
"Apa kau yakin, Mei? di luar hujannya masih begitu deras, Ayah khawatir kalian akan kesulitan untuk mencari kereta kudanya! apa lagi hari sudah semakin gelap, sebaiknya kita juga bermalam di sini saja malam ini, tidak apa-apa kan, Mar?" Usul Pak Manuel seraya menoleh genit ke arah Marina mertua Joni.
"Benar, kalian menginap lah malam ini, di sini! Ibu rasa bos besar mu dan Dokter tadi pasti sudah sampai di markas relawan sekarang, kita tidak perlu terlalu mencemaskan nya!" Sahut Marina.
"Tapi saya tidak bisa tenang sebelum mengetahui keadaan Tuan Viky, saya rasa saya akan menyusulnya sekarang saja! Nona Memei, apa kau masih bersedia membantuku?!" Tanya Rei.
"Tentu, ayo! aku akan baik-baik saja Ayah! Ayah jangan khawatir, ok!" Ucap Memei seraya membuka sebuah payung besar milik keluarga Joni.
Sebelumnya gadis Desa tersebut juga meminjam sebuah senter dari rumah Joni untuk penerangan mereka selama perjalanan.
"Kita hanya bisa berjalan kaki untuk menuju tempat peminjaman kereta Kuda, apa Tuan tidak keberatan?!" Ucap Memei bertanya sebelum mereka melangkah pergi.
"Aku sama sekali tidak masalah, yang penting aku bisa meminjam kereta kudanya untuk segera menyusul Tuan Viky!" Sahut Rei menjawab.
"Ya sudah kalau begitu merapat lah, payungnya hanya ada satu, jadi kita harus bekerja sama agar tidak kehujanan!" Seru Memei memerintah.
"Ok!" Jawab Rei seraya mendekati gadis Desa itu.
Deg...
"Ada apa dengan jantungku? kenapa debarannya menjadi sangat kencang saat di dekat gadis ini?!" Batin Rei.
"Tuan! kenapa kau malah melamun?! ayo kita jalan sekarang! kau tidak mau kemalaman kan untuk menyusul bos mu itu?!" Tegur Memei.
"I...iya baiklah, ayo!" Sahut Rei seraya melangkah.
Keduanya akhirnya menerjang hujan yang masih cukup deras. Tujuan mereka hanya satu, yaitu meminjam atau menyewa satu kereta kuda untuk menyusul Viky ke markas relawan, karena mereka pikir keduanya sudah sampai di tempat itu.
Setelah mendapatkan yang mereka incar, Rei dan Memei segera di antar seorang kusir yang tak lain pemilik kereta kuda. Mereka segera bergegas menyusul Viky ke markas relawan. Namun belum sempat mereka sampai, di pertengahan jalan Ketiganya melihat sepeda yang tadi di gunakan Lusi tergeletak begitu saja di pinggir sebuah gubuk.
"Berhenti!" Seru Rei.
"Ada apa Tuan?! kita masih setengah perjalanan. Apa kau mau kembali lagi?!" Tanya sang kusir.
__ADS_1
"Tidak, tapi bukannya itu sepeda yang di gunakan Nona Lusi tadi ya?!" Gumam Rei seraya menatap ke arah sepeda.
"Benar! itu memang sepeda Paman Joni, ayo kita periksa gubuk itu, siapa tau mereka sedang berteduh di sana!" Seru Memei segera turun dari kereta kuda.
Rei yang memiliki pemikiran sama pun tak kalah bergegas, hingga akhirnya mereka berdua menghampiri gubuk tersebut dan mendapati kedua sejoli itu tengah berpelukan.
"Tu...Tuan! apa yang terjadi?!" Ucap Rei setelah melihat wajah bosnya yang begitu pucat pasi.
"Astaga! kenapa wanita ini berani memeluk calon suamiku sih?!" Gerutu Memei dalam hati.
Gadis Desa itu segera menghampiri Viky dan Lusi dan segera memisahkan mereka berdua dengan kasar.
"Astaga! kenapa kau kasar sekali menjadi wanita?!" Tegur Viky yang terkejut dengan tingkah Memei yang begitu kasar menurutnya.
"Kalian bukan pasangan suami istri, Tuan! di Desa ini, siapa yang berduaan seperti ini tanpa status yang jelas akan di kenai hukuman berendam di telaga semalaman!" Tutur Memei yang memang benar adanya. Menjelaskan adat istiadat Desanya.
"Tapi aku tidak melakukan apa-apa dengannya, kami hanya berusaha saling menghangatkan diri dengan berpelukan, apa lagi aku terserang demam dan flu saat ini!" Sangkal Viky membuat pembelaan.
