Jodoh Dokter Cantik

Jodoh Dokter Cantik
Eps 32.


__ADS_3

"Vik! sebenarnya aku ingin mengajukan proposal, padamu! aku harap kau bisa mempertimbangkannya setelah melihat profil usaha baru ku ini!" Tutur Jenny.


"Aku sedang malas membahas pekerjaan saat ini, Jenn! sebaiknya kau datang ke perusahaan ku saja, besok!" Sahut Viky yang tengah asik berbalas pesan dengan istrinya.


"Haist! sia-sia saja kita mengundangnya datang kemari!" Gerutu Kenny seraya merangkul bahu istrinya yang dudu merapat di sampingnya.


"Sudahlah! mungkin memang sebaiknya aku datang ke perusahaannya besok!" Sahut Jenny seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Sepulang dari kediaman Kenny, Viky berniat mengecek CCTV rumahnya di ruangan kerjanya sendiri. Pria tampan blasteran itu benar-benar sudah tidak sabar ingin segera menangkap pelaku teror yang menimpa istrinya.


Ceklek...


"Bi! tolong buatkan kopi ya! saya mau mengecek sesuatu di ruang kerja!" Seru Viky.


"Baik Tuan! apa mau sekalian dengan cemilannya?" Sahut Bibi Nina seraya bertanya.


"Tidak perlu, Bi! aku masih kenyang!" Ucap Viky melenggangkan langkahnya menuju ruang kerjanya.


Di ruangan berukuran 3 X 4, Viky kini tengah menatap layar laptopnya dengan serius. Viky mencoba mencari file penyimpanan video CCTV rumahnya pada tanggal kejadian naas yang menimpa istrinya.


"Kenapa filenya tidak ada?! astaga! ini kan buka flashdisk milik ku?! pantas saja semua filenya kosong!" Rutuk Viky frustasi setelah meneliti flashdisk yang dia gunakan, ternyata tak ada namanya di salah satu sisi flash drive nya.


"Sepertinya aku kecolongan lagi! siapa yang sudah mempermainkan ku seperti ini?! lihat saja! aku akan memberikannya hukuman yang paling berat jika tertangkap nanti!" Gumam Viky berambisi.


Di lain tempat, Seorang pria bertubuh kekar dengan banyak tatto di lengan dan tubuhnya, tengah menelepon bos besarnya. Pria itu melaporkan jika dia sudah berhasil mendapatkan barang bukti yang bisa menyeret mereka jika sampai ketahuan oleh Viky. Ya! pria bertubuh kekar tersebut adalah pria misterius yang meneror Lusi beberapa hari lalu.


"Bos, saya sudah mendapatkan flashdisk nya! untung saja, saya tepat waktu menukarnya barusan!" Ucap pria kekar itu seraya tersengal mengatur nafasnya.


"Bagus! kalau begitu kau berikan padaku, besok! aku sendiri yang akan memusnahkan buktinya, hahaha!" Kelakar Siren yang tak lain bos besar sang pria kekar.


"Baik bos!" Sahut pria kekar mengakhiri sambungan teleponnya.


Keesokan harinya di perusahaan Viky. Penampilan pria tampan blasteran itu tampak sangat kusut. Harapannya semalam yang ingin mengungkap pelaku teror akhirnya harus kandas. Viky benar-benar sangat kesal karena tidak bisa mencari petunjuk tentang orang yang mencelakai istrinya.


"Tuan, hari ini jadwal pertemuan anda dengan Nona Siren! apa anda ingin mengundur nya?!" Tutur Asisten Rei.


"Ha... setelah itu apa lagi?!" Tanya Viky yang masih asik memejamkan kedua matanya di atas kursi kebesarannya seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.

__ADS_1


"Jadwal anda hari ini cukup senggang, Tuan! mungkin jadwal lainnya hanya menyambut Nyonya Kenny!" Ucap Rei memeriksa kembali jadwal Viky yang memang tak terlalu padat dua hari ini.


"Hm... kalau begitu kau persiapkan saja untuk menjamu Jenny, nanti! masalah Siren biar aku saja yang mengaturnya sendiri!" Seru Viky beranjak membenarkan duduknya dan meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja kerjanya.


Viky menggulir layar ponselnya dan membuat panggilan telepon pada kontak milik Siren. Dia sangat ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini.


Setelah sepakat memutuskan pertemuannya, Viky kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, namun kali ini matanya masih setia menatap bernada pipih canggih miliknya. Viky memilih menghubungi sang istri via video call. Baru sehari di tinggalkan rasa rindunya kian menumpuk untuk sang istri.


"Hm... kau mengganggu tidur ku, Ky! di sini masih malam!" Gumam Lusi dengan suara khas bangun tidurnya setelah menggeser gambar hijau di layar ponselnya.


