
Viky pun terkekeh, dia benar-benar puas telah berhasil membuat sepupunya itu naik darah. Namun meski begitu, sebenarnya mereka itu saling menyayangi satu sama lain.
Sore harinya, Viky yang baru saja tiba di rumahnya segera membersihkan diri dan berganti pakaian santai. Selesai berganti dan menyemprot pakaiannya dengan sedikit parfum, Viky membaringkan tubuhnya di atas peraduan seraya mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi sang istri.
"Dia sedang apa ya, sekarang?! kenapa masih belum memberi kabar juga?!" Gumam Viky setelah menggulir layar ponselnya mencari jejak kabar dari sang istri yang ternyata masih nihil.
"Aku coba hubungin duluan, deh!" Gumam Viky lagi seraya menghubungi nomor ponsel istrinya.
Tut...
Tut...
Tut...
"Halo, sayang! apa kau sudah tiba?!" Tanya Viky setelah sambungan teleponnya terhubung.
"Aku dan Mamih sudah tiba dari tadi, Ky! kamu baru saja pulang dari Restoran!" Lapor Lusi.
Meski nada bicaranya masih terdengar datar, namun Viky tak mempermasalahkannya. Baginya, Lusi mau menjawab pertanyaannya saja sudah cukup. Karena dengan begitu, Viky bisa tenang setelah mengetahui kabar istrinya.
Sambungan telepon pun hanya bertahan beberapa menit saja. Setelah menanyakan keadaan sang istri, Viky harus menahan rindunya kembali karena Lusi memintanya untuk mengakhiri sambungan teleponnya karena lelah ingin beristirahat.
"Haist... benar-benar menyiksa! belum satu hari penuh saja sudah sangat rindu seperti ini! apa lagi berhari-hari?! semoga saja, Lusi tidak betah berlama-lama di luar Negeri nya!" Gumam Viky.
Pria tampan blasteran tersebut akhirnya memilih memejamkan mata sebelum nanti malam menghadiri undangan makan bersama di kediaman sepupunya.
...****************...
"Daniel! aku hamil!" Ucap Sunny.
"Apa?! kenapa kau bisa hamil?! bukannya selama ini aku selalu memakai pengaman saat berhubungan denganmu?!" Sahut Daniel.
__ADS_1
"Tapi sekarang aku hamil, Dan! mungkin saat malam di klub waktu itu! kau dan aku kan mabuk berat, jadi kita tidak sempat memakai pengaman saat melakukannya!" Tutur Sunny yang nampak sudah berderai air mata. Pasalnya dia sangat tidak ingin menginginkan anak. Dia pikir, jika dia memiliki anak akan sangat merepotkan dan membuat bentuk tubuhnya berubah menjadi melar.
"Astaga! kenapa aku bisa ceroboh! tapi bukannya itu bagus?! dengan begitu aku bisa menjadikan anak ini alasan pada Mamih untuk menikahi mu!" Ucap Daniel tanpa perasaan.
"Aku belum siap, Dan! karir ku baru saja menanjak! masa sudah harus aku lepas lagi?!" Sahut Sunny yang memang berprofesi sebagai model yang mulai di kenal di kalangan para pebisnis.
Karirnya tersebut juga tak lepas dari dukungan sang Kakak yang tak lain wanita psiko yang terobsesi mati-matian pada Viky. Ya! Sirena adalah Kakak tiri dari Sunny. Keduanya merupakan saudara satu Ayah.
"Ha... kau memang egois, Sun! aku benar-benar menyesal telah meninggalkan Lusi! kau hanya mementingkan ketenaran mu saja!" Gerutu Daniel seraya melenggang pergi meninggalkan Sunny.
"Daniel! kau mau kemana?! Dan!! Daniel!" Jerit Sunny berusaha mengejar, namun langkah kakinya kalah cepat dengan langkah Danil.
Mantan tunangan Lusi itu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menunju sebuah bar langganannya. Sepertinya alkohol satu-satunya pilihan yang tepat untuk melupakan semua permasalahannya bersama Sunny.
Sejak awal dia meninggalkan Lusi. Kedua orangtua Daniel sangat tidak setuju jika dia berhubungan dengan Sunny. Selain karena Sunny dari kalangan biasa. Mamih Daniel juga sangat mengenal pergaulan bebas Sunny yang berprofesi kan model majalah dewasa.
...****************...
