Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 42.


__ADS_3

"Itu bukan anak Daniel, Mam! Sunny dan aku selalu melakukannya menggunakan pengaman!" Tutur Daniel yang tak lain pemuda yang sedang berdebat dengan kedua orangtuanya.


"Tapi Sunny bilang, anak itu anak kamu, Dan! Papah tidak mau kamu menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab lagi! cukup kau menjadi pengecut saat pertunangan mu dengan Lusi saja waktu itu!" Tegas Papah Daniel.


"Daniel pasti bertanggung jawab jika anak itu benar-benar anak Daniel, Pah! beri waktu Daniel waktu untuk membuktikan semuanya!" Tutur Daniel tak kalah tegas.


"Yang Mamah khawatirkan ternyata terjadi juga, kan?! coba kalau kau dulu tak membatalkan pertunangan mu dengan Lusi, mungkin saat ini kalian berdua sudah bahagia hidup bersama!".


"Sejak awal, Mamah sudah tidak suka dengan Sunny! tapi kau selalu tidak mendengarkan nasihat Mamah, Dan!" Sesal Mamah Daniel.


"Maafkan Daniel, Mam! Daniel akui jika Daniel telah salah mengambil keputusan! tapi sekarang, Lusi sudah bahagia dengan suaminya! aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka! masalah Sunny, biar Daniel selesaikan dengan cara Daniel sendiri! Mamah doakan saja agar Daniel bisa segera mendapat bukti untuk memperjelas status anak yang dikandungnya!" Tutur Daniel.


Sore harinya, Daniel yang sudah mengatur janji temu dengan pemilik Perusahaan XXX, terlihat sudah rapih dengan stelan jas yang dia kenakan. Awalanya Daniel ragu untuk meminta kerjasama dengan perusahaan mantan tunangannya itu. Tapi, demi kelangsungan perusahaannya yang tengah terombang ambing dan terancam bangkrut, Daniel terpaksa mengubah pada Viky.


"Selamat Sore, Tuan Daniel! apa kau sudah menungguku lama?!" Sapa Viky yang baru saja tiba di salah satu Restoran yang sudah Daniel reservasi sebelumnya.


"Tidak, Tuan! saya juga baru saja tiba, silahkan duduk!" Sahut Daniel.


"Baiklah, aku akan ke intinya langsung saja! aku tidak memiliki banyak waktu sore ini! aku harus segera menjemput istriku untuk makan malam bersamanya malam ini!" Tutur Viky mencoba sedikit menguji perasaan Daniel pada istrinya.


"Ba...baiklah, Tuan! Ini berkas histori perusahaan saya! sudi kiranya, Tuan mau meninjau lebih jauh dan menanamkan sedikit saham Tuan pada perusahaan saya ini!" Sahut Daniel terlihat sedikit canggung, namun nampak lancar setelah beralih membahas pekerjaannya.


"Hm... baiklah! aku akan meninjaunya lagi di rumah jika kau tidak keberatan! aku akan menghubungi mu lagi jika aku sepakat berinvestasi, nanti!" Sahut Viky seraya menyerahkan berkas Daniel pada Rei, asistennya.


"Silahkan, Tuan! saya akan menunggu kabar baiknya dari anda!" Ucap Daniel seraya ikut beranjak berdiri setelah melihat Viky berdiri juga dari posisi duduknya.


Keduanya lalu berjabat tangan sebagai salam perpisahan pertemuan singkatnya sore itu. Viky memilih melenggang terlebih dahulu untuk kembali ke rumah mertuanya dan menjemput Lusi.


Sedangkan Daniel. Mantan tunangan Lusi itu masih menatap kepergian Viky dengan penuh harap. Dia benar-benar sangat menggantungkan keberuntungan terakhirnya pada perusahaan Viky tersebut. Bukan tanpa alasan, sudah banyak perusahaan yang Daniel ajak bekerjasama dan berinvestasi dengan perusahaannya itu, namun hampir semua perusahaan yang dia datangi menolak kerjasamanya.


Karena kasus penangkapan Siren, Daniel juga terkena imbasnya. Selama ini dia ikut bekerjasama dengan perusahaan ilegal milik Kakak dari kekasihnya itu. Belum lagi, berita Sunny yang hamil di luar nikah juga membuat namanya semakin tercoreng. Model berbodi aduhai itu ternyata mengakui Daniel sebagai ayah si jabang bayi yang dia kandung saat ini.


...****************...

__ADS_1


Di perjalanan menuju kediaman Mamih Alina. Viky terlibat perbincangan dengan sang asisten yang mengantarnya pulang sore itu.


"Menurutmu bagaimana Rei?! apa aku harus berinvestasi?!" Tanya Viky meminta pendapat dari asistennya kepercayaannya itu.


