Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 20.


__ADS_3

"Ri!! jangan bercanda!!" Teriak Lusi lagi.


Dokter cantik itu pun segera bergerak lebih cepat untuk meninggalkan ruang loker. Setibanya di lorong Rumah Sakit yang cukup ramai lalu lalang orang-orang, Lusi menghela nafas lega.


Meski begitu, dia masih penasaran dengan bayangan yang mengintainya tadi. Di saat bersamaan mantan tunangannya menghampiri dirinya bersama sang kekasih untuk melakukan pemeriksaan kandungan.


"Hai Dokter Lusi?! kenapa wajah mu pucat begitu? kau masih cemburu ya melihat kemesraan kita berdua?!" Ucap Sunny kekasih Daniel, mantan tunangan Lusi.


"Cih! belagu sekali gayanya?! sedikit pun aku tidak merasa cemburu! bahkan aku merasa mual dan jijik melihat kalian!" Rutuk Lusi yang hanya bisa dia ucapkan di dalam hatinya.


Se geram apa pun juga, Lusi harus bisa mengontrol emosinya. Apa lagi saat ini dia tengah mengandung. Di tambah, dia saat ini tengah berada di Rumah Sakit, dia tidak ingin memancing keributan yang bisa mengganggu ketenangan pasien di sana.


"Kalian ada perlu apa kemari?! tidak mungkin kan, jika hanya ingin menunjukkan kemesraan yang di paksakan begitu?!" Sindir Lusi. Dia tau, sebenarnya kedua orangtuanya Daniel tak pernah suka dan merestui hubungannya bersama Sunny.


"Kurang ajar! apa maksud ucapan mu?! dasar Dokter tak tau diri!" Umpat Sunny tak terima dengan sindiran Lusi seraya melayangkan tangan untuk menampar Lusi.


Namun secepat kilat sebuah tangan segera mencekal pergelangan tangan Sunny. Seketika perhatian ketiga orang tersebut teralihkan pada orang tersebut.


"Kalian mau main kekerasan di Rumah Sakit ya?! kalau begitu, aku akan laporkan kalian lebih dulu karena sudah menggangu ketenangan pasien yang berada di sini pada Polisi!" Ancam Ariana seraya menghempas kasar tangan Sunny.


"Dasar Dokter-dokter gila! mereka pikir mereka siapa?! beraninya hanya mengancam!" Sungut Sunny.


"Sayang, sudahlah! sebaiknya kita mengalah saja, aku tidak mau kita berurusan dengan Polisi!" Sahut Daniel yang ternyata sudah ciut duluan saat Ariana menggertak ya dengan menyebut nama Polisi.


"Kau percaya dengan ocehan Dokter gila ini?! sayang! mereka pasti hanya menggertak kita! lagi pula, kita sama sekali tak membuat kesalahan di sini!" Ucap Sunny tak mau kalah.


"Hei anak muda! siapa bilang kau tak membuat kesalahan?! kami di sini sangat terganggu dengan ocehan mu itu! cepatlah pergi! sebelum kami benar-benar memanggil keamanan atau polisi untuk mengusir kalian!" Seru salah satu pasien yang ternyata benar-benar merasa terganggu saat berada di samping ruangan tempat Sunny dan yang lainnya berbincang saat ini.


"Sayang, sudahlah! sebaiknya kita mencari Rumah Sakit lain saja! ayo!" Bujuk Daniel yang sudah malu akibat ulah kekasihnya itu.


"Ish!! awas saja ya! aku pasti akan memberimu pelajaran! camkan itu!" Ancam Sunny sebelum menggandeng Daniel pergi bersamanya.

__ADS_1


"bla...bla...bla...bla... beraninya cuman main ancam, nah situ sendiri ancam balik kita kan?! hadeuh... memang gila itu orang! kau tidak apa-apa kan, Si?!" Gerutu Ariana yang nampak masih geram pada Sunny setelah sepasang kekasih tak jelas itu pergi.


"Hm... terimakasih ya Ri! kau benar-benar sahabat terbaik ku!" Sahut Lusi tulus.


"Ari-ari di lawan, iya gak! he... ya sudah, sebaiknya kita bergegas ke tempat praktek saja, yuk!" Seru Ariana sedikit membuat guyonan untuk menghibur sahabatnya itu.


Keduanya akhirnya meninggalkan tempat kejadian perkara Sunny mengamuk. Lusi sendiri, memilih segera menghampiri rekan Dokternya untuk meminta beberapa data janin yang gugur yang akan dia teliti.


Setelah mendapatkan data yang dia inginkan, Lusi segera bergegas menuju ruangan khusus penyimpanan beberapa janin yang gugur di Rumah Sakit tempatnya bekerja itu. Ruangan yang di lengkapi pendingin dengan pintu tebal agar tak ada udara yang keluar dari ruangan tersebut, menyimpan beberapa janin yang harus gugur sebelum waktunya lahir.


