Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 52.


__ADS_3

"Astaga! kenapa dia begitu manis saat memanggilku sayang! Ya Tuhan, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada gadis ini!" Batin Daniel.


Saat Daniel berusaha membuka seat belt yang masih terpasang di kursi Sandra. Otomatis, wajah keduanya menjadi sangat dekat, bahkan nyaris bersentuhan satu sama lain. Membuat kedua jantung muda mudi itu berdetak tak karuan di tempatnya masing-masing.


Deru nafas yang terasa hangat menyapu kulit wajah mereka masing-masing, seakan menghipnotis keduanya untuk terhanyut mereguk manisnya madu sebuah pagutan bibir. Hingga tak sadar, keduanya saling lepas kendali. Memilih mengedepankan perasaannya yang sudah meronta mengalahkan akal sehat.


Cup...


Bibir yang awalnya saling mengecup itu, kini beralih mode. Berubah saling menghisap dan melu*mat. Membuat gelenyar-gelenyar aneh di dalam tubuh. Bagaikan ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut.


"Maaf! aku jadi merusak riasan mu!" Ucap Daniel seraya mengusap bibir Sandra yang sedikit bengkak dan basah akibat ulahnya.


"I...iya sa...sayang, tidak apa-apa! ayo! sebaiknya kita temui Nenek, sekarang!" Seru Sandra salah tingkah.


"Ya Tuhan, aku benar-benar suka saat dia memanggilku sayang!" Batin Daniel.


Keduanya kini, tengah melangkah berdampingan memasuki hunian mewah milik Nenek Daniel. Hunian yang sejak kecil pernah menjadi tempat tinggalnya sebelum kedua orangtua Daniel memilih pindah ke rumah mereka sendiri.


Sebelumnya, saat di perjalanan menuju mansion Neneknya. Daniel sudah memberi tahu Sandra jika dia harus membantunya bersandiwara untuk membatalkan niat Neneknya yang akan menjodohkannya dengan cucu sahabatnya. Awalnya, Sandra sangat menolak keras permintaan Daniel tersebut. Namun berkat kegigihan Daniel meyakinkan gadis pelayan itu, akhirnya Sandra pun mengiyakan permintaannya itu.


"Selamat datang, Tuan muda! Nyonya besar sudah menunggu anda di ruang makan!" Sapa seorang wanita tua yang tadinya di kira Nenek Daniel oleh Sandra.


"Hah! jadi Nenek ini bukannya Nenek Tuan Daniel, ya! haduh... aku semakin gugup! jangan-jangan, Nenek Tuan Daniel galak lagi, ihh... seramnya! aku sampai merinding duluan!" Batin Sandra berargumen.


"Ayo sayang, sepertinya Nenek sudah menunggu kita!" Seru Daniel seraya mengeratkan pegangan tangannya di bahu Sandra.


"I...iya, sayang! permisi!" Ucap Sandra sopan, melewati kepala pelayan mansion Nenek Daniel.


"Akhirnya Tuan muda menemukan gadis yang cocok juga dengan nya! aku rasa kali ini, Nyonya pasti tidak akan menjodohkan nya lagi dengan siapa pun!" Batin Bibi Sera, kepala pelayan mansion Nenek Daniel.


Tiba di ruangan makan, Sandra menghentikan langkahnya saat kedua netra nya menangkap sosok wanita tua yang tengah menyesap teh di salah satu kursi meja makan.


"Ada apa? kenapa kau berhenti? ayo kita hampiri Nenek!" Seru Daniel menggiring Sandra yang masih diliputi takut karena pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"A...aku rasa, aku pulang saja ya!" Ucap Sandra mencoba berbalik badan, namun seruan Nenek Daniel membuatnya membeku di tempat.


"Daniel! kau sudah datang, sayang! kemari lah! apa kau tak ingin memperkenalkan kekasih mu itu?!" Seru Nenek Wenda, yang tak lain nama Nenek Daniel.


"Aku memang sengaja datang untuk mengenalkannya pada Nenek! ayo sayang! mundur sekarang bukan pilihan yang tepat! kau sudah terlanjur masuk ke dalam rumah Nenek! itu artinya kau harus memulai sandiwara kita! apa kau mengerti?!" Sahut Daniel yang di lanjutkan berbisik mengintimidasi di telinga Sandra.


Nasi sudah menjadi bubur. Benar kata Daniel. Mundur pun bukan pilihan yang tepat untuk saat ini. Sandra sudah terlanjur jauh memainkan peran barunya itu.


Sesaat, Sandra menghela nafasnya. Berusaha melepaskan kegugupan yang sejak tadi membelenggu perasaannya.