"Dari data yang sudah saya pelajari, sebenarnya perusahaan Tuan Daniel hanya terkena dampak saja Tuan, selebihnya perusahaan Tuan Daniel sebenarnya sangat aman untuk kita kembangkan! tapi semua keputusan ada di tangan, Tuan!" Sahut Rei diplomatis.


"Hm... baiklah! aku akan mempertimbangkannya lagi setelah pulang ke rumah nanti!" Ucap Viky.


Setibanya di rumah sang mertua, Viky kembali membujuk Lusi agar mau pulang bersamanya. Beruntungnya kali ini Mamih Alina sudah membaik, dan membantunya membujuk Lusi agar ikut pulang bersama menantu tampannya itu.


"An, seberat apa pun permasalahan kalian, kau seharusnya tetap di samping suami mu! bicarakan baik-baik! jangan sampai kau menyesal di kemudian hari! sekarang kau pulanglah! lagi pula Mamih sudah sehat sekarang, jadi kau tak perlu repot merawat Mamih lagi!" Tutur Mamih Alina memberi petuah.


"Hm... tapi Ana masih ingin tinggal bersama Mamih! Ana menginap satu malam lagi ya!" Sahut Lusi seraya bergelayut manja di salah satu lengan Mamih Alina.


"Tidak An, kau sudah menikah! kau harus bisa dewasa, sayang! masalah itu harus di hadapi dan diselesaikan, bukan di hindari terus!" Ucap Mamih Alina.


Disaat kedua wanita berbeda generasi itu mencurahkan isi hati mereka, Viky datang menghampiri. Di ketiknya pintu kamar sang mertua, berharap ketukannya itu tidak mengganggu kenyamanan Mamih Alina yang masih beristirahat.


"Sepertinya itu suami mu, An! temui lah Viky, dan ikut kah pulang bersamanya! Mamih tau, kamu anak yang kuat sayang!" Seru Mamih Alina.


Perlahan, Lusi beranjak dari tempat tidur sang Mamih. Sesaat sebelum membuka pintu, Lusi menyempatkan menghela kasar nafasnya. Berharap semua kekesalan di hatinya ikut melebur bersama hembusan nafas yang dia keluarkan lewat mulutnya.


Ceklek...


Pintu kamar pun di buka dari dalam oleh Lusi.


"Sayang, apa Mamih sudah membaik?!" Sapa Viky seraya menanyakan keadaan mertuanya.


"Hm..." Gumam Lusi menjawab.


"Viky, kemari lah, nak!" Seru Mamih Alina.


Langkah pria tampan blasteran itu pun di ayun menghampiri sang mertua yang memang sudah terlihat lebih segar dan sehat.

__ADS_1


"Mamih! bagaimana keadaan Mamih sekarang? apa masih terasa ada yang sakit?!" Tanya Viky perhatian.


"Mamih sudah jauh lebih baik, Nak! sebaiknya kau ajak pulang Lusi, ya! Mamih jadi tidak bisa beristirahat dengan tenang kalau dia terus menempel seharian dekat Mamih!" Ucap Mamih Alina berpura-pura merajuk.


"Mih! aku kan hanya kangen tidur sama Mamih!" Sahut Lusi mencebik seraya menghampiri tempat tidur Mamih Alina.


"Sayang! Mamih sepertinya memang butuh ketenangan untuk beristirahat, jadi sebaiknya kita pulang dulu ya! aku juga punya sesuatu untukmu di rumah!" Tutur Viky.


"Aku masih ingin menginap di sini! jika kau ingin pulang, pulang saja sendiri!" Ketus Lusi tanpa melihat sedikit pun kearah suaminya.


Mamih Alina yang malu dengan tingkah putrinya segera menegur. Beliau benar tak habis pikir, jika putrinya bisa kekanak-kanakan seperti itu.


"An! tidak baik berbicara seperti itu pada suamimu! sebaiknya kau pulang saja! lagi pula Viky sudah mencarikan Mamih suster untuk menjaga Mamih di sini, jadi kau pulang saja bersama nak Viky, ya!" Tegur Mamih Alina.


"Sayang, kita pulang dulu ya... besok jika kau ingin kemari lagi, aku akan mengantarmu!" Bujuk Viky seraya menggenggam sebelah tangan Lusi.


"Ha... ya sudah! tapi Mamih jangan lupa makan obatnya ya! aku akan berbenah dulu sebentar!" Ucap Lusi seraya beranjak dari kamar Mamih Alina untuk mengemas barang-barangnya.


.


.


.


.


.


Terimakasih masih setia hadir...


Jangan lupa kasih dukungan terbaiknya juga ya guys...


Like, komen, gift, vote serta rate-nya kalian berarti banget loh buat author... see you next episode 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2