
Malam semakin larut, akhirnya Viky pun ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri yang sudah terlelap nyenyak. Mungkin dia harus sedikit bersabar lagi sebelum menanam benih Viky juniornya.
Keesokan harinya, Lusi terbangun dengan keadaan pusing yang luar biasa di kepalanya, ternyata pengaruh alkohol dari minuman yang dia teguk semalam masih memberikan efek yang sangat menyiksa bagi Dokter cantik itu.
"Sayang, bangun! kau kan harus ke kantor hari ini!" Seru Lusi memaksakan membangunkan sang suami yang masih terlelap di sampingnya.
"Hm... sebenar lagi ya, aku benar-benar masih mengantuk, sayang!" Gumam Viky yang enggan membuka mata sedikit pun.
"Haist! setidaknya kau singkirkan dulu tangan mu itu dari perutku! kepala ku benar-benar sangat pusing! aku juga ingin ke kamar mandi! badan ku benar-benar masih sangat lemas!" Gerutu Lusi seraya memijat keningnya yang terasa berdenyut.
Seketika, Viky segera mendudukkan diri di samping Lusi dan memeriksa keadaannya.
"Kenapa obat pengar nya tidak bereaksi?! seharusnya kau sudah membaik sekarang!" Ucap Viky seraya menempelkan punggung tangannya di kening sang istri.
"Ini karena aku benar-benar tidak bisa minum alkohol, Ky! sudahlah, aku ingin ke kamar mandi sekarang!" Sahut Lusi seraya beranjak dari tempat tidurnya.
Meski kepalanya masih berdenyut pusing. Lusi masih bisa berjalan dengan baik, apa lagi efek alkohol semalam yang dia minum sudah lumayan menghilang karena obat pengar yang dia minum. Karena merasa khawatir sekaligus cemas pada keadaan sang istri, Viky akhirnya menyusulnya masuk ke dalam kamar mandi yang ternyata lupa Lusi kunci pintunya.
Ceklek...
Drop...
Suara pintu dibuka tutup pun terdengar nyaring di kamar mandi yang masih sunyi itu. Ternyata Lusi masih berusaha mengumpulkan tenaganya untuk membersihkan diri.
Grep...
"Sayang, apa kau ingin aku mandikan?!" Tawar Viky yang terdengar begitu menggoda di rungu Lusi.
"Kau pasti mau modus! aku bisa sendiri, Ky! awas minggir! aku akan mengisi dulu bath up nya dengan air hangat! sepertinya berendam di air hangat bisa membantuku untuk cepat pulih dari keadaan ini!" Tutur Lusi seraya meraih keran air dan menyalakan air hangat untuknya berendam.
Viky yang sudah kepalang masuk dan gagal mengeksekusi semalam, akhirnya memiliki ide untuk mengulang kembali rencananya yang gagal itu. Perlahan dia membantu Lusi melucuti pakaiannya dengan dalih ingin membantu Lusi karena khawatir terjatuh. Padahal itu hanya akal-akalan nya saja agar dia bisa menyentuh tubuh sang istri.
"Apa kau mau aku pijat sambil berendam?!" Tawar Viky dengan maksud terselubungnya.
Senyum liciknya terhias di bibir tipis nan seksinya. Pria tampan blasteran itu ternyata sangat pandai memanfaatkan situasi. Dalam hitungan detik saja, Viky sudah berhasil ikut masuk ke dalam bath up yang menampung tubuh ramping istrinya.
__ADS_1
"Ky! kenapa kau ikut berendam denganku?! bath up nya kan jadi sempit!" Protes Lusi yang masih tak menyadari dengan tujuan suaminya yang sebenarnya.
"Sudahlah, sayang! aku hanya kasian padamu dan ingin memijat tubuhmu agar kembali rileks!" Sahut Viky seraya mulai memijat lembut kedua bahu istrinya yang saat ini tengah duduk berendam membelakanginya.
Lusi tak menolak, pijatan Viky rasanya benar-benar sangat dia butuhkan saat ini, Bahkan dia sampai terlarut menikmatinya hingga memejamkan kedua bola mata indahnya. Menit-menit awal, pijatan Viky masih terfokus memanjakan tubuh sang istri. Namun, di menit berikutnya. Tangan usil Viky mulai beraksi berseluncur ke segala titik yang dapat membuat sang istri melayang.
"K...Ky!" Gumam Lusi yang mulai kehilangan kendali dirinya.
"Iya sayang! apa kau menyukainya?!" Sahut Viky yang begitu gencar mencari celah kepuasan sang istri.
