
Kembali ke cerita Sandra dan Daniel.
Tepat pukul 10.30. Sandra berpamitan pada Mili. Karena, mulai malam itu Sandra berhenti bekerja dari Restoran juga klub malam.
"Mil, terimakasih ya sudah membantuku selama ini, aku benar-benar sangat beruntung bisa mengenal sahabat sebaik dirimu, aku... pamit, ya!" Tutur Sandra seraya memeluk Mili.
"Hik...hik... hati-hati ya San, hubungi aku jika kau butuh bantuan!" Isak Mili melepas kepergian sang sahabat.
"Pasti, Mil! kau jaga diri baik-baik ya!" Ucap Sandra seraya mengusap sebelah lengan atas Mili.
"Hei! kenapa lama sekali?! cepatlah! aku sudah ingin istirahat sekarang!" Tegur Daniel yang ternyata menunggu Sandra berpamitan pada sahabatnya.
"Iya, iya! bawel sekali sih! Mil aku pergi sekarang ya, doakan aku, semoga aku betah di tempat kerja baru! bye..." Ucap Sandra seraya melenggang meninggalkan sahabatnya yang masih berdiri mematung melihat kepergiannya.
Brug...
"Kenapa kau duduk di belakang? kau pikir aku supir mu ya! cepat pindah!" Gerutu Daniel.
Sandra menghela kasar nafasnya, mau tak mau dia turun kembali dari mobil Daniel dan menuruti ucapan majikan barunya itu. Perjalanan menuju apartemen Daniel tidak terlalu jauh, hanya butuh 20 menit untuk menujunya. Dan di sini lah mereka berada.
"Haist! dia malah tidur! pantas saja tadi sepi! sepertinya kaset butut nya kehabisan daya ya!" Tania sadar Daniel terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Entah ada magnet dari mana, wajahnya mulai mendekat menghampiri ceri merah milik Sandra. Semakin dekat, detak jantungnya semakin terpacu cepat tak beraturan.
"Astaga! ada apa dengan ku?! tidak mungkin kan, jika aku menyukai gadis cerewet ini?!" Gumam Daniel menarik kembali wajahnya yang sudah nyaris menyentuh ceri merah milik Sandra.
"Emm... kita sudah sampai ya, Tuan?! astaga! maaf, aku ketiduran, Tuan!" Tutur Sandra tersadar seraya menegakkan duduknya.
"Sudahlah, cepat turun! aku ingin segera istirahat sekarang!" Seru Daniel seraya membuka seat belt yang melindunginya saat berkendara.
Crekk...crekk...
Disaat bersamaan, Sandra terlihat kesulitan melepas seat belt yang melilitnya. Gadis itu terus berusaha hingga bercucuran peluh.
"Astaga! Tuan, apa seat belt mu rusak?! kenapa benda ini tak mau terbuka?!" Gusar Sandra seraya terus mencoba membuka seat belt yang masih terkait kokoh.
"Haist! kau memang kampungan, melepas seat belt saja tidak bisa! minggir!" Seru Daniel seraya mendekat, membantu Sandra membuka seat belt nya.
Otomatis, wajahnya kembali mendekat dengan wajah Sandra. Detak jantung yang baru saja terasa tenang pun, kini kembali berpacu cepat. Menabuh dengan kencang, seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Kenapa dengan detak jantungku? sudah lama aku tak seperti ini, terakhir kali aku merasakannya saat aku masih jatuh cinta pada Lusi! apa jangan-jangan... kali ini aku juga sedang jatuh cinta? tapi.... masa dengan gadis cerewet ini sih?!" Batin Daniel bermonolog.
__ADS_1
Ternyata, bukan hanya Daniel yang terserang debaran jantung yang berdisko. Sandra yang memang selalu mengagumi pria tampan pun merasakannya. Apa lagi, Daniel termasuk kriteria pria yang dia idamkan. Tampan, mapan dan jantan. 😁✌🏻
"Ya Tuhan, rasanya aku ingin sekali meraup bibirnya! kenapa dia terlihat begitu menggoda jika di lihat sedekat ini?!" Monolog Sandra dalam hatinya.
Ceklek...
"Sudah! turunlah, dan tolong bersihkan kamar ku terlebih dahulu!" Lirih Daniel begitu lembut dan manis. Tak seperti dirinya di beberapa menit yang lalu.
"Aih... kenapa dia semakin menggemaskan?! lalu... apa aku tidak salah dengar ya?! dia berkata lembut pada ku dan meminta tolong dengan manis!" Tutur Sandra dalam hatinya.
"Hei! kau mendengar ucapan ku, kan?!" Tegur Daniel kembali ke mode sebelumnya, dingin dan cuek.
"Yah... kembali ke mode awal deh!" Keluh Sandra seraya menghela nafasnya.
Tanpa menjawab, Sandra segera turun dari mobil Daniel dan melangkah menuju lift. Setelah menanyakan letak apartemen Daniel. Sandra pun menekan dua tombol angka yang berjejer rapi sesuai lantai yang diberitahu Daniel.
