Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 28.


__ADS_3

"Lepas, Ky! aku mau mandi!" Ucap Lusi ketus seraya menepis tangan sang suami yang mencekal nya.


Viky hanya bisa menghela kasar nafasnya. Lagi-lagi istrinya itu bersikap kasar padanya. Namun meski begitu, Viky sangat memahaminya. Dia tau betapa sulitnya Lusi melupakan kepergian buah hati mereka. Dan itu pun tentu Viky rasakan juga. Sebagai seorang calon Ayah, Viky merasa benar-benar tak berguna karena sudah gagal menjaga calon buah hatinya hingga harus terenggut di malam terkutuk itu.


Kurang lebih 15 menit, Lusi membuka pintu kamar mandi dengan keadaan yang sudah terlihat lebih segar. Sore itu rencananya, dia akan berkemas untuk pemberangkatannya bersama Mamih Alina ke luar Negeri.


Ceklek...


Wangi aroma bunga mawar dari sabun yang di gunakan Lusi pun seketika menguar di kamar tersebut. Membuat pria tampan blasteran yang sejak tadi memilih memejamkan mata di atas tempat tidur kamar tersebut sedikit terusik.


"Sayang, kau sudah selesai ya?!" Ucap Viky seraya merubah posisi tidurnya menjadi duduk.


"Keluarlah! aku ingin memakai pakaian!" Seru Lusi. Kebetulan kamar yang dia tempati Lusi saat ini tidak di lengkapi walk in closet seperti di kamarnya bersama Viky. Di kamar itu hanya tersedia lemari besar dengan cermin di seluruh dinding permukaan depannya.


"Sayang, kumohon jangan seperti ini terus padaku, aku benar-benar tidak tahan!" Ucap Viky terlihat frustasi.


Sebenarnya jauh si hati Lusi, dia pun sangat ingin memeluk suaminya itu. Namun lagi-lagi, kekecewaannya lebih mendominasi perasaannya. Membuat Lusi kembali acuh dan selalu memberontak jika di dekati Viky.


"Emilia Lusiana! apa aku sudah tidak ada artinya lagi bagimu?!" Ucap Viky tegas. Sepertinya pria tampan blasteran itu tengah di titik puncak rasa lelahnya.


Seketika, Lusi tersentak. Tidak biasanya suaminya itu memanggilnya dengan nama yang lengkap. Dia yakin, jika Viky saat ini sedang benar-benar marah pada dirinya.


"Lalu aku harus bagaimana? apa dengan aku bersikap manis padamu lagi, anak kita akan kembali?!" Bentak Lusi menyahut.


"Sa...sayang, kumohon maafkan aku! apa kau pikir aku juga tidak merasakan kehilangan?! aku juga sangat hancur atas kepergian anak kita!" Lirih Viky seraya menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai.


Lusi hanya diam, dia sudah tidak dapat membendung lagi air matanya. Dia akui, setelah Viky tau dia keguguran di hari itu. Pria tampan blasteran itu pun memang terlihat sangat terpukul dan hancur.

__ADS_1


"Biarkan aku pergi, Ky! aku ingin menenangkan diri!" Ucap Lusi berubah lirih.


"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?!" Pertanyaan Viky berhasil membuat Lusi menatapnya tajam.


Namun meski begitu, Lusi sudah enggan meladeni suaminya berdebat lagi, dia memilih pergi meninggalkan kamar setelah memakai pakaiannya di hadapan Viky, tanpa menghiraukan tatapan sayu suaminya.


"Ya Tuhan?! apa dia sengaja menggodaku ya?!" Batin Viky ketika Lusi melepaskan handuk yang melilit tubuhnya.


Glek...


Susah payah Viky menelan saliva nya sendiri. Viky pikir, Lusi ingin membuktikan padanya bahwa wanitanya itu masih sangat mencintainya. Namun apa yang Lusi lakukan selanjutnya membuah harapan Viky seketika terpatahkan.


Setelah melepas handuknya, Lusi segera meraih kedua pakaian dalamnya dan segera mengenakannya tanpa melihat lagi ke arah Viky. Membuat suaminya itu merutuk frustasi di dalam hatinya.


"Hah?! jadi dia hanya ingin memakai baju, ya?! aku pikir dia mau membuktikan cintanya padaku?! astaga!!! mana juniorku sudah on lagi?!" Rutuk Viky dalam hatinya.


