
Tujuh bulan kemudian.
Hari ini bertepatan jadwal Lusi untuk kontrol kehamilannya. Tak lupa sang calon Papa siaga selalu hadir menemani di setiap Mommy cantik membutuhkannya. Ya, kemana dan kapan pun Lusi membutuhkan Viky, suaminya itu pasti memprioritaskan dirinya dan sang jabang bayi. Viky bahkan, rela meninggalkan tender besar di perusahaannya agar bisa maksimal menjaga dan memperhatikan kedua harta berharganya itu.
"Papa, aku ingin beli makanan itu!" Rengek Lusi seraya menunjuk sebuah gerobak pedagang jajanan di pinggir jalan.
"Tapi makanannya pasti kurang higienis, Mam! Kita cari yang lain saja ya!" Sahut Viky mencoba memberi pengertian.
Semenjak kehamilan Lusi menginjak usia 3 bulan, Lusi mengubah panggilannya pada sang suami menjadi Papa. Luci beralasan, jika semua yang dia ucapkan itu adalah kemauan sang bayi di dalam perutnya.Viky pun tak menolak, malah dia sangat menyukai panggilan barunya itu dari sang istri. Dan sebagai balasannya, Viky pun memanggil Lusi dengan sebutan Mama.
"Papa tega! Papa mau ya kalau nanti anak kita ileran?! Mama gak mau ya!" Ketus Lusi seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Papa bukannya tega, Mam! tapi jajanan di pinggir jalan itu sudah pasti banyak kuman dan polusinya! kita beli yang lebih sehat saja ya!" Bujuk Viky.
Lusi tak menjawab, dia malah menunjukkan wajah menyedihkan siap menangis. Dan hal ini yang paling tak bisa Viky acuhkan. Dia paling tidak bisa melihat Lusi menangis. Akhirnya calon Papa tampan tersebut pun mengalah dan turun dari mobil yang sejak tadi mereka tumpangi untuk menuju Rumah Sakit tempat kontrol kandungan Lusi.
"Haist! ya sudah, ya sudah! mau beli yang mana?!" Ucap Viky memberi tawaran.
Seketika senyum menawan pun terbit di bibir bumil cantik itu. Dengan semangat, Lusi memberitahukan apa saja yang dia inginkan.
"Astaga?! apa kau yakin, bisa menghabiskan semuanya sendiri?!" Tanya Viky setelah menjumlah pesanan sang istri yang cukup banyak.
"Aku hanya ingin mencicipi semuanya, sisanya akan aku berikan pada Bibi dan Lisa saja, nanti!" Ucap Lusi dengan santainya menyuap jajanan pertama yang sudah dia dapatkan dari penjualnya langsung.
"Emm... ini benar-benar lezat, Papa harus coba juga, ayo buka mulutnya, a...!" Gumam Lusi seraya mengarahkan jajanan yang dia makan ke arah mulut suaminya. Mau tak mau Viky pun membuka mulutnya dan ikut mencicipi jajanan tersebut.
Satu detik...
__ADS_1
Dua detik...
Tiga sampai lima detik, barulah Viky memberikan reaksinya.
"Haaaa... kenapa pedas sekali, Mam! cepat buang! makanan ini benar-benar tidak baik untuk bayi kita! kau juga bisa sakit perut jika terus memakannya!" Gerutu Viky seraya meraih botol air yang selalu dia bawa di dalam mobilnya.
Dengan rakus, Viky meneguk air mineralnya hingga tandas. Sepertinya rasa pedas jajanan yang di makannya benar-benar terasa membakar lidahnya.
"Pelan-pelan, Pa! airnya sampai tumpah di jas tuh!" Ingat Lusi seraya membantu sang suami mengelap jas yang sedikit basah terkena tumpahan tegukan air.
"Habis, rasa makanannya benar-benar Padas, sayang! aku tidak sanggup jika harus memakannya lagi, sebaiknya makanannya di buang saja, ya!" Seru Viky bersiap membuang jajanan pedas tersebut.