"Huu... baiklah, ayo!" Sahutnya seraya melingkarkan tangannya di sebelah lengan Daniel.


Deg...


"Astaga! jantungku rasanya ingin melompat dari tempatnya saat ini!" Batin Daniel.


Keduanya sudah berdiri di hadapan Nenek Wenda. Hal yang tak pernah Daniel sangka. Ternyata Sandra berinisiatif menyapa Nenek lebih dulu. Bahkan dia melakukannya begitu lancar dan natural. Taj terlihat seperti bersandiwara.


"Selamat sore, Nek! maaf membuat Nenek menunggu lama!" Sapa Sandra seraya menundukkan badannya untuk memberi hormat pada Nenek Wenda.


"Ya Tuhan! pasti Nenek tidak menyukaiku! padahal aku sudah berusaha bersikap sopan padanya!" Batin Sandra.


"Ma...maksud, Nenek?" Tanya Daniel tak kalah gugup. Jauh dari dasar hatinya, dia sangat berharap jika sang Nenek merestui hubungan palsunya itu dengan Sandra.


Tapi, baru juga Sandra menyapa. Nenek Wenda seperti menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada gadis pelayan itu.


"Maksud Nenek... kenapa kau baru mengenalkannya sekarang? apa kau menemukannya di tempat yang begitu jauh ya? sehingga kau baru mempertemukannya sekarang pada Nenek! duduk lah, nak! apa Daniel memperlakukan mu dengan buruk?!" Seru Nenek Wenda yang bersikap di luar ekspektasi Sandra maupun Daniel.


"Ja...jadi Nenek menyukainya kan?!" Tanya Daniel meyakinkan.


"Emm... entahlah! tapi dari segi penampilannya, Nenek cukup suka! dia sangat manis dan terlihat elegan meski menggunakan aksesoris yang sederhana!" Kritik Nenek Wenda.


"Terimakasih, Nek! Nenek terlalu berlebihan, padahal saya ini hanya seorang pem... aww!" Sahut Sandra di akhiri pekikan, Karana Daniel mencubit punggung tangannya yang berada di bawah meja.

__ADS_1


"Seorang pem... apa maksud mu? kenapa kau kau juga menjerit barusan, apa kau menginjak sesuatu yang tajam, kah?!" Cecar Nenek Wenda.


"Maksudnya seorang pemeran laga, Nek! iya! dia ini seorang artis!" Jawab Daniel asal.


Membuat Sandra memberikan tatapan menusuk ke arahnya. Bisa-bisanya pria itu menyebutkan dia artis. Bagaimana jika Neneknya bertanya hal-hal lainnya lagi. Tentu Sandra akan kesulitan untuk menjawabnya nanti, pikir Sandra.


"Daras Tuan bo*oh! kenapa dia bilang aku artis, sih! memangnya tidak ada pekerjaan yang lain apa yang sedikit masuk akal? bagaimana jika Nenek kembali bertanya hal yang tidak aku ketahui! haduh... habislah riwayat ku!" Rutuk Sandra dalam hatinya mengeluh.


"Benarkah?! apa benar kau seorang artis?! wah... berarti kau pandai berakting, dong?!" Tutur Nenek Wenda.


"I...iya Nek," Jawab Sandra ragu. Perasaannya kian tak tenang. Entah harus bersikap bagaimana lagi menghadapai Nenek majikannya itu.


"Benar Nek! bahkan saat ini pun aku sedang berakting jadi kekasih palsu cucu mu! huaaa... 😭 Ibu, maafkan Sandra yang sudah berani berbohong!" Batin Sandra.


"Bagaimana kalau kau menunjukkan bakat mu itu pada Nenek, sekarang!" Seru Nenek Wenda.


"Se...sekarang, Nek?" Ucap Sandra terbata.


"Iya, sekarang! apa kau keberatan?! padahal Nenek sangat senang loh jika kau mau sedikit menunjukkan bakat artis mu itu!" Tutur Nenek Wenda yang membuat kepala Sandra semakin pening dan pusing.


"Huaaaa.... kenapa nasibku begitu aneh sih!" Rutuk Sandra dalam hatinya.


"Nek! sebaiknya jangan sekarang, ya! Sandra pasti masih lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh! sebaiknya kita makan dulu saja sekarang! kebetulan kami belum makan siang sejak tadi, apa Nenek tidak ingin memberi kami hidangan terenak yang Nenek selalu buat?!" Sahut Daniel buka suara, berusaha membujuk, agar Sandra bisa lolos dari keinginan sang Nenek.


"Hm... kau benar, aku sampai lupa untuk menjamu kalian, sebenar! Sera... tolong ambilkan masakan yang sudah aku buat tadi!" Seru Nenek Wenda.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘😘😘.


__ADS_2