Tiba di depan pintu, Daniel memberitahu password apartemennya. Agar Sandra bisa keluar masuk tanpa harus bertanya lagi padanya.
Ceklek... tittt....
Pintu apartemen Daniel pun terbuka lebar setelah pria itu memasukan password apartemennya. Seketika, kedua netra Sandra membulat takjub, memindai sekeliling isi apartemen bos barunya itu.
"Ya Tuhan, aku tidak yakin bisa bertahan bekerja di sini! apa lagi, jika dia terus tinggal! bisa-bisa otakku tercemas oleh tubuh profesional nya!" Batin Sandra.
"Hei, kenapa kau suka sekali melamun?! cepat bersihkan kamar ku! ganti spreinya dan padamkan lampunya jika sudah selesai, aku akan mandi dulu sekarang! kau bisa bekerja cepat, bukan?!" Tutur Daniel seraya membuka pintu kamarnya dan melenggang ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu.
"Hem... apa pria kaya seperti itu semua ya!" Dumel Sandra yang tak ayal melangkah masuk juga ke kamar Daniel dan mulai membersihkannya.
Beruntung, Sandra memang terbilang cekatan dalam bekerja. Meski kadang dia suka ceroboh, namun hasil kerjanya selalu memuaskan. Seperti saat ini, dalam hitungan menit saja, tempat tidur Daniel sudah di sulap menjadi bersih dengan sprei baru yang Sandra pasangkan.
"Selesai! hm... kalau cuman membersihkan begini sih, sangat mudah bagiku! eh... apa itu balkon ya?!" Gumam Sandra seraya menghampiri pintu kaca yang menghubungkan kamar Daniel dengan balkon.
Sejak kecil, Sandra sangat menyukai melihat pemandangan. termasuk pemandangan kota di malam hari dari ketinggian. Biasanya dia akan melihat gemerlap lampu gedung-gedung tinggi di Kota dari atas bukit bersama mendiang Ayahnya.
Jika sudah ingat moment itu, Sandra selalu kembali murung dan bersedih. Betapa bahagianya masa kecil Sandra dengan sang Ayah.
"Ayah! Sandra rindu Ayah! Sandra saat ini sedang melihat pemandangan Kota malam hari, Yah! di sini benar-benar indah!" Isak Sandra seraya bergumam.
Sementara itu, Daniel yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandinya dan mendapati lampu kamarnya masih menyala.
"Haist! apa dia tidak dengar ya tadi, aku kan sudah bilang untuk mematikan lampunya!" Ucap Daniel seraya menekan saklar lampu kamarnya.
__ADS_1
Daniel memang terbiasa istirahat dengan lampu padam. Jika sedikit saja ada cahaya, sudah di pastikan tidurnya tidak akan nyenyak.
"Ha... sebaiknya aku kembali ke dalam dan menanyakan kamarku pada Tuan... astaga! kenapa aku tak menanyakan nama dia ya?!" Gumam Sandra beranjak masuk kembali ke kamar Daniel yang sudah gelap gulita.
Sandra sempat terkejut saat mendapati ruangan yang baru saja dia bersihkan gelap gulita. Perlahan, langkahnya dia ayunkan menelusuri jalan demi keluar dari kamar itu. Hingga tanpa sengaja, kaki Sandra terkantuk kaki tempat tidur dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Brukkk...
"Awww.... stttt!" Pekik seorang pria yang begitu Sandra kenali suaranya.
"Astaga!" Ucap Sandra.
Trek... seketika lampu kamar pun menyala semua.
"Aaaaaaa! dasar mesum! cepat singkirkan tangan mu itu, Tuan cab*ul!" Jerit Sandra saat kedua tangan Daniel mendarat sempurna di kedua bola kembarnya.
"A... apa?! hei, kau yang mesum! kenapa kau tiba-tiba masuk ke kamar ku?!" Sahut Daniel seraya membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk.
Keduanya sibuk merapihkan pakaiannya. Untungnya Sandra kali ini sudah berganti pakaian dengan kaos lengan pendek saat sebelum pulang dari Restoran tadi.
Setelah disara rapih, keduanya nampak bersikap canggung. Sandra yang memang sudah lelah, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan, apa aku boleh tidur di kamar sebelah?! sepertinya hanya kamar itu yang tersisa kosong!" Tutur Sandra.
"Terserah kau! sebaiknya kau cepat keluar sekarang, menganggu istirahatku saja!" Gerutu Daniel seraya merebahkan kembali tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi pucuk kepalanya.
Sandra menghela kasar nafas sebelum beranjak keluar kamar Daniel. Saat langkahnya tiba di mulut pintu, Danil menyeru agar Sandra mematikan semua lampu kamar Daniel.
"Hei! matikan lampunya sebelum kau keluar!" Ucap Daniel menyeru.
.
.
.
.
.
Mohon maaf baru up guys 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 hari ini Ma Sya Allah banget di RL... jangan lupa kasih dukungan terbaiknya buat Mommy ya, see you next episode 😘😘😘
__ADS_1