
"Hm... kau benar, aku sampai lupa untuk menjamu kalian, sebenar! Sera... tolong ambilkan masakan yang sudah aku buat tadi!" Seru Nenek Wenda.
Sandra sedikit merasa lega. Dia sangat tertolong setelah Daniel membantunya mengalihkan keinginan Nenek Wenda.
"Hu... syukurlah, setidaknya aku bisa sedikit bernafas sekarang!" Batin Sandra.
Sementara itu, di perusahaan yang beberapa waktu lalu di sulap menjadi hotel dadakan. Menampilkan dua sejoli yang baru saja selesai melepas puncak mereka.
"Sayang, bagaimana jika kita berbulan madu lagi? aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan mu!" Tutur Viky seraya mencuri kecup bibir istrinya yang masih terpejam setelah pertempuran.
"Kita sudah sering melakukannya, Ky! untuk apa kita bulan madu lagi, bahkan baru saja kau mereguk madunya, kan?!" Gumam Lusi dengan mata yang masih asik terpejam.
"Haist! ini beda sayang, setidaknya kita bisa healing bersama, apa kau tak ingin mengunjungi suatu tempat?!" Sahut Viky.
"Hm... entahlah, aku akan memikirkannya lagi nanti, sebaiknya kita mandi dulu sekarang! perut ku sudah sangat lapar saat ini!" Seru Lusi beranjak dari tempat tidur ruangan istirahat suaminya dengan selimut yang dia lilitkan di tubuh rampingnya.
"Ok, kalau begitu, kita mandi bersama ya!" Ucap Viky menyusul seraya tersenyum penuh kemenangan. Karena sudah bisa di pastikan dia akan menambah jatahnya di dalam kamar mandi nanti.
Beberapa menit kemudian...
"Haist! kau benar-benar keterlaluan, Ky! badanku serasa remuk semua, sepertinya aku sudah tidak kuat jika harus keluar mencari makan!" Rengek Lusi yang kini tengah terbaring kembali di atas tempat tidur suaminya.
"Kau tunggulah sayang, aku akan memesankan makanannya pada Rei. Biar dia saja yang mencarinya untuk kita. kau mau makan apa?!" Sahut Viky seraya menyambungkan panggilan telepon pada sang asisten.
"Aku ingin sea food, dan Japanese food! emm... minumannya lemon tea saja deh!" Tutur Lusi.
"Apa hanya itu, apa kau ingin yang lainnya?" Tanya Viky.
Lusi menggelengkan kepalanya. Dia memilih memejamkan kedua matanya kembali untuk mengisi waktu tunggunya menyantap makanan yang dia pesan.
"Kenapa kau selalu membuatku ON, sih?!" Gumam Viky.
"Hei!!! aku masih bisa mendengar mu, Ky! kau jangan coba macam-macam lagi, ya!" Tegur Lusi yang membuat Viky terkekeh.
Keesokan harinya...
__ADS_1
"Sialan! biasa-biasanya pelayan murahan itu merebut Daniel, dariku! awas saja kau! aku akan merebutnya kembali dari mu, pelayan murahan!" Geram Sunny yang baru saja mendapat laporan dari anak buahnya yang mengirimkan foto-foto kebersamaan Sandra dan juga Daniel saat di rumah Nenek Wenda, kemarin.
"Nona, kami juga baru saja mendapat kabar, jika saat ini Tuan Daniel dan pelayan itu sedang membeli pakaian di Mal bersama Neneknya!" Tutur anak buah Sunny.
"Hm... mereka ternyata ingin bersenang-senang di atas penderitaan ku, ya! tidak akan ku biarkan! cepat bawa ke Mal itu, aku akan melabrak wanita tak tahu diri itu sekarang juga!" Titah Sunny.
"Baik, Nona!" Sahut anak buah Sunny.
Mobil yang sudah siap pun di masuki Sunny dengan cepat. Di pacu dengan kecepatan yang cukup kencang, sesuai dengan keinginan sang Nina yang memerintahkan supirnya itu.
Tiba di halaman parkir, Sunny segera mengenakan topi serta atribut lainnya untuk menutupi wajahnya. Bukan apa-apa. Tapi, Sunny adalah salah satu Model yang cukup terkenal, di tambah beberapa hari kebelakang, dia baru saja melakukan jumpa pers terkait gosip kehamilannya.
"Awasi aku dari jarak yang dekat! jangan sampai penyamaran ku di ketahui publik!" Seru Sunny bergegas masuk ke dalam Mal, dan mencari keberadaan Daniel serta kedua wanita yang sedang bersamanya.
