
Siang harinya, Sunny yang masih kesal atas penolakan dan perlakuan Daniel pun memilih menjenguk sang Kakak di balik jeruji besi. Jika sudah begini, dia pasti akan mengandalkan Kakak tirinya itu. Meski saat ini Siren sudah mendekam di penjara, namun kuasanya masih sangat bebas. Bahkan setelah perusahaannya di tutup. Dia masih memiliki banyak anak buah yang dapat di andalkan.
"Kakak!" Rengek Sunny setelah duduk berhadapan di ruangan temu.
"Ada apa lagi?!" Tanya bernada tak kalah kesal pun semakin membuat Sunny frustasi.
"Daniel, Kak! dia menolak hadir di acara jumpa pers! bahkan dia juga sudah berani memasukkan wanita lain ke apartemennya!" Rengek Sunny semakin frustasi.
"Dasar bo*doh! seharusnya kau tidak gampang menyerah seperti ini! kau bisa memanipulasi hasil USG mu, kan! pria seperti Daniel pasti akan kukuh jika tau anak itu adalah anak kandungnya!" Tutur Siren.
"Itu sudah aku coba, Kak! dia bahkan mengingat setiap pergumulan kita yang selalu menggunakan pengaman! aku harus bagaimana sekarang?! karir ku benar-benar di pertaruhkan saat ini!" Rengek Sunny.
"Hm... aku punya ide!" Siren membisikkan ide jahatnya pada sang adik. Setelah di rasa Sunny mengerti, senyum licik pun terbentuk menyeramkan di bibir super model itu.
"Terimakasih, Kak! kau memang yang terbaik!" Ucap Sunny melempar senyum pada Kakak tirinya.
"Lantas, apa orang suruhan ku itu sudah berhasil, sekarang?!" Tanya Siren seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sudah, Kak! tapi sepertinya pasangan pasutri itu tidak bisa di pisahkan! mereka sudah terlihat akur lagi sekarang!" Keluh Sunny melaporkan.
"Dasar tidak becus! awas saja nanti, jika aku sudah berhasil keluar dari penjara ini, aku akan membuat mereka berpisah selamanya!" Tutur Siren dengan seringai menyeramkan di wajahnya.
"Ka...kalau begitu, aku pamit sekarang ya Kak, aku akan kembali lagi dua hari mendatang! kau baik-baik lah di sini!" Sahut Sunny seraya beranjak.
Jika sudah melihat seringai itu muncul, Sunny pasti akan segera pergi meninggalkan Kakak nya. Pasalnya, dia sudah sangat hafal dengan tabiat buruk sang Kakak, yang akan menghalalkan segala cara demi mewujudkan keinginannya.
Tepat pukul 12.00 siang, Siren mendapat jatah makanan dari petugas sel. Dengan segala kelicikannya, Siren mulai merayu seorang Polisi yang bertugas mengantarkan makanannya itu.
Prankkk...
piring yang seharusnya Siren terima pecah berserakan di atas lantai. Seketika dia berakting panik dan berusaha membersihkan pecahan piring yang baru saja dia jatuhkan.
__ADS_1
"Haist! lain kali berhati-hatilah! aku akan kembali dengan alat pembersih!" Ucap Polisi yang berjaga.
"Biar aku bersihkan sendiri saja, Tuan! awww..." Pekik Siren saat jemarinya tergores pecahan piring.
"Ya Tuhan, darahmu mulai menetes! aku paling tidak tahan jika melihat darah mengalir seperti itu, kau tungg..." Tutur Polisi yang bernama Rendi tercekat kala Siren malah menjatuhkan tubuhnya di samping Rendi.
"Astaga! apa dia juga fobia darah ya?!" Gumam Rendi seraya mengangkat tubuh Siren ke arah tempat tidurnya di dalam sel khusus itu.
Setelah membaringkan tubuh Siren yang berpura-pura pingsan, Rendi di buat meneguk saliva nya susah payah saat Siren dengan sengaja menggeliat dan menyingkap baju atasan tahanannya. Membuat kulit putih perutnya terekspos bebas di depan mata Rendi.
Bahkan tak hanya sampai di situ, Siren yang sebelumnya sudah membuka dua kancing atas baju nya pun, mulai menyembulkan buah kembar miliknya yang memang lumayan besar dan berisi. Membuat Rendi semakin tak karuan menahan has*ratnya.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?! tubuhnya benar-benar juara! apa aku eksekusi saja ya?! toh di ruangan ini tidak ada siapa pun lagi selain dia dan aku! CCTV juga hanya di pasang di luar pintu, jadi rasanya aku akan aman!" Gumam Rendi yang membuat Siren bersorak dalam hatinya, karena misinya sudah berjalan lancar.
