
"Ternyata apa yang di katakan Mamih dan Ariana memang benar! aku sangat bahagia melihat Viky kembali tersenyum seperti ini!" Batin Lusi saat melihat raut bahagia di wajah suaminya melalui sambungan video call yang mereka lakukan.
Puas melepas rindu setitik. Viky mencoba merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Meski fisiknya sudah dia baringkan, namun tidak dengan pikirannya yang semakin tak sabar untuk menyambut hari esok. Viky sudah memutuskan akan menuntaskan kasus teror istrinya itu. Apalagi dia sudah mengantongi bukti yang di berikan Jenny.
"Aku harus mencari bukti lainnya lagi agar wanita ja*ang itu segera di hukum dengan seberat-beratnya!" Gumam Viky.
Keesokan harinya, Viky masih terlihat bergelung di bawah selimutnya. Sepertinya rasa lelah yang dia rasakan membuatnya malas untuk membuka mata.
Kring...
Kring...
Kring...
Suara dering ponsel menggema, memekakkan telinga. Mau tidak mau Viky akhirnya mengerjakan mata dan meraih ponselnya. Setelah di lihat nama si penelepon, Viky segera menggeser gambar hijau di layar ponselnya.
"Hm... ada apa?" Tanya Viky.
"Maaf mengganggu anda pagi-pagi, Tuan! tapi saya baru saja menemukan satu bukti mencengangkan tentang target dugaan saya! apa Tuan bisa menemui saya di Restoran xxx nanti siang?!" Tutur seseorang yang menelepon Viky.
"Baiklah! kau share lokasinya saja! aku akan menemui mu nanti!" Sahut Viky seraya menyibak selimut tebal yang dia pakai tadi.
Ritual pagi untuk membersihkan tubuh pun selesai. Viky segera berangkat ke perusahaannya terlebih dahulu untuk memeriksa beberapa pekerjaannya sebelum menemui seseorang yang meneleponnya pagi tadi. Tiba di ruangannya, Viky memanggil Rei untuk meminta bantuan. Seperti biasa, tanpa membantah atau pun protes. Rei selalu siap siaga menjalankan tugas dari sang bos.
"Rei, siang ini kosongkan jadwalku ya! aku ingin menemui seseorang dulu! dan... jika ada Siren kemari, kau jangan biarkan dia masuk ruangan ku, ya! tahan saja dia di ruangan tunggu, aku akan segera kembali setelah urusan ku selesai!" Tutur Viky.
"Baik, Tuan!" Jawab Rei.
Siang pun menyapa. Kini Viky sudah duduk di depan kemudi mobil yang akan dia laju kan sendirian tanpa supir dan asisten andalannya. Di salah satu Restoran ternama di pusat Kota, terlihat seorang pria berpenampilan rapi menunggu kedatangan Viky dengan antusias.
"Selamat siang, Tuan! silahkan duduk!" Sapa sang Detektif yang tak lain orang yang menelepon Viky tadi pagi.
"Terimakasih!" Ucap Viky seraya mendaratkan bokongnya di kursi yang bersebrangan langsung dengan sang Detektif.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan padaku?! apa kau sudah menemukan sebuah petunjuk?!" Tanya Viky.
"Ini, Tuan! saya menemukan satu kebenaran tentang orang yang saya curigai!" Tutur Detektif seraya memberikan sebuah map berisi bukti-bukti yang dia temukan tentang kejahatan seseorang.
__ADS_1
Di bukanya map yang berisi lembaran-lembaran kertas itu. Sejurus kemudian, kedua netra nya membulat sempurna, salah satu telapak tangannya dia kepalkan dengan rahang yang terlihat mengeras.
"Astaga! dia benar-benar wanita gila ternyata! jadi selama ini, Liana bukan meninggal atas kecelakaan! tapi... Ya Tuhan! dia benar-benar lebih buruk dari iblis!" Ucap Viky.
"Benar, Tuan! kecelakaan Nona Liana beberapa tahun silam ternyata memiliki kejanggalan! setelah saya selidiki dan cari tahu informasinya lebih lanjut, ternyata rem mobil yang Nona Liana kemudikan saat itu di putus seseorang sebelum Nona Liana pakai untuk menjemput adiknya!" Tutur sang Detektif.
"Dan setelah saya selidiki lagi, ternyata identitas wanita itu adalah Nona Sirena! dari kasus ini, saya memiliki kesimpulan! bisa jadi, kasus yang menimpa Nona Lusi pun pelakunya masih sama!" Tutur sang Detektif menambahkan.
"Kau benar! dia memang pelakunya! lihatlah ini! aku baru mendapatkannya tadi malam dari sepupuku, katanya dia tak sengaja mendengar percakapan Siren dengan anak buahnya!" Sahut Viky seraya memberikan sebuah flashdisk pada sang Detektif.
