. Angga sudah menyelesaikan misinya atau belum, Mereka belum bertanya jadi inilah kesempatan bagi keduanya.
“Ngga, lo udah ngelakuin apa yang dikatakan oleh Madan atau belum?” tanya Dani, dan seketika Angga menatap Dani yang kebetulan, berada disebelahnya.
“Sudah, tapi belum sepenuhnya.” Jawab Angga.
“Ingat, dua minggu lagi malam bulan purnama. Selesaikan misi kalian agar jiwa kalian segera kembali,” ucap Jali ikut menimpali.
“Gue tahu, dan makasih udah diingetin soal itu.” Jawab Angga pada keduanya.
Ya, dua minggu lagi adalah malam bulan purnama. Sebagian akhir dari syarat yang sudah di tetapkan oleh Madam, Angga ingat betul akan ucapan sosok peramal tersebut.
“Gue akan kasih tahu semua ini dengan Nara, agar dia juga bisa mengendalikan diri supaya, dengan perlahan bisa menjadi lelaki sejati. Bukan lagi pria jadi-jadian,” ujar Angga lagi dan ia yakin bahwa Nara melupakan akan hal itu.
“Iya, sebaiknya lo kasih tahu banci kaleng itu. Supaya memudahkan akan kalian yang ingin tubuh masing-masing,” ucap Jali menyahuti ucapan Angga.
“Tentu karena gue pengen kembali normal, sebagai Nara asli.” Ucapan Angga di sambut senyuman oleh Jali dan juga Dani.
Beberapa jam kemudian.
ketiganya sudah menyelesaikan pekerjaannya dan Dani sudah merencanakan, untuk mengajak mereka makan bakso langganan yang bernama Pak Songot.
“Ini sudah jam Dua, yuk kita ke kedai Pak Songot!” ajak Dani pada Jali dan Angga.
“Lo yang traktir, ya.” Jawab mereka berdua.
“Iya, bawel.” Keduanya begitu girang kala mendapat makan gratis dari Dani, mereka pun akhirnya berdiri untuk menutup bengkelnya dan nanti. Setelah makan Dani akan membukanya kembali.
“Yuk cabut,” ajak Angga dengan penuh semangat, karena ia juga lama tidak memakan semangkuk bakso.
Tidak berapa lama, ketiganya sampai di kedai bakso milik Pak Songot. Lalu dengan cepat mereka memesan.
“Pak, tiga seperti biasa?” kata Dani pada pemilik kedai.
“Beres Mas, tumben gak sama mbak Nara.” Pak Songot pun dibuat heran karena tidak biasanya Dani dan juga Jali, pergi tanpa meninggalkan Nara dan itu membuat Pak songot bertanya-tanya.
__ADS_1
“Iya Pak, Nara lagi sakit gatal-gatal makanya gak kami ajak.” Jawab Dani.
“Sialan si Dani, bisa-bisanya bilang kalau gue sakit kurapan!” dengus Angga dalam hati, tapi ia juga tidak mungkin mengaku sebagai Nara, dan itu membuat orang menganggapnya gila.
Aaaaa.
“Sakit bodoh,”pekik Dani.
“Rasain, lo.” Mungkin saking kesalnya. Sampai-sampai Angga menginjak kaki Dani, hingga membuat semua mata tertuju kepadanya, namun seketika Dani sadar dan berpura-pura, jika tidak ada apa-apa.
“Lo kenapa?" tanya Jali.
"Diinjak sama Angga," jawab Dani sedikit meringis karena cukup sakit.
“Rasain, makanya punya mulut dijaga.” Bukan rasa kasihan yang didapat oleh Dani, justru ejekan yang diterima oleh Jali.
“Siapa suruh ngatain gue gatal-gatal,” ujar Angga.
“Ekhem, ini kalian jadi kan, pesen tiga porsi?” tanya Pak Songot lagi.
“Jadi, Pak.” Jawab mereka bertiga bersamaan.
Pada saat mereka sedang menikmati pemandangan di jalan, tiba-tiba datang seorang nenek-nenek meminta makanan pada mereka.
“Cuk, Nenek lapar dan dari kemarin siang belum makan.” Nenek itu pun meminta belas kasih dari mereka bertiga, dan itu membuat Angga iba.