Entah setan apa yang merasuki Rendi. Perwira Polisi itu, dengan brutalnya mulai melancarkan aksi menyalurkan has*rat tak semestinya. Di saat Siren sudah dia telan*jangi. Rendi pun siap memasukkan senjatanya yang sudah menegang sedari tadi.
Hei, ini bukan salah ku ya! kau yang lebih dahulu menggoda ku!" Gumamnya seraya membobol gua Siren.
"Tu... Tuan! apa... ah... yang kau lakukan!" Ucap Siren di selingi des*ahan dari hasil permainan Rendi menarik ulur senjanya.
"Aku sedang memberimu hukuman! salah mu sendiri memiliki tubuh sebagus ini! apa lagi, kau sangat nik*mat!" Lenguhan laknak itu semakin ingin disuarakan, namun sekuat tenaga, Rendi menahannya. Dia tidak ingin ketahuan sebelum pacuannya selesai.
Siren yang juga menikmati kegiatan laknat tersebut ikut meracau. Namun lagi-lagi mulutnya di lum*at oleh bibir Rendi dengan ganas.
"Tuan, kau begitu memuaskan! aku benar-benar sangat menikmatinya!" Racau Siren dengan suara lirih.
"Kau benar-benar menyukainya ya! baguslah! itu artinya, aku tidak memaksamu!" Ucap Rendi merasa menang.
"Apa kau menyukai ku?! aku selalu kesepian setelah mendekam di penjara ini, jika kau mau! kau boleh melakukannya kapan pun kau mau di sini, aku benar-benar sangat terhibur dan menikmatinya!" Lirih Siren yang semakin membuat Rendi bersemangat memacu senjatanya.
Hingga beberapa menit kemudian, keduanya sama-sama mencapai pelepasan. Peluh yang membanjiri tubuh mereka pun kian menyatu saat Rendi menidurkan tubuhnya di atas tubuh Siren tanpa melepas senjata pamungkasnya.
__ADS_1
"Sayang sekali, aku harus kembali bertugas, sekarang! aku akan kemari lagi setiap hari untuk hukuman mu ini!" Tutur Rendi setelah bangkit dan menggunakan pakaian dinasnya kembali. Meninggalkan Siren yang masih polos di atas tempat tidurnya dengan raut wajah yang tak terbaca.
Hari-hari berikutnya, Siren dan Rendi semakin menggila. Mereka bahkan sampai tak mengenal tempat untuk melakukannya. Kadang saat Siren meminta ijin ke toilet yang berada di luar ruang tahanannya, Rendi mengikutinya hingga ke dalam toilet dan mengulang perbuatan laknatnya itu lagi dan lagi.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah gedung jumpa pers yang sebentar lagi akan menggelar sesi tanya jawab terkait kehamilan sang super model. Dengan anggunnya, Sunny duduk di hadapan para pemburu berita yang siap merekam semua penuturannya.
Kali ini Sunny di temani sang Manager yang tak lain Ayah dari si jabang bayi yang sesungguhnya. Wajahnya dibuat terlihat sedih dan memilukan semenjak datang di gedung tersebut.
"Nona Sunny, apa kita sudah bisa mulai?!" Tanya salah satu Wartawan yang sial meliput.
"Tolong tunggu sebentar lagi, saya masih berharap jika Ayah dari bayi ku ini mau hadir!" Tutur Sunny seraya terisak.
"Jika boleh kami tau, siapa sebenarnya Ayah bayi anda ini, Nona?!" Satu pertanyaan langsung melayang dari sekian banyak Wartawan yang ada. Membuat mereka milih memulai sesi tanya jawab itu tanpa mau menunggu orang yang Sunny harapkan kehadirannya.
Bukan menjawab, Sunny malah membuka sebuah amplop putih yang bertuliskan nama Rumah Sakit ternama di Kotanya. Setelah lembaran dalam amplop putih itu berhasil di keluarkan, Sunny membentangkan nya dan memperlihatkan isi yang di yakini hasil pemeriksaan USG dan DNA milik si jabang bayi yang dia kandung.
Semua awak media yang tengah meliput mencoba memperbesar lensanya untuk memperjelas isi tulisan dari selembar kertas hasil tes tersebut.
"Astaga! ternya Tuan Daniel benar-benar Ayah dari bayi Nona Sunny!" Ucap salah satu Wartawan.
.
.
.
.
.
Udah buka puasa kan guys, maaf dari kemarin ngajakin traveling mulu nih 😁✌🏻
__ADS_1
Jangan lupa dukungan terbaiknya ya guys, see you next episode... 😘😘😘