Kita kembali ke sang pria tampan blasteran yang di tinggalkan istrinya. Tepat pukul 7 lewat 15 menit, Viky sudah terlihat rapi mengenakan pakaian untuk berkunjung ke kediaman sang sepupu.
Kendaraan beroda empat tersebut pun akhirnya melaju dengan kecepatan sedang ke sebuah hunian mewah milik Kenny dan Jenny. (buat yang penasaran siapa Kenny dan Jenny. Langsung cek di novel Mommy yang berjudul "Love me please Jenny" aja ya).
Di depan pintu utama, seorang pria tampan yang tak lain si pemilik hunian terlihat mengukir senyum menyambutnya. Viky yang menyadarinya, ikut membalas senyum seraya menghampiri setelah menyerahkan kunci mobilnya pada seorang sekuriti untuk memarkirkan mobilnya.
"Akhirnya kau datang juga, Vik! ayo masuk, istriku sudah menunggu mu di dalam!" Seru Kenny yang saat ini tengah menggendong baby Keanza, anak keduanya bersama Jenny.
"Wah... sepertinya Jenny benar-benar menginginkanku datang ya malam ini?!" Goda Viky seraya mengusap lembut pipi gembul keponakannya.
"Haist! kau terlalu percaya diri ternyata! ayo sayang kita masuk! kita tinggalkan saja Uncle Viky sendirian!" Gumam Kenny seraya berceloteh dengan putrinya yang baru berumur beberapa bulan.
Viky terkekeh melihat sepupunya itu yang sangat mudah cemburu pada dirinya. Padahal Viky sudah benar-benar melupakan perasaannya pada Jenny setelah dia pertama kali bertemu dengan Lusi. Tiba di ruang makan, Viky segera mendaratkan bokongnya di salah satu kursi tepat di samping Kenji yang tak lain anak pertama dari Kenny dan Jenny.
__ADS_1
"Hai Uncle! mana Tante Lusi?!" Sapa bocah menggemaskan berumur 6 tahun itu seraya melirik sekitar Viky untuk mencari keberadaan Lusi.
"Tante Lusi tidak ikut, sayang! Tante mu sedang ke luar Negeri! Kau rindu padanya ya?!" Sahut Viky seraya mencubit pipi keponakannya itu.
"Yah... padahal Ken ingin sekali bermain dengan Tante Lusi! Tante Lusi kan sangat hebat bercerita!" Celoteh Kenji.
"Kita doakan saja ya, Ken! semoga Tante Lusi cepat pulang dari luar Negerinya!" Ucap Viky.
Jenny yang baru saja menuang hidangan terakhirnya ikut terduduk di salah satu kursi di samping suaminya. Perempuan cantik itu terlihat begitu telaten melayani anak dan juga suaminya.
"Jadi Lusi benar-benar pergi ya, Vik?!" Tanya Jenny di sela menyuapi putranya.
"Ya... begitulah! dia memang membutuhkan suasana baru untuk menenangkan perasaannya!" Lirih Viky.
"Apa kau sudah mencoba mencari tau pelaku terornya?!" Tanya Jenny lagi.
"Sudah! dan hasilnya masih belum menemui titik terang! aku masih harus memeriksa satu petunjuk lagi! semoga saja, aku bisa secepatnya menangkap pelakunya!" Tutur Viky yang sempat kecewa karena CCTV Rumah Sakit yang rusak. Tapi dia masih punya satu harapan lagi. Rencananya Viky akan sempat mengecek CCTV yang berada di rumahnya.
"Segeralah bertindak, Vik! jangan biarkan orang itu mencelakai Lusi lagi!" Seru Jenny.
Makan malam yang di selingi obrolan pun berlanjut hingga mereka semua merasa kenyang. Kenny memilih membawa sang putri ke kamarnya terlebih dahulu karena sudah tertidur di atas pangkuannya sejak tadi, begitu juga dengan Jenny. Perempuan itu mengantar sang putra ke kamarnya juga untuk membantunya menggosok gigi sebelum tidur.
Selesai dengan rutinitas malamnya, pasangan pasutri itu kembali menghampiri Viky yang kini tengah menikmati udara segar di sebuah paviliun belakang rumah Kenny.
"Vik! sebenarnya aku ingin mengajukan proposal, padamu! aku harap kau bisa mempertimbangkannya setelah melihat profil usaha baru ku ini!" Tutur Jenny.
.
.
.
__ADS_1
.
.