“Nenek duduklah, biar saya pesankan bakso juga.” Angga lantas menawari si Nenek itu bakso, namun orang tua itu menolak.
“Cu, Nenek gak punya gigi. Bagaimana caranya Nenek makan,” ucap Nenek itu sedikit mengeluh karena tidak bisa mengunyah, di akibatkan tidak ada satu gigi pun yang tertancap di antara gusi milik Nenek.
“Terus Nenek mau makan apa?” tanya Jali.
“Minta sedekahnya saja Cu, nanti Nenek akan belikan bubur yang ada di sana.” Mendengar itu Angga pun tidak mempermasalahkan karena ia sadar jika orang tua dengan usia yang suda rentan, hal itu sangat di maklumi.
“Baiklah Nek, ini ada sedikit rejeki.” Angga lantas memberikan uang sebesar seratus ribu, pada Nenek pemulung itu. Tanpa ada rasa curiga, namun berbeda dengan Dani. Yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara, dan hanya bisa mendengar obrolan tersebut.
“Terimakasih, Cu.” Nenek itu pun sangat senang karena ternyata ada yang menolongnya.
“Cu, Tuhan sedang mempersiapkan hadiah untukmu. Maka sebelum menerima Tuhan akan mengujinya terlebih dulu,” ucap Nenek-nenek itu.
__ADS_1
Sedangkan Angga yang mendengar itu langsung terkesiap menatap kepergian wanita tua itu.
“Li, apa maksudnya?” Angga langsung mengatakan apa yang dimaksud oleh si Nenek pada Jali.
“Gue gak tau, tap … nampaknya Nenek tahu apa yang sedang kamu alami sekarang,” ujar Jali asal.
“Huh, ke man Nenek itu.” Melihat Dani yang berbicara sendiri. Membuat Angga langsung menatapnya dengan tatapan aneh.
“Dan, lo lagi ngomong sama siapa?”
“Iya, lo terlihat aneh sedari tadi.” Jali ikut menimpali.
“Nenek itu–.”
“Apa maksud, lo!”
Belum sempat Dani berbicara, namun sudah di potong oleh Angga.
“Nenek itu hilang sewaktu berada di pertigaan tadi,” terang Dani yang membuat Angga dan Jali mengerutkan keningnya.
“Lo becanda saja. Lagian mana setan di siang bolong ini,” jawab Jali menertawakan Dani. Yang dirasa sudah berada di tingkat kehaluan.
“Bener, dan gue gak bohong.” Jawab Dani dengan mimik muka yang serius.
“Lo yakin, sama apa yang lo lihat.” Angga pun memastikan jika ucapan Dani benar.
“Yakin seyakin-yakinnya,” ujar Dani dengan kata-kata penekanan, seakan-akan apa yang baru saja dilihat itu nyata.
“Kalian tahu kenapa dari tadi gue cuma diam, dan tidak ikut bertanya! Itu karena gue lihat dengan jelas kalau kaki Nenek itu tidak napak di aspal, dan kalian tahu itu tandanya apa? Terserah kalian kalau tidak percaya tapi itulah yang gue lihat.”
“Berarti….”
“Makasih, Pak.” Pada saat Jali ingin menjawab. Tiga porsi bakso datang, dan itu membuat Angga langsung menyela ucapan Jali agar tidak membuat Pak Songot berpikir macam-macam.
Setelah kepergian Pak Songot, ketiganya masih belum memakan bakso. Itu karena mereka masih larut dengan pikirannya masing-masing.
Angga sendiri merasa aneh. Semenjak jiwanya tertukar, kerap dirinya mendapati hal-hal yang aneh, Padahal sebelumya tidak pernah terjadi kepadanya.
Mulai dari mimpi aneh, bertemu dengan sosok yang tiba-tiba berkata aneh juga, dan kerap mendengar suara-suara yang membuatnya merinding. Angga berpikir jika itu bukan mukjizat dari tuhan tapi ke-apesan telah mengejarnya.
__ADS_1
“Sudahlah, kita pikirkan itu nanti, yang jelas sekarang gue mau makan karena ini perut minta segera diisi.” Angga pun mencoba melupakan yang dirasa aneh, dan untuk saat ini dirinya ingin menikmati makan siangnya terlebih dulu.