Akhirnya tanpa babibu lagi, Viky mengeksekusi istrinya di dalam bath up. Menyalurkan apa yang semalam telah gagal dan menanamkan benih terbaiknya di rahim sang istri.
Setelah keduanya selesai dengan ritual eksekusinya. Lusi keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang terlihat begitu kelelahan. Sangat berbanding terbalik dengan Viky. Pria tampan blasteran itu, justru terlihat semakin berenergi setelah mendapatkan jatahnya pasca nifas Lusi.
"Kau benar-benar keterlaluan, Ky! badanku rasanya remuk semua!" Keluh Lusi.
"He... maafkan aku, sayang! habisnya aku sudah sangat menantikannya sejak dua bulan terakhir! jadi aku tidak bisa membendungnya lagi tadi!" Ucap Viky seraya menunjukkan cengir kudanya tanpa rasa bersalah.
"Haist! kenapa aku bisa menikah dengan pria mesum sepertinya, ya?!" Gumam Lusi seraya melenggang memasuki walk in closet untuk memakai pakaiannya.
"Ky, hari ini aku ingin menjenguk Mamih, ya! Bi Susi bilang, kemarin Mamih sempat tidak enak badan, aku khawatir dengan kesehatannya!" Ucap Lusi saat keduanya tengah menikmati sarapan mereka di meja makan.
"Baiklah, aku akan menyusul saat makan siang nanti, sayang! jika perlu kau panggil Ariana saja untuk memeriksa Mamih! atau kita bawa saja langsung ke Rumah Sakit!" Sahut Viky yang sama-sama mencemaskan kesehatan mertuanya.
"Aku akan periksa dulu keadaan Mamih! jika memang perlu ke Rumah Sakit, aku akan segera membawanya, nanti!" Tutur Lusi.
"Baiklah! hubungi aku jika kau butuh sesuatu ya, sayang!" Sahut Viky seraya kembali melahap sarapannya sebelum berangkat ke perusahaan.
Tiba di ruangannya, Viky segera mengecek beberapa berkas yang perlu dia tinjau dan tandatangani. Fokusnya saat bekerja benar-benar tak bisa di ganggu gugat. Bahkan saat Rei mengetuk pintu ruangannya, pria tampan blasteran itu masih anteng dengan lembaran kertas yang sedang dia amati.
Tok...tok...tok...
"Astaga! apa aku kurang keras ya mengetuk pintunya?!" Batin Rei saat dirinya sedang di buru waktu untuk menyampaikan agenda kegiatan Viky hari ini.
Tok... tok...tok...
__ADS_1
Diketuknya pintu ruangan Viky lagi. Namun masih sama, tidak ada jawaban dari dalam. Padahal jelas-jelas Viky ada di ruangannya, terlihat dari tembusan kaca besar yang berada di samping pintu. Viky sedang mengamati berkas-berkasnya dengan serius.
Karena tak mendapat sahutan dari sang bos, akhirnya Rei memberanikan diri untuk masuk begitu saja ke dalam ruangan Viky.
"Tuan!" Panggil Rei setelah berhasil masuk ke dalam ruangan Viky.
Satu panggilan masih tak mendapat sahutan. Di cobanya lagi untuk yang kedua kalinya, kini Rei memilih sedikit mendekat ke arah meja kerja Viky.
"Tuan!" Panggil Rei lagi.
"Astaga! sejak kapan kau berdiri di situ?! buat aku terkejut saja!" Rutuk Viky setelah melihat keberadaan asistennya di depan meja kerjanya.
Rei hanya menyunggingkan senyum kikuk. Padahal di dalam hatinya dia merutuki tingkah bos nya itu.
"Aku sejak tadi sudah mengetuk dan memanggilmu, Tuan! kau nya saja yang tak mau mendengar!" Gerutu Rei yang sayangnya hanya bisa dia ungkapkan dalam hatinya.
"Maaf Tuan, saya hanya ingin menyampaikan agenda kegiatan anda hari ini!" Tutur Rei seraya menyerahkan sebuah tab canggih pada Viky. Pada akhirnya dia memilih mengungkapkan maksud dan tujuannya menemui Viky.
"Ha... ternyata jadwalku hari ini cukup padat juga ya?!" Gumam Viky setelah memeriksa jadwal kegiatannya hari itu.
"Benar, Tuan! dan sebentar lagi, ada dari pihak perusahaan XXX ingin menemui anda!" Tutur Rei.
"Perusahaan XXX?! sepertinya aku pernah mendengar nama perusahaan itu, tapi dimana ya?!" Gumam Viky seraya mengingat nama perusahaan yang nampak tak asing baginya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komentar, gift, vote serta rate-nya ya guys, see you next episode 😘😘😘
__ADS_1