Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 23.


__ADS_3

Lusi berusaha meraih kembali ponselnya. Dengan sisa tenaga yang ia punya. Dia merangkak, demi bisa meraih kembali benda pipih miliknya.


Sementara itu, di Desa perbatasan.


Hoek... hoek...


"Tuan, apa kau baik-baik saja?!" Tanya Rei cemas seraya membantu Viky memijat tengkuknya.


"Ha... aku butuh ke toilet sebentar, Rei! kau gantikan aku dulu ya!" Tutur Kenny seraya berjalan menuju kamar mandi.


Saat ini keduanya sedang berada di rumah Pak Manuel, Kepala Desa perbatasan. Rei dan Viky juga tidak hanya berdua di sana. Rencananya hari itu, Siren juga akan menyusul mereka untuk meninjau bahan baku kosmetik yang akan di gunakan Viky dalam produk kosmetik terbarunya.


"Selamat malam Tuan Rei, maaf aku telat! perjalanan menuju tempat ini benar-benar sangat luar biasa!" Ucap Siren yang baru saja tiba di rumah Pak Manuel.


"Silahkan duduk dulu, Nona! Memei cepat bawakan minuman dan makanan untuk tamu baru kita!" Seru Pak Manuel memerintah sang putri.


Tak lama, Memei pun keluar dari arah dapur rumahnya dengan menenteng sebuah cangkir berisi teh hangat dan cemilan untuk di suguhkan.


"Silahkan, Nona!" Ucap Memei segera beranjak setelah menaruh suguhan untuk Siren.


"Saya permisi sebentar, Pak! Nona!" Ucap Rei mengejar Memei ke arah dapur.


"Hei! kau tidak membubuhkan apa pun kan di makanan bos ku?!" Tanya Rei menyelidik.


"A...aku berani bersumpah, Tuan! lagi pula, jika aku memberikan sesuatu di makanan kalian, pasti bukan hanya Tuan Viky yang keracunan, kan?!" Tutur Memei apa adanya. ternyata gadis Desa itu benar-benar sudah takluk oleh Rei.


"Hm... kau benar juga! tapi kenapa Tuan bisa muntah-muntah seperti itu ya?!" Gumam Rei masih menyelidik.


"Mungkin Tuan Viky sedang ngidam! bukannya kalian bilang istrinya sedang hamil ya?!" Sahut Memei memberi sedikit pengetahuannya.


"Ngidam? bukannya ngidam itu selalu di rasakan perempuan saja ya?! memangnya, pria juga bisa seperti itu ya?!" Cecar Rei.


"Ya bisa lah, Tuan! itu buktinya!" Ucap Memei seraya menunjuk ke arah kamar mandi yang Viky sedang gunakan.


"Haist! ternyata hamil juga sama mengerikannya ya dengan orang bucin!" Seloroh Rei.


"Itu masih hal wajar, Tuan! di Desa ini bahkan pernah ada suami yang sampai ingin memakai pakaian istrinya sendiri saat ngidam!" Tutur Memei.

__ADS_1


"Hah?! astaga! semoga Tuan Viky tidak seperti itu!" Ucap Rei penuh harap.


Sementara di ruang tamu, Siren melihat ponsel Viky yang tergeletak menyala. Saat dirinya berbincang dengan Pak Manuel, tanpa sepengetahuan kepala desa tersebut, Siren menggeser benda pipih milik Viky tersebut hingga terjatuh di atas lantai.


Bruk...


"Astaga, aku terlalu teledor menyimpan ponselku!" Gumam Siren seraya melihat body ponsel yang sedikit retak di bagian layar bawahnya.


"Apa ponsel anda baik-baik saja?! apa perlu saya panggilkan seseorang untuk membetulkannya?!" Tawar Pak Manuel yang nampak begitu perhatian. Sepertinya pria tua telah terpikat dengan body aduhai milik Siren saat ini.


"Tidak perlu, Tuan! aku bisa mengatasinya! aku hanya butuh... tisu! iya, tisu! apa kau bisa memberikannya padaku?!" Ucap Siren dengan tingkah menggodanya.


"Te...tentu Nona! tunggu sebentar! saya akan mengambilnya untuk anda!" Ucap Pak Manuel seraya beranjak menuju kamarnya.


"Hm... dasar pria tua bangka! untung dia tidak begitu sulit di rayu!" Gumam Siren seraya mengotak atik ponsel Viky.