"Hu... sepertinya lain kali aku harus memakai jaket tebal sebelum ke sini!" Gumam Lusi bermonolog seraya melangkah seorang diri ke ruangan dingin itu.


Dengan teliti, Lusi memeriksa beberapa janin yang baru saja gugur. Dia selalu terlampau asik jika sudah melakukan bidang keahliannya itu. Tanpa Lusi sadari, pintu ruangan dingin penyimpanan janin yang gugur itu pun tertutup perlahan, tanpa mengusik fokus Lusi yang tengah memeriksa janin yang baru saja gugur.


Krieeet... cekrek...


Pintu pun tertutup dan di kunci seseorang dari luar. Lusi masih belum menyadarinya, sesekali dia menggosok kedua telapak tangannya yang terasa kian membeku. Setelah selesai menuntaskan tugasnya, Lusi hendak keluar dari ruangan pendingin tersebut. Namun, saat dia berusaha membuka handel pintu, Lusi terlihat kesulitan.


"Astaga! siapa yang mengunciku di sini?! aku harus segera mencari jalan keluar! kalau tidak bayiku bisa membeku di dalam perut!" Gumam Lusi terbata karena kedinginan.


Di raihnya ponsel yang selalu dia simpan di saku jas kebesarannya. Namun sayangnya, dia harus kecewa. Saat itu, Lusi lupa membawa ponselnya. Karena kepanikannya saat di ruang loker tadi, Lusi sampai lupa menyimpan ponselnya di saku jas kebesarannya itu.


"Ya Tuhan! apa yang harus aku lakukan sekarang?! tolonglah aku, aku tidak ingin bayiku mati sebelum melihat dunia!" Lirih Lusi di sisa tenaganya yang terus berusaha mencari jalan keluar.


Sayangnya, saat itu tak ada satu orang pun yang tau jika di dalam ruangan pendingin itu ada orang. 10 menit kemudian, jam istirahat pun tiba. Ariana yang berjanji akan mengajak sahabatnya makanan bersama di kantin Rumah Sakit, bergegas mencari Lusi di ruangannya. Dia pikir, Lusi pasti sudah menunggunya di sana saat ini.


"Si, ayo kita ke kantin!" Seru Ariana setelah sampai di ruangan Lusi.


Kosong, tidak ada seorang pun yang singgah di ruangan tersebut.


"Kemana orangnya? apa dia masih di ruangan pendingin ya?!" Gumam Ariana langsung bergegas mencari sang sahabat ke ruang pendingin. Entah mengapa, perasaannya tiba-tiba gelisah, Ariana seperti takut jika sesuatu terjadi pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Setibanya di depan ruangan pendingin, Ariana segera membuka kunci ruangan dan membukanya lebar-lebar. Beruntung Lusi masih bertahan dengan kain-kain yang tersimpan di dalam ruangan pendingin itu. Dengan cekatan, Ariana memanggil rekannya yang lain untuk membantu evakuasi Lusi yang sudah sebagian membeku.


"Ya Tuhan! apa yang sebenarnya terjadi padamu, Si?!" Ucap Ariana seraya melarikan sahabatnya menggunakan blankar ke ruangan tindakan untuk mendapat pertolongan.


Beruntung Lusi segera di temukan Ariana, sehingga nyawanya dan sang janin masih bisa di selamatkan. Lusi berucap syukur atas pertolongan yang dia dapat melalui sahabat terbaiknya. Jika Ariana tidak datang tepat waktu, mungkin Lusi bisa saja kehilangan nyawanya akibat membeku di ruangan tersebut, bahkan janin yang ada di dalam rahimnya pun sudah pasti tak akan terselamatkan.


"Apa kau mau aku hubungi suamimu?!" Tawar Ariana setelah Lusi membaik dan mendapat pertolongan medis.


"Hm... tolong ya! maafkan aku yang terus merepotkan mu Ri!" Sungkan Lusi.


"Kau ini seperti dengan siapa saja! tenanglah, kau itu sudah aku anggap seperti adik ku sendiri, ya... meski cerewetnya melebihi Mamih ku, sih!" Kekeh Ariana dengan guyonan nya.


"Terimakasih ya Ri!" Ucap Lusi tulus.


Ariana terus mencoba menghubungi Viky menggunakan ponsel sahabatnya sendiri. Namun sudah beberapa kali di hubungi, sambungan telepon itu sama sekali tak terhubung dengan sang pemilik ponsel.


"Masih tidak aktif, Si! mungkin suami mu masih meeting, sebaiknya kita hubungi nanti saja, kau istirahat saja ya! aku akan membeli beberapa makana dulu di kantin!" Tutur Ariana sebelum meninggalkan Lusi dari ruangan tindakan.


.


.


.


.


.


Dukungannya mana nih readers... Mom kasih dua bab loh hari ini, yuk buruan kasih komentar terbaik dan like serta gift nya, vote nya apalagi boleh banget loh...


see you next episode 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2