Tiba di lantai incaran. Yaitu, lantai khusus pakaian branded dan juga berkelas. Di dalam salah satu toko ternama, tengah terjadi perdebatan sengit. Perdebatan yang memperebutkan model pakaian yang cocok untuk Nenek Wenda kenakan.
"Aku bilang yang ini, ya ini! Nenek sangat cocok mengenakannya. Dia terlihat lebih muda dan fresh jika memakai baju ini!" Seru Sandra seraya mengarahkan pakaian pilihannya di tubuh Nenek Wenda.
"Tidak-tidak, selera mu benar-benar jelek ternyata! Nenek itu akan lebih nyaman jika memakai baju pilihanku!" Sangkal Daniel tak kalah sibuk menempelkan pakaian pilihannya di tubuh sang Nenek.
"Sudah-sudah! aku yang akan tentukan sendiri pakaiannya!" Tegur Nenek Wenda melerai perdebatan.
"Sudahlah, sayang! Nenek akan memilih baju pilihanmu, Nenek rasa pakaian yang di pilihkan Daniel terlalu terlihat tua!" Cibir Nenek Wenda membela Sandra.
"Tapi, Nek!" Sanggah Daniel yang cepat di cegah lagi oleh Nenek Wenda.
"Tidak ada tapi-tapian, Dan! sudahlah, Nenek akan membayar bajunya dulu ke kasir!" Tutur Nenek tak mau di bantah.
"Wle... aku menang! kau kalah!" Ejek Sandra seraya menjulurkan lidahnya ke arah Daniel.
Sontak hal itu membuat Daniel gemas dan berusaha menangkapnya. Dengan sigap, Sandra pum menghindar agar tak mudah di tangkap oleh Daniel. Hal ini tak lepas dari perhatian Nenek Wenda dan wanita hamil yang mengintip aksi keduanya.
"Baru kali ini aku melihat sikap aslinya seperti itu lagi, sikap kekanakan yang tak pernah memikirkan beban apa pun!" Batin Nenek Wenda penuh haru. Cucunya yang akhir-akhir ini murung dan banyak masalah, akhirnya bisa ceria kembali dengan kehadiran Sandra.
Lain halnya dengan pendapat wanita hamil yang bersembunyi dari balik pakaian-pakaian yang di pajang di toko itu. Matanya semakin memerah menyiratkan amarah yang sudah membumbung tinggi. Dadanya kembang kempis tak beraturan saat melihat Daniel menangkap tubuh Sandra dengan mesranya. Apa lagi, Daniel juga menunjukkan senyum terbaiknya saat berinteraksi dengan gadis pelayan itu.
__ADS_1
"Sialan!!! kau hanya milik ku Daniel! hanya milik ku!" Gumamnya seraya mendekati kedua muda mudi itu.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah yang semakin mendekat itu, tak membuat kedua anak Adam terganggu dengan perdebatan asiknya. hingga detik berikutnya....
"Akhh..." Pekik Sandra ketika langkahnya yang di ayun mundur harus menginjak sesuatu yang tajam.
"Sayang! apa yang terjadi!" Panik Daniel yang tanpa sadar memanggil Sandra dengan sebutan sayang layaknya sudah terbiasa.
"Kaki ku, aww...stttt! sepertinya aku menginjak benda tajam!" Tutur Sandra di selingi rintihan kesakitan.
Darah segar yang semula tak terlihat pun, kini mulai menggenang membasahi lantai Toko. membuat Daniel ketar ketir bukan main.
"Da...darah! kau haru segera ke rumah sakit, sayang! kau harus di periksa dan di obati!" Seru Daniel tanpa menunggu intrupsi menggendong Sandra ala bridal style.
Nenek yang baru saja selesai melakukan transaksi pembelian pun di buat terkejut dengan kepanikan Daniel. Dengan langkah kaki renta nya, Nenek Wenda menyusul sang cucu yang memboyong Sandra ke lantai bawah menghampiri mobil.
"Dan, apa yang terjadi pada kekasihmu?!" Tanya Nenek setelah berhasil menyusul sang cucu.
"Kaki Sandra menginjak benda tajam, Nek! Daniel akan membawanya ke Rumah Sakit, sekarang!" Tutur Daniel penuh kepanikan.
"Astaga! ya sudah, ayo kita bawa sekarang!" Seru Nenek Wenda tak kalah panik setelah tau penyebab kepanikan cucunya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😘😘😘