"Maafkan aku, sayang! tapi aku benar-benar sangat merindukanmu! aku susul kau ke sana ya!" Tutur Viky.


"Kau kan masih belum menemukan siapa pelakunya! jadi kau tidak boleh menyusul ku kemari!" Sahut Lusi dengan mata yang masih terpejam. Meski begitu, dia masih menyahuti panggilan telepon dari suaminya.


"Tapi aku sangat merindukanmu, sayang! aku ke sana ya! atau kau yang pulang!" Rengek Viky.


"Hm... aku ngantuk, Ky! aku mau tidur lagi! bye!" Gumam Lusi seraya memutuskan sambungan telepon.


"Astaga! dia benar-benar membuatku gila menahan rindu! bahkan saat tidur terpejam begitu pun wajahnya semakin terlihat cantik! sayang... aku pasti akan menangkap pelakunya secepatnya! kau tunggulah aku, di sana!" Batin Viky bermonolog.


Tepat pukul 12 siang. Viky di temui Jenny di ruangannya. Awalnya dia hendak makan siang di luar, namun ternyata istri sepupunya itu datang tanpa tangan kosong. Jenny yang sangat pengertian membawakan makan siang untuk Viky setelah sebelumnya dia menitipkan juga jatah makan siang suaminya pada supirnya.


"Siang! aku ingin bertemu Tuan Viki Misael, apa beliau ada?!" Tutur Jenny sopan.


"Apa anda Nyonya Kenny Alvaro?! jika benar, Tuan Viky sudah menunggu anda di ruangannya!" Sahut resepsionis.


"Benar! kalau begitu apa aku boleh ke ruangannya sekarang?!" Seru Jenny.


"Tentu, Nyonya! mari saya antar!" Sahut resepsionis yang sudah Rei instruksikan untuk mengantar Jenny ke ruangan Viky.


Jenny dan resepsionis pun memasuki lift untuk menuju ruangan Viky. Kebetulan ruangannya berada di lantai 9, Lantai tertinggal di gedung tersebut.


Setibanya di depan pintu ruangan Viky, ekor mata Jenny menangkap sosok yang dia kenali beberapa hari ini. Jenny berniat menyapanya, namun sepertinya harus dia urungkan. Di lihat dari sudut dia memandang saat ini, sepertinya orang yang hendak Jenny sapa itu tengah berbincang serius dengan bawahannya. Sehingga membuat Jenny mengurungkan niatnya, dan segera memasuki ruangan Viky.


Tok...tok...tok...


"Masuk!" Seru Viky dari dalam ruangannya.

__ADS_1


Ceklek...


"Tuan, Nyonya Kenny sudah tiba, beliau sudah ada di depan ruangan anda sekarang!" Tutur resepsionis memberi kabar.


"Ke apa kau tak langsung mengajaknya masuk, cepat suruh dia kemari!" Seru Viky seraya beranjak untuk menyambut Jenny.


"Baik, Tuan!" Sahut resepsionis seraya memanggil Jenny dan memintanya masuk seperti perintah atasannya.


"Nyonya, maaf jadi menunggu! silahkan masuk! Tuan sudah menunggu anda di dalam!" Ucap resepsionis.


"It's ok! terimakasih ya sudah mengantar ku sampai sini!" Sahut Jenny seraya melenggang masuk ke dalam ruangan Viky.


"Sama-sama Nyonya, saya permisi!".


Ceklek...


"Kenapa kau masih mengobrol di sana, ayo masuk!" Tegur Viky yang ternyata menyusul Jenny ke depan ruangannya.


"Haist! kau benar-benar tidak sabaran, Vik! ini... aku membawakan masakan untukmu! kau pasti belum sempat makan siang, kan?!" Sahut Jenny seraya menyerahkan paper bag berisi masakan yang dia bawa dari rumahnya.


"Wah... pas sekali, aku memang sudah sangat lapar sekarang!" Ucap Viky seraya membawa paper bag yang Jenny berikan ke dalam ruangannya.


"Emm... wanginya sangat lezat, kita berbincang sambil makan saja ya! aku benar-benar sudah sangat lapar!" Seru Viky.


"Terserah kau saja, Vik! toh aku juga tidak akan kemana-mana lagi ko setelah dari sini!" Sahut Jenny yang memilih meraih majalah seputar bisnis yang tergeletak di atas meja tamu ruangan Viky.


Viky tak menyahut lagi, dia seakan lupa jika maksud Jenny berkunjung ke perusahaannya hari itu untuk membicarakan tentang proposal bisnis terbaru Jenny.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode guys...


Jangan lupa like, komen, gift, dan vote nya ya ❤️


__ADS_2