Selesai berpakaian rapi, Lusi segera keluar kamar untuk menuju dapur dan membuat makan malam. Meski kedua ART nya sudah kembali bekerja di rumahnya, namun Lusi selalu menyempatkan memasak sendiri untuk keluarganya. Bahkan meski Lusi masih marah dan kesal pada Viny, Lusi masih terus menyediakan segala keperluan Viky. Hanya kebutuhan biologisnya saja yang tidak Lusi penuhi, sebab dia masih enggan berdekatan dengan Viky. Kekecewaan dan rasa kesalnya masih bertumpuk tinggi untuk suaminya itu.


"Bibi buka kan dulu pintunya ya, Nya!" Ucap Bibi Nina seraya mengelap tangan dan bergegas menghampiri pintu depan rumah majikannya.


Ceklek...


"Nona?! silahkan masuk!" Seru Bibi Nina setelah tau siapa yang berkunjung. Tamu tersebut pun melenggang masuk ke dalam rumah Lusi tanpa canggung lagi.


"Si! kau dimana?!" Ucap Ariana yang tak lain tamu yang tadi baru saja masuk.


"Haist! kau membuat telingaku berdenging tau!" Rutuk Lusi seraya menyimpan kembali kotak bumbu masakan yang baru dia gunakan.

__ADS_1


"Emmm... aromanya enak sekali?! aku jadi lapar!" Gumam Ariana seraya mendudukkan diri di salah satu kursi merang makan.


Sejurus kemudian Mamih Alina menghampiri mereka dan ikut duduk menantu putrinya menyajikan masakannya.


"Kau baru saja tiba ya, Ri?!" Sapa Mamih Alina seraya mengecup pipi kanan dan kiri Ariana.


"Iya, Tante! Tante apa kabar?!" Tanya Ariana.


Di saat kedua wanita berbeda generasi tersebut berbincang, Viky menghampiri sang istri yang sedang menuang masakannya ke dalam wadah sebelum di hidangkan di meja makan.


"Lezat sekali wanginya! aku cicipi ya!" Ucap Viky yang sudah berdiri merapat di belakang Lusi.


"Aww! sssttt!" Ringis Lusi yang terkena tumpahan sup panas yang baru dia tuang karena terkejut.


"Astaga, maafkan aku sayang! sini aku obati!" Seru Viky merasa bersalah seraya mencoba meraih jemari Lusi yang terkena air sup panas.


"Tidak perlu!" Ketua Lusi seraya menghampiri keran wastafel dan mengguyur jari tangannya dengan air yang mengalir dari keran wastafel tersebut.


"Hm... sepertinya Lusi masih sulit memaafkan suaminya! padahal nak Viky juga sama kehilangannya dengan Lusi, semoga saja nak Viky di beri kesabaran yang luas dalam menghadapi sikap istrinya!" Gumam Mamih Alina sendu.


Mamih Alina dan Ariana yang sejak tadi duduk di meja makan pun sempat melihat interaksi pasangan suami tadi. Mereka begitu menyayangkan dengan sikap Lusi yang masih keras kepala dengan egonya sendiri.


Tak lama, makan malam pun mereka lalui dengan keheningan. Hanya ada denting garpu dan sendok yang meramaikan ruang makan tersebut. Setelah semuanya selesai, Ariana mengajak sahabatnya itu berbincang di balkon kamar yang saat ini di tempati Lusi. Sementara Mamih Alina dan Viky memilih masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


"Si! apa kau tidak merindukan belaian suami mu ya?!" Tanya Ariana yang kini tengah menikmati teh hangatnya seraya duduk di atas kursi bantal empuk milik sahabatnya itu.


"Hm... entahlah Ri, sebenarnya aku pun selalu tidak tega bersikap kasar dan ketus padanya.Tapi kekecewaan ku selalu mendominasi! mungkin pilihan ku untuk menenangkan diri di luar Negeri adalah yang paling tepat! aku juga tidak ingin menyakitinya terus karena aku masih belum bisa melupakan kejadian malam itu! aku masih sangat kehilangan bayiku, Ri darah daging ku!" Lirih Lusi.

__ADS_1


"Haist!! aku tidak akan mencegah mu pergi, Si! tapi setidaknya kau pikirkanlah perasaan suami mu juga! dia juga sama kehilangan dan kecewanya seperti dirimu, dia juga mengharapkan buah cinta kalian! dan kau juga tau sendiri kan kalau kejadian itu di luar kuasanya!".


"Kau harus ingat, Si! kejadian kemarin itu masih menyisakan misteri tentang siapa dalang yang ingin mencelakai mu! dan yang aku tau, selama ini suami mu tidak hanya diam! dia sudah bekerja keras mengerahkan anak buahnya demi mencari siapa orang yang sudah membuat kau dan anak kalian celaka!" Ariana menyeruput tehnya setelah menuturkan apa yang ingin dia ucapkan pada Lusi.


__ADS_2