Di putarnya salah satu video rekaman percakapan Siren dan anak buahnya, serta rekaman CCTV yang sudah Viky satukan filenya dalam satu flashdisk.
"Tuan, sepertinya kasus ini sudah menemukan pelakunya! apalagi bukti-bukti kita sudah sangat komplit dan bisa cukup berat untuk membuatnya mendekam lama di penjara! saya akan segera membuatkan laporannya sekarang juga, agar Polisi bisa segera meringkus dan menangkap pelakunya !" Tutur sang Detektif.
"Baguslah, aku akan menunggu kabar baiknya setelah ini!" Ucap Viky seraya beranjak dari duduknya.
"Baik, Tuan! saya akan melakukan yang terbaik untuk anda!" Sahut sang Detektif seraya membungkukkan tubuhnya saat Viky hendak melenggang pergi.
Menjelang petang, Viky baru kembali ke perusahaannya setelah menyempatkan mampir ke rumah Erfan. Kebetulan dia sedang tidak bertugas hari itu, sehingga Viky bisa menemuinya untuk sedikit meminta bantuannya. (Kisah Erfan juga ada di novel "Love me please Jenny" ya guys)
Grep...
"Astaga! ada apa ini?!" Ucao Viky seraya menarik kasar tangan yang membelit tubuhnya.
"Vik! akhirnya kau datang juga! lihatlah asisten tengil mu itu! dia tidak membiarkan aku menunggu mu di sini dari tadi, dia benar-benar keterlaluan, kan?!" Tutur Siren.
"Maaf Tuan, say..." Sahut Rei tercekat saat melihat sebelah telapak tangan Viky terangkat.
"Biarkan dia di sini, Rei! kau bawakan aku minuman dingin saja, sekarang!" Titah Viky seraya melenggang menghampiri kursi kebesarannya.
Siren tersenyum penuh kemenangan, setelah sebelumnya beradu drama dengan Rei, akhirnya dia bisa masuk juga ke dalam ruangan Viky. Di hampiri nya pria tampan blasteran itu, seraya melenggak-lenggok kan pinggul dan langkah kaki jenjangnya.
Berharap jika Viky kali ini akan meliriknya dengan perasaan iba. Namun sejurus kemudian, khayalannya kabur begitu saja saat Viky menelepon seseorang melalui telepon kantor yang tersimpan di atas meja kerjanya.
"Apa Polisinya sudah datang? ok! jika mereka sudah tiba, langsung suruh ke ruangan ku saja!" Tutur Viky via sambungan telepon.
"Polisi? untuk apa Viky memanggil polisi kemari?! dia tidak mencurigai aku, kan?! bahkan dia masih bersikap sama seperti sebelumnya kepadaku!" Batin Siren.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Seru Viky dari dalam.
Langkah kaki pria tegap mulai memasuki ruangan Viky, dibawanya sebuah nampan berisikan segelas minuman dingin pesanan Tuan nya, tadi. Rei segera meletakkan gelas minuman milik Viky tanpa menghiraukan lagi keberadaan Siren di ruangan itu. Setelah Viky pergi tadi siang, dia sempat menghubungi Rei dan memberitahu yang sebenarnya terjadi dan memintanya agar berjaga di perusahaan.
"Silahkan minumannya, Tuan!" Ucap Rei setelah meletakkan gelas minuman untuk Viky.
"Terimakasih!" Sahut Viky. Sejurus kemudian dia meneguk minumannya hingga habis setengahnya.
"Ha... benar-benar sangat melegakan!" Ucap Viky, Membuat Siren menelan saliva nya karena tergiur.
Glek...
"Astaga! apa pria menyebalkan ini tidak melihat keberadaan ku, ya?! benar-benar tidak becus bekerja! masa dia cuman bawa satu gelas minuman saja sih!" Rutuk Siren dalam hatinya.
"Hei! apa kau tidak lihat ya kalau di sini ada aku juga?! cepat buatkan aku minuman yang sama sekarang!" Seru Siren.
"Maaf, Nona! saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Viky saja!" Ucap Rei datar.
"Astaga! dasar asisten menyebalkan! Vik, lihatlah kelakuan asisten mu itu! dia bahkan tak memberikanku minuman sebagai tamu!" Rengek Siren.
"Rei, buatkan saja! mungkin Siren memang membutuhkannya saat ini!" Tutur Viky.
"Baiklah Tuan!" Sahut Rei seraya melenggang pergi dari ruangan Viky.
"Heh... dia tidak tau saja minuman yang akan aku buatkan ini minuman terenak yang terakhir akan dia nikmati! sebentar lagi, kau akan mendekam di penjara Nenek sihir! dasar wanita gila! ish... amit-amit deh kalau aku punya jodoh seperti itu! psikopat!" Batin Rei.
.
.
.
.
.
__ADS_1