Dengan lincahnya, jemari lentik hasil menikur pedikur itu mengetikkan sebuah pesan ke nomer yang sedari tadi menghubungi Viky. Setelah berhasil mengetikkan pesan tersebut dan mengirimnya, Siren segera menghapus riwayat panggilan tak terjawab serta pesan yang dia kirimkan baru saja ke nomer tersebut di ponsel Viky.


"Hm... sepertinya kali ini rencana ku, berhasil!" Batin Siren setelah menyimpan ponsel Viky di salah satu saku tas kerja yang dia yakini milik pria pujaannya.


Dokter cantik itu semakin terkulai lemas dengan darah segar yang kian merembes dari bagian intinya. Di sisa kesadarannya, Lusi akhirnya menghubungi sang sahabat, Ariana. Beruntungnya tanpa menunggu lama, Ariana segera mengangkat panggilan telepon yang Lusi sambungkan pada sahabatnya itu.


"Halo, Si! ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?!" Sahut Ariana di sebrang telepon.


"Ri... to...long aku, aku su...dah tid...ak kuat!" Ucap Lusi terbata-bata sebelum akhirnya Dokter cantik itu benar-benar tak sadarkan diri.


"Halo, Si! Lusi! apa yang terjadi?! Si?! kau baik-baik saja, kan?!" Cecar panik Ariana.


Setelah memastikan sambungan teleponnya tak mendapat jawaban lagi dari sang sahabat. Ariana segera meminta ijin pada kepala penjaga untuk pulang lebih awal.


Dokter umum yang tak kalah cantik itu segera bergegas memacu mobilnya menuju rumah Lusi. Perasaannya semakin tak karuan setelah dia berusaha beberapa kali menghubungi balik nomer Lusi, namun tak di jawab sekali pun oleh sang empunya nomer.


"Semoga kau baik-baik saja, Si! haduh... suaminya mana lagi ke luar Kota lagi ya?! aku harus cepat! semoga saja Lusi benar-benar baik-baik saja di rumahnya!" Gumam Ariana di sela mengemudikan mobilnya.


20 menit kemudian, kereta besi milik Ariana pun berhenti tepat di pelataran rumah Lusi. Ariana segera melepas sabuk pengamannya dengan kasar dan melebarkan langkah demi segera menghampiri sang sahabat di dalam rumahnya.


Ting tong... Ting tong...

__ADS_1


Satu menit... dua menit... tidak ada yang membukakan pintu sama sekali. Karena sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan sahabatnya, Ariana segera memutar handel pintu yang beruntung tak di kunci.


Ceklek...


"Haist! percuma aku menekan bel, ternyata pintunya tidak di kunci!" Rutuk Ariana seraya memasuki rumah Lusi dan mencari keberadaan sang sahabat.


"Lusi... Si! aku datang, Si! kau dimana?!" Teriak Ariana seraya melangkah ke arah kamar Lusi yang berada di lantai dua.


Setelah di periksa kosong, Ariana segera turun kembali ke lantai dasar dan menyusuri ruang keluarga, TV, dan terakhir... dapur.


"Astaga! Lusi! apa yang terjadi, Si?! astaga! darah?! sebaiknya aku menghubungi Rumah Sakit dulu sekarang untuk meminta ambulan!" Ucap Ariana setelah mendapati sang sahabat yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan bersimbah darah di bagian bawah tubuhnya.


Sejurus kemudian, ambulan Oun tiba dan membawa Lusi ke Rumah Sakit untuk mendapat tindakan saat itu juga. Sayangnya, setelah melalui penanganan. Lusi harus rela kehilangan janin yang dia kandung.


...****************...


Di ruangan rawat inap, Lusi baru saja siuman setelah menjalani serangkaian pertolongan medis. Dokter cantik itu begitu syok dan terpukul saat tau jika sang jabang bayi tak dapat di selamatkan.


"Ri! anak ku mana, Ri! kenapa dia hanya sebentar singgah di rahimku?! kemana anak ku, Ri!" Amuk Lusi.


Ariana hanya bisa memeluk sang sahabat. Dia tau, jika Lusi saat ini pasti masih terguncang perasaannya.


"Tenanglah dirimu, Si! aku tau ini pasti berat untukmu, tapi kau harus bersyukur karena kau masih bisa selamat setelah pendarahan hebat itu!" Tutur Ariana.


Setelah amukan Lusi mereda. Ariana memilih untuk menghubungi kembali keluarga Lusi dan suaminya. Hingga esok harinya, Kedua orangtua Viky bersama Mamih Alina pun datang untuk memeriksa keadaan putrinya.


.


.


.


.


.


See you next episode guys... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2