"Jangan! yah... kenapa kau malah membuangnya, sih?! aku kan bisa menambahkan kecap atau pun saus tomatnya lagi agar tak terlalu pedas! padahal aku masih ingin memakannya, hik...hik.." Isak Lusi mulai berderai air mata.
Viky panik, tak menyangka jika sang istri akan sesedih itu saat dia membuang makanannya. Lusi yang memang selalu sensitif sejak kehamilannya menjadi mudah marah atau pun sedih tanpa mengenal waktu. Seperti saat ini, dia benar-benar menangis dan merajuk saat jajanannya di buang oleh sang suami.
"Papa jahat, nak! masa makanan Mama di buang sih, awas saja nanti malam! Mama tidak akan memberinya jatah, pokoknya!" Gerutu Lusi berbincang dengan perut buncitnya.
"Sayang, aku belikan yang baru saja ya, atau makan yang lainnya ya, ini kan masih banyak? yang tadi itu sedikit pahit karena gosong, jadi aku membuangnya supaya tidak termakan oleh baby kita!" Bujuk Viky beralasan.
"No! sebaiknya Papa bawa Mama ke Rumah Sakit saja sekarang, setelah itu antar Mama pulang ke rumah Mamih Alina!" Perintah Lusi.
"Ko rumah Mamih Alina, sih?! pulang ke rumah kita saja ya! please... Papa mana bisa tidur tanpa Mama, apa lagi bayi kita pasti rewel kalau Papa gak tengok dia!" Sahut Viky.
"Alasan, yang ada Papa yang pasti rewel! udah ah, berangkat sekarang!" Ucap Lusi tak mau di bantah lagi.
Dengan lesu, Viky akhirnya menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan nya menuju Rumah Sakit. Setelah selesai dengan rutinitas kehamilan. Pasangan suami istri tersebut memutuskan segera pulang ke rumah Mamih Alina sesuai keinginan Lusi tadi.
__ADS_1
"Mih, Ana malam ini tidur sama Mamih, ya!" Rengek Dokter cantik seraya bergelayut manja di leher Mamih Alina.
"Kenapa? kalian bertengkar lagi, ya! ayo lah, An! sebentar lagi kalian itu akan menjadi orangtua, tidak sepantasnya kalian berdua masih sama-sama egois dan kekanakan seperti ini!" Tutur Mamih Alina seraya melerai tangan sang putri yang memeluk lehernya.
"Mamih benar sayang, maafkan aku ya, aku memang kurang peka!" Sahut Viky menghampiri masuk ke dalam kamar mertuanya.
"Papa...huaaa... maafin Mama juga ya, Pa! Mama jadi suka baper gak jelas semenjak hamil!" Serbu Lusi memeluk sang suami dan menangis di dekapannya.
"Sudahlah, sebaiknya sekarang kita pulang ke rumah ya, kasian bayi kita! dia pasti lelah di dalam sini!" Seru Viky seraya mengelus lembut perut buncit istrinya.
Seolah merespon sang Papa, jabang bayi dalam perut Lusi pun menendang dinding perut sang Mama. Membuat permukaan perut Lusi terlihat menonjol ke sana kemari akibat pergerakan bayi dalam perutnya itu.
"Awwssstt!" Pekik Lusi.
"Sayang, jangan nakal-nakal ya di perut Mama, kasian Mama nya jadi sakit, nak! kayanya baby kita sudah pintar sayang! dia bisa merespon apa yang Papanya ucapkan!" Tutur Viky seraya tersenyum bangga melihat langsung perkembangan bayi mereka.
"Iya, Pa! ya udah yuk pulang, Mama udah ngantuk nih!" Rengek Lusi dengan sikap yang berubah manja.
Mamih Alina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang putri. Namun jauh di dasar hatinya, Mamih Alina nampak bahagia atas kehamilan Lusi kali ini. Bagaimana tidak, Viky sang menantu selalu di samping Lusi, dan selalu menjadi suami dan calon Papa siaga. Membuatnya tenang menyerahkan sepenuhnya sang putri pada Viky.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mom kasih ekstra part nih guys... jangan lupa kasih like, komen, gift, vote dan rate nya ya... terimakasih sudah mampir 🤗🤗🤗❤️❤️❤️