"Sudahlah! aku akan tutup mata dan tak akan melaporkan kalian asal kalian tidak berdekatan lagi, sebaiknya Tuan ikut dengan saya, dan kau Nona! kau bisa ikut dengan Tuan ini!" Sahut Memei seraya membangunkan Viky untuk berjalan menghampiri kereta kuda yang masih menunggu mereka.
"Kalian tidak ingin aku laporkan pada Ayah bukan?! jadi menurut lah! atau kalau tidak, aku akan memberitahu Paman pemilik kereta kuda ini untuk menyebarkan rumor tadi!" Ucap Memei terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya.
Ternyata ancamannya bukan hanya angin lewat saja, gadis Desa itu benar-benar membuat Viky dan Rei hanya bisa patuh. Selain itu, kondisi Viky yang masih demam tidak memungkinkan mereka untuk berontak lagi. Alhasil mereka berdua hanya bisa menurut dan pasrah.
Sementara Viky dan Rei di bawa pulang ke rumah Memei. Lusi yang sudah tiba di kamarnya, di markas relawan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang di sediakan di sana. Perasaannya sebenarnya tidak tenang. Apa lagi, dia tau kalau Viky belum benar-benar sembuh.
"Semoga dia baik-baik saja, sepertinya putri Pak Manuel tadi menyukai Viky, dia benar-benar sangat marah saat melihatku berdekatan dengannya!" Gumam Lusi.
"An... apa kau baik-baik saja?!" Sapa Ariana menghampiri sahabatnya.
"Hm... seperti yang kau lihat! aku masih sangat kuat dan sehat bukan?!" Sahut Lusi dengan posisi yang masih rebahan di atas kasur tipisnya.
"Aku tau tubuhmu baik-baik saja, tapi apa hati juga sama?? aku rasa kau pasti sedang kesal sekarang, benar bukan?!" Tebak Ariana.
__ADS_1
"Kau so tau Ri, siapa juga yang kesal?! aku hanya sedikit lelah, beruntung tadi Nyonya Bora lahirannya tidak terlalu sulit, hanya butuh dua kali mengejan bayinya sudah berhasil keluar!" Curhat Lusi yang memang benar adanya, meski dia sendiri juga tak menampik kesal di hatinya.
"Hm... tapi kenapa wajahmu di tekuk begitu! aku tidak akan bisa di bohongi An," Ucap Ariana.
"Kenapa kau memanggilku dengan panggilan Ana lagi sih. Itu membuatku teringat pada Papih dan Mamih tau! kira-kira berdua sedang apa ya sekarang?! rasanya aku sudah lama sekali meninggalkan mereka! padahal kita di sini belum ada dua hari pun!" Lirih Lusi.
"Sorry... aku hanya mulai nyaman memanggilmu dengan sebutan itu saja Kus, maaf ya!" Sesal Ariana mengusap sebelah bahu sahabatnya.
"Hm... it's ok Ri, tapi lain kali jangan panggil aku dengan panggilan itu lagi ya, bisa-bisa aku tidak betah mengabdi di sini selama dua bulan!" Rajuk Lusi.
"Siap Tuan Putri," Sahut Ariana dengan gaya menghormat nya.
"Ya sudah, kalau begitu kau istirahat lah! kau Dokter pertama yang langsung bertugas setelah kita sampai di Desa ini, semangat! ok!" Seru Ariana lagi membiarkan sahabatnya beristirahat.
Di pertengahan malam, Viky masih mengalami demam. Suhu tubuhnya kian meninggi setelah Rei memeriksanya menggunakan telapak tangannya sendiri yang di tempelkan di kening Viky.
"Astaga, Tuan! aku rasa demam mu semakin tinggi, apa sebaiknya aku antar kau ke markas relawan saja ya?!" Gumam Rei yang berbicara sendiri karena Memei ternyata sudah lama terlelap setelah mengunci kamar yang di tempati kedua pria tawanannya secara diam-diam.
"Aku harus bergegas sekarang!" Ucap Rei seraya beranjak menghampiri pintu untuk membukanya dan membawa Viky ke markas relawan.
Cklek... cklek...
"Astaga! apa pintunya terkunci?! sepertinya gadis Desa itu benar-benar mengurung kami di sini! haduh... bagaimana ini?! aku harus mencari cara untuk membawa Tuan pergi, kalau tidak demamnya akan semakin memburuk," Panik Rei seraya memutar otaknya untuk mencari jalan keluar.